Di bawah komando pelatih anyar Louis van Gaal, MU optimis menyambut musim
baru dengan kedatangan dua penggawa anyar, Luke Shaw dan Ander
Herrera. Prestasi Setan Merah terbilang buruk pada musim lalu karena tidak bisa
mengikuti kompetisi Liga Champions pada musim ini.
Berikut jadwal lengkap Manchester United musim 2014/2015:
Sabtu, 16/08/2014 : Man United v
Swansea City (H)
Sabtu, 23/08/2014 : Sunderland v Man
United (Stadium of Light)
Sabtu, 30/08/2014 : Burnley v Man
United (Turf Moor)
Sabtu, 13/09/2014 : Man United v
Queens P Rangers (H)
Sabtu, 20/09/2014 : Leicester City v
Man United (Stadion King Powers)
Sabtu, 27/09/2014 : Man United v
West Ham (H)
Sabtu, 04/10/2014 : Man United v
Everton (H)
Tampilkan postingan dengan label spirit dan sport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spirit dan sport. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Agustus 2014
Minggu, 13 Juli 2014
Membangun sepakbola Jerman
Deutchland, Deutschland uber alles, uber
alles in der welt
Jerman di atas segalanya, segala yang
ada di dunia.
Demikian baris pertama dan kedua dalam bait pembuka lagu kebangsaan Jerman,
"Das Lied der Deutschen".
Dahulu, syair tersebut digubah untuk menggugah nasionalisme guna
menyatukan suku-suku yang ada di Jerman. Tapi, syair tersebut sempat juga
disalahartikan oleh Hitler untuk menghalalkan ekspansi-ekspansi yang
dipimpinnya. Maka setelah Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, bait pertama
dan kedua pada lagu tersebut memang tak lagi dicantumkan dalam national
anthem Jerman.
Tapi makna bait itu tak mudah dihilangkan. Bahkan, masih saja terpancang dalam-
dalam di benak insan sepakbola Jerman. Tak heran jika mereka lalu terbiasa untuk
selalu di atas segalanya, dan risih jika prestasi timnas terpuruk. Maka
terjerembab dalam kemerotosan pun tak boleh dilakukan terlalu lama. Mesti
bergerak cepat untuk melakukan perubahan besar-besaran pada
timnasnya.
alles in der welt
Jerman di atas segalanya, segala yang
ada di dunia.
Demikian baris pertama dan kedua dalam bait pembuka lagu kebangsaan Jerman,
"Das Lied der Deutschen".
Dahulu, syair tersebut digubah untuk menggugah nasionalisme guna
menyatukan suku-suku yang ada di Jerman. Tapi, syair tersebut sempat juga
disalahartikan oleh Hitler untuk menghalalkan ekspansi-ekspansi yang
dipimpinnya. Maka setelah Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, bait pertama
dan kedua pada lagu tersebut memang tak lagi dicantumkan dalam national
anthem Jerman.
Tapi makna bait itu tak mudah dihilangkan. Bahkan, masih saja terpancang dalam-
dalam di benak insan sepakbola Jerman. Tak heran jika mereka lalu terbiasa untuk
selalu di atas segalanya, dan risih jika prestasi timnas terpuruk. Maka
terjerembab dalam kemerotosan pun tak boleh dilakukan terlalu lama. Mesti
bergerak cepat untuk melakukan perubahan besar-besaran pada
timnasnya.
Rabu, 11 Desember 2013
Rekor Ryan Giggs tak akan 'pernah terpecahkan pemain lain
Rekor Ryan Giggs, yang genap berusia 40 tahun hari Jumat (29/11), diperkirakan
tidak akan pernah terpecahkan.
Keyakinan ini disampaikan Denis Irwin, yang pernah selama 12 tahun bermain
bersama Giggs di Manchester United. Sejak bergabung dengan United pada
1987, Giggs ikut mengantarkan klub ini menjuarai berbagai turnamen dan
kompetisi.
Di antaranya 13 gelar juara Liga Primer, empat Piala FA, dan dua gelar juara Liga
Champions Eropa.
Giggs ikut pula mengantarkan kemenangan United 5-0 atas Bayer
Leverkusen di Liga Champions pada Rabu malam (27/11).
Ini adalah pertandingan Giggs yang ke-953 bagi United.
"Jumlah medali yang ia terima tidak akan pernah bisa dipecahkan (oleh pemain
lain)," kata Irwin kepada kantor berita Press Association.
"Jumlah pertandingan Giggs untuk United? Mungkin perlu waktu sebelum
bisa ditandingi pemain lain," tambahnya.
"Apa yang ia lakukan sungguh luar biasa. Ia masih menunjukkan permainan yang
prima di usia senja bagi seorang pemain bola. Padahal klub yang ia bela bukan
klub sembarangan," jelas Irwin. Keyakinan yang sama soal rekor Giggs
juga pernah disampaikan Sir Alex Ferguson.
tidak akan pernah terpecahkan.
Keyakinan ini disampaikan Denis Irwin, yang pernah selama 12 tahun bermain
bersama Giggs di Manchester United. Sejak bergabung dengan United pada
1987, Giggs ikut mengantarkan klub ini menjuarai berbagai turnamen dan
kompetisi.
Di antaranya 13 gelar juara Liga Primer, empat Piala FA, dan dua gelar juara Liga
Champions Eropa.
Giggs ikut pula mengantarkan kemenangan United 5-0 atas Bayer
Leverkusen di Liga Champions pada Rabu malam (27/11).
Ini adalah pertandingan Giggs yang ke-953 bagi United.
"Jumlah medali yang ia terima tidak akan pernah bisa dipecahkan (oleh pemain
lain)," kata Irwin kepada kantor berita Press Association.
"Jumlah pertandingan Giggs untuk United? Mungkin perlu waktu sebelum
bisa ditandingi pemain lain," tambahnya.
"Apa yang ia lakukan sungguh luar biasa. Ia masih menunjukkan permainan yang
prima di usia senja bagi seorang pemain bola. Padahal klub yang ia bela bukan
klub sembarangan," jelas Irwin. Keyakinan yang sama soal rekor Giggs
juga pernah disampaikan Sir Alex Ferguson.
Senin, 02 Desember 2013
Kegiatan sie Olahraga SP RTMM SPSI MA: Senam Aerobik
Tiap hari minggu Sie Olah raga PUK SP RTMM SPSI MA mengadakan kegiatan rutin senam Aerobik yang tempatnya di Parkiran Sepeda motor pabrik. Rekan-rekan wanita yang rata-rata adalah ibu-ibu muda sangat antusias mengikuti Kegiatan ini, untuk menjaga kebugaran tubuh dan... ehemm... untuk menjaga bentuk tubuh juga...sekalian Refreshing setelah seminggu penat bekerja.
Pengertian Senam Aerobik
Pengertian Senam Aerobik
Senin, 28 Oktober 2013
Hasil dan Klasemen Akhir Liga Inggris 2012/2013
– Kemenangan Chelsea atas Everton 2-1 pada laga pamungkas Liga
Premier Inggris di Stamford Bridge, Minggu (19/5/2013) malam WIB, kian
memantapkan posisinya di urutan ketiga.
Dengan kata lain, Chelsea otomatis akan tampil di Liga Champions musim depan.
Sementara, Arsenal, yang pada laga lainnya, meraih kemenangan tipis 1-0 atas
Newcastle United di St James Park, mengakhiri musim ini di posisi keempat.
The Gunners, julukan Arsenal, akan menjalani Liga Champions musim depan,
namun harus melalui babak play off sebelum tampil di fase grup.
Kemenangan Arsenal membuatnya menepati urutan keempat dengan torehan
73 poin. Sehingga, meski Tottenham Hotspur, yang pada laga yang
bersamaan, memenangi duelnya dengan Sunderland 1-0, harus menerima
kenyataan tetap berada di posisi kelima, tertinggal satu poin dari Arsenal. Posisi ini membuat Spurs, julukan Tottenham, lagi- lagi gagal tampil di Liga Champions dan
harus puas kembali tampil di kasta kedua Eropa, Liga Europa.
Berikut Hasil dan Klasemen Akhir Liga Inggris, Minggu (19/5/2013)
Chelsea 2-1 Everton
Liverpool 1-0 Queens Park Rangers
Manchester City 2-3 Norwich City
Newcastle United 0-1 Arsenal
Southampton 1-1 Stoke City
Swansea 0-3 Fulham
Tottenham Hotspur 1 – 0 Sunderland
West Bromwich Albion 5-5 Manchester United
\West Ham United 4 – 2 Reading
Wigan Athletic 2-2 Aston Villa
Klasemen Akhir Liga Inggris
Standings P W D L F A Pts
C1 Manchester United 38 28 5 5 86 43 89
2 Manchester City 38 23 9 6 66 34 78
3 Chelsea 38 22 9 7 75 39 75
————————-
4 Arsenal 38 21 10 7 72 37 73
————————-
5 Tottenham Hotspur 38 21 9 8 66 46 72
————————-
6 Everton 38 16 15 7 55 40 63
7 Liverpool 38 16 13 9 71 43 61
8 West Bromwich Albion 38 14 7 17 53 57 49
9 Swansea City 38 11 13 14 47 51 46
10 West Ham United 38 12 10 16 45 53 46
11 Norwich City 38 10 14 14 41 58 44
12 Fulham 38 11 10 17 50 60 43
13 Stoke City 38 9 15 14 34 45 42
14 Southampton 38 9 14 15 49 60 41
15 Aston Villa 38 10 11 17 47 69 41
16 Newcastle United 38 11 8 19 45 68 41
17 Sunderland 38 9 12 17 41 54 39
————————-
R18 Wigan Athletic 38 9 9 20 47 73 36
R19 Reading 38 6 10 22 43 73 28
R20 Queens Park Rangers 38 4 13 21 30 60 25
Keterangan
P : Main, W: Menang, D : Seri, L: Kalah, F:
Memasukkan, A: Kemasukkan, Pts: Poin
Peringkat 1, 2, 3 Lolos ke Liga Champions,
Peringkat 4 Lalui Kualifikasi Liga
Champions, Peringkat 5 ke Liga Europa,
Peringkat 18, 19, 20 Degradasi ke Liga
Championship
Sumber : Reuters
Simak berita terkait : http://
digital.solopos.com/file/20052013/
Premier Inggris di Stamford Bridge, Minggu (19/5/2013) malam WIB, kian
memantapkan posisinya di urutan ketiga.
Dengan kata lain, Chelsea otomatis akan tampil di Liga Champions musim depan.
Sementara, Arsenal, yang pada laga lainnya, meraih kemenangan tipis 1-0 atas
Newcastle United di St James Park, mengakhiri musim ini di posisi keempat.
The Gunners, julukan Arsenal, akan menjalani Liga Champions musim depan,
namun harus melalui babak play off sebelum tampil di fase grup.
Kemenangan Arsenal membuatnya menepati urutan keempat dengan torehan
73 poin. Sehingga, meski Tottenham Hotspur, yang pada laga yang
bersamaan, memenangi duelnya dengan Sunderland 1-0, harus menerima
kenyataan tetap berada di posisi kelima, tertinggal satu poin dari Arsenal. Posisi ini membuat Spurs, julukan Tottenham, lagi- lagi gagal tampil di Liga Champions dan
harus puas kembali tampil di kasta kedua Eropa, Liga Europa.
Berikut Hasil dan Klasemen Akhir Liga Inggris, Minggu (19/5/2013)
Chelsea 2-1 Everton
Liverpool 1-0 Queens Park Rangers
Manchester City 2-3 Norwich City
Newcastle United 0-1 Arsenal
Southampton 1-1 Stoke City
Swansea 0-3 Fulham
Tottenham Hotspur 1 – 0 Sunderland
West Bromwich Albion 5-5 Manchester United
\West Ham United 4 – 2 Reading
Wigan Athletic 2-2 Aston Villa
Klasemen Akhir Liga Inggris
Standings P W D L F A Pts
C1 Manchester United 38 28 5 5 86 43 89
2 Manchester City 38 23 9 6 66 34 78
3 Chelsea 38 22 9 7 75 39 75
————————-
4 Arsenal 38 21 10 7 72 37 73
————————-
5 Tottenham Hotspur 38 21 9 8 66 46 72
————————-
6 Everton 38 16 15 7 55 40 63
7 Liverpool 38 16 13 9 71 43 61
8 West Bromwich Albion 38 14 7 17 53 57 49
9 Swansea City 38 11 13 14 47 51 46
10 West Ham United 38 12 10 16 45 53 46
11 Norwich City 38 10 14 14 41 58 44
12 Fulham 38 11 10 17 50 60 43
13 Stoke City 38 9 15 14 34 45 42
14 Southampton 38 9 14 15 49 60 41
15 Aston Villa 38 10 11 17 47 69 41
16 Newcastle United 38 11 8 19 45 68 41
17 Sunderland 38 9 12 17 41 54 39
————————-
R18 Wigan Athletic 38 9 9 20 47 73 36
R19 Reading 38 6 10 22 43 73 28
R20 Queens Park Rangers 38 4 13 21 30 60 25
Keterangan
P : Main, W: Menang, D : Seri, L: Kalah, F:
Memasukkan, A: Kemasukkan, Pts: Poin
Peringkat 1, 2, 3 Lolos ke Liga Champions,
Peringkat 4 Lalui Kualifikasi Liga
Champions, Peringkat 5 ke Liga Europa,
Peringkat 18, 19, 20 Degradasi ke Liga
Championship
Sumber : Reuters
Simak berita terkait : http://
digital.solopos.com/file/20052013/
Jumat, 25 Oktober 2013
El Clasico, dari Politik hingga Intrik Media di Spanyol
KOMPAS.com - Hampir dalam tiap ajang olahraga, selalu ada rivalitas menyertai. Di
arena balap Formula 1, dunia pernah menyaksikan Niki Lauda-James Hunt,
Ayrton Senna-Alain Prost hingga Michael Schumacher-Mika Hakkinen adu salip
menjadi juara dalam tiap grand prix.
Di ring tinju pun kita mengenal persaingan Muhammad Ali dan Joe Frazier.
Sementara di lapangan hijau, rasanya persaingan Barcelona dan Real Madrid
mewakili rivalitas yang setara dengan contoh-contoh itu.
Sejak pertemuan perdana kedua klub pada 1929 hingga terakhir pada 2 Maret
2013, rivalitas Barca dan Madrid telah mengalami transformasi. El Clasico -begitu
sebutan pertandingan ini- semula adalah simbol perlawanan bangsa Catalan
terhadap sentralisasi kekuasaan Jenderal Franco di ibu kota Madrid.
Perjalanan waktu menggeser laga kedua klub sebagai pertarungan memperebutkan klaim menjadi yang paling superior di negara Semenanjung Iberia itu. Beragam bumbu pun turut mewarnai adu sikut Blaugrana dan Los Blancos. Mulai dari rebutan pemain,
transfer kontroversial, hingga persaingan manajer dan pemain terbaik.
Embrio Franco
Membahas rivalitas Barca-Madrid, sulit untuk tidak memulainya dari Francisco
Franco, eks diktator Spanyol yang berkuasa sejak 1939 hingga meninggal
pada 1975. Seusai Perang Saudara di Spanyol, Barcelona menjadi salah satu
sasaran manuver Franco dalam memulai sentralisasi kekuasaan.
Setelah mengeksekusi presiden Barcelona Josep Sunyol pada 1936, Franco
'mengacak-acak' internal klub Barcelona. Ia menempatkan salah satu tangan
kanannya sebagai presiden klub, mengganti lambang klub Barcelona, menghapus simbol senyera, serta mengganti nama Barcelona dengan Barcelona Club de Futbol yang lebih
bernuansa Spanyol. Warga Catalan menjadikan Barcelona dan Stadion Les Corts sebagai bagian dari pernyataan politik melawan Franco.
Bukunya El Clasico: Barcelona vs Real Madrid: Football's Greatest Rivalry, karya
jurnalis Richard Fitzpatrick menggambarkannya.
Fitzpatrick mengutip pernyataan Joan Maria Pou, seorang penyiar radio Catalan,
untuk menuturkan bagaimana menjadi socio (anggota) klub Barca merupakan
sikap politik bagi warga Catalan.
"Ayahku lahir pada 2 Januari 1945. Ketika ia lahir, kakekku langsung
mendaftarkannya ke Les Corts. [...]. Di balik tindakan ini ada pesan terselip.
Kakekku memang sangat menyukai Barcelona. Tapi lebih dari itu, ia adalah
orang Catalan dan ia benci Franco. Ia menentang institusi pemerintahan resmi.
Barca-lah satu-satunya institusi yang mewakili perasaannya."
[...]
"Zaman sekarang, Anda tak perlu menggunakan Barca untuk mendefinisikan diri Anda. Tapi masa itu beda."
Dalam buku tersebut, Fitzpatrick menyebut identitas penduduk Barcelona terbentuk
dari sentimen anti-Madrid. Warga Catalan kerap membanggakan identitas mereka,
terlihat dari cara mereka mempertahankan bahasa asli Catalan ketimbang bahasa
Castilla yang lebih umum digunakan di Madrid.
Warga Catalan juga berupaya keras memperoleh otonomi daerah. Meski Franco sudah lama wafat dan era pemerintahan Spanyol telah berganti, tensi politik antara Catalan dan Madrid tetap terasa hingga kini.
Dua kuda pacu kaya
Selain faktor sejarah dan muatan politisnya, El Clasico dipanaskan pula
dengan perebutan pengaruh kedua klub sebagai penguasa utama Liga Spanyol.
Indikasi soal ini dapat terlihat sejak musim 2004/05.
Menurut statistik di situs Goal.com, tim yang mampu menang setidaknya dalam satu
laga El Clasico punya kans lebih besar untuk menjuarai liga pada akhir musim.
Sebutlah musim 2005/06 sebagai contoh pertama.
Dalam El Clasico di Santiago Bernabeu, Barca pulang dengan kemenangan 3-0.
Lalu pada kunjungan balasan Madrid ke Camp Nou, kedua tim bermain imbang
1-1. Hasilnya, di akhir musim, Barca-lah yang menjuarai liga.
Sebaliknya adalah musim 2006/07. Madrid menang 2-0, lalu imbang 3-3 dalam dua
kali pertemuan kedua klub. El Real pun sukses mengudeta Barca sebagai juara.
Musim 2012/13 barangkali adalah pengecualian. Meski Madrid sempat mengalahkan Barca 2-1 di Santiago Bernabeu, namun justru Barcelona yang merajai liga di akhir musim.
Dalam sebuah pernyataannya pada Agustus, gelandang andalan Barca Xavi
Hernandez pernah menolak anggapan bahwa Liga Spanyol merupakan ajang dua kuda pacu. Ia berpendapat saat ini lebih banyak klub Spanyol yang bisa menjadi kekuatan baru. Malaga, sebut dia, adalah salah satunya.
"Aku tak percaya kompetisi Liga BBVA hanya untuk dua kuda pacu. Seluruh klub
berjuang meraih kemenangan. Malaga telah membuktikan hal tersebut," jelas Xavi
usai menaklukkan Malaga 1-0, Minggu (25/8/2013).
Namun nyatanya, sejak 2004 Barca dan Madrid praktis adalah penguasa La Liga.
Seperti yang dikemukakan Fitzpatrick, sulit bagi suporter selain kedua klub untuk
memikirkan kans juara. Klub-klub lain hanya berkonsentrasi untuk bertahan di
La Liga, atau memburu tiket kompetisi Eropa.
Mengapa Barca dan Madrid?
Tak bisa dipungkiri, ada kekuatan dana bicara. Bukan rahasia, soal besarnya
anggaran kedua klub raksasa itu. Fitzpatrick menyebut, anggaran belanja
kedua tim ini empat kali lebih besar dibanding klub-klub lain. Favoritisme
penonton televisi terhadap dua klub ini pun turut berpengaruh.
Sistem pembagian hak siar di Spanyol tidak sama dengan di Inggris, misalnya.
Klub-klub Spanyol tidak bernegosiasi secara kolektif mengenai pembagian hak
siar. Masing-masing klub bernegosiasi sendiri. Hanya sedikit klub yang bisa
menawar dengan harga tinggi, yang itu adalah Madrid dan Barca di antaranya.
Dalam satu musim, baik Madrid mau pun Barca bisa menangguk 110 juta euro dari
hak siar televisi. Jumlah ini dua kali lipat dibanding juara Premier League
Manchester United yang 'hanya' mendapat 50 juta euro.
Bandingkan dengan Valencia yang hanya menangguk 37 juta euro. Klub-klub
pesaing pun tak berdaya sehingga menyuarakan perlunya pembagian hak
siar yang lebih adil.
Keuntungan dari hak siar, ditambah penjualan tiket stadion serta merchandise
ini memungkinkan Barca mau pun Madrid membeli pemain-pemain yang dinilai layak
menjadikan skuad mereka mampu bersaing. Kehadiran bintang-bintang juga
menjadi "penghias" setiap episode El Clasico, membuat pertemuan kedua kubu
menjadi begitu memikat.
'By-product' rivalitas
Pada akhirnya, apapun sejarah dan latarnya, di lapangan hijau-lah bermuara
persaingan kedua klub ini. Karena itu, El Clasico pun kerap 'melahirkan' rivalitas baru.
Dalam tiap laga kedua tim, akan ada dua pelatih yang memutar otak demi
menemukan strategi terbaik meredam lawan. Di lapangan, akan ada dua pemain
tengah yang beradu lihai mengatur permainan, dan dua penyerang beradu
tajam untuk mencetak gol. El Clasico bukan lagi soal klub Barca atau Madrid.
Tengoklah era 2010/11 dan 2011/12. Ketika Barca masih dilatih Josep Guardiola
dan Madrid masih diarsiteki Jose Mourinho.
Setiap panggung El Clasico, menghadirkan pula sosok Pep dan Mou kerap sebagai penyita perhatian dunia, baik dari kejeniusan masing-masing beradu strategi maupun adu mulut mereka di media.
Rivalitas lain yang muncul pula dari El Clasico adalah Cristiano Ronaldo dan
Lionel Messi. Kerap digadang sebagai dua pesepak bola terbaik muka bumi saat ini,
CR7 dan Messi selalu dibandingkan, didiskusikan, hingga dijadikan perdebatan
soal siapa yang lebih baik. Setiap El Clasico datang, perhatian yang sudah
menggunung terhadap keduanya pun akan semakin bertambah.
Selain CR7 dan Messi, lampu sorot di lapangan hijau musim ini juga akan jatuh
pada dua pemain lain. Neymar, pemain berbakat Brasil yang didatangkan Barca
dari Santos, serta Gareth Bale yang kedatangannya ke Madrid memecahkan
rekor pemain termahal dengan banderol 100 juta euro. Pertanyaan untuk dua
nama ini adalah "sejauh apa kontribusi mereka di El Clasico".
Dari semua persaingan kontemporer, barangkali yang paling menarik adalah
pengaruh El Clasico terhadap media massa di Spanyol. Baik Madrid mau pun
Barca masing-masing disokong media olahraga besar di negara Semenanjung
Iberia tersebut.
Madrid didukung oleh AS dan Marca, sementara Barca didukung Sport dan
Mundo Deportivo. Keempat media ini kerap terlibat 'perang propaganda'
mengenai Madrid dan Barca demi menciptakan berita utama yang bombastis.
Contohnya saja saat Barcelona menang melawan Athletic Bilbao.
Contoh lain, tabloid AS memuat gambar yang menunjukkan seolah bek Barca Dani
Alves berada dalam posisi offside. Belakangan diketahui, foto tersebut telah
diedit sedemikian rupa dan menghilangkan bek lawan yang berada dalam posisi sejajar dengan Alves.
Mengutip Sid Lowe, kolumnis sepak bola Spanyol untuk tabloid Inggris Guardian, hal
ini berbeda dengan media massa di Inggris. Media Inggris seperti Guardian,
The Sun atau Mirror yang tak memihak klub mana pun di Premier League.
"Di Madrid, cerita yang menjual adalah Madrid menang. Editor sebuah surat kabar
mengakui, penjualan korannya meningkat setiap Madrid menang. Di Spanyol, prisma
untuk melihat ini (persaingan Madrid- Barca) sangat bias," kata Lowe, masih
dikutip dari buku Fitzpatrick.
Perkataan Lowe mendapat dukungan Santiago Segurla, penulis Marca.
"Perseteruan Madrid-Barca menciptakan jurnalisme kacangan yang menciptakan
(sikap) agresif dan mengakar pada kedua klub. Jurnalisme seputar dua klub ini
mengarahkan munculnya konfrontasi.
Pemberitaan yang ada lebih ke arah menyesatkan, ketimbang menunjukkan bahwa Barca-Madrid hanya bersaing di sepak bola," kata dia.
Saling memacu Tingginya tensi persaingan Barca dan Madrid, ditambah masifnya pemberitaan media memberi tekanan berat kepada kedua klub. Akibatnya, kekalahan menjadi sesuatu yang tak bisa ditolerir.
Tekanan ini juga yang menimbulkan sikap paranoia terhadap hal lain. Misalnya,
terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan kedua kubu. Ujungnya tetaplah ambisi kedua klub untuk makin mengalahkan.
Namun pada akhirnya, persaingan antara Barca dan Madrid pula yang memicu satu
sama lain untuk terus memperbaiki diri. Hal ini diutarakan oleh Lowe.
"Mereka saling memacu. Kalau saja Barcelona tak sebagus itu, Madrid takkan
begitu berambisi menghabiskan banyak uang. Kalau Madrid tak begitu ngotot
mengejar Barcelona, Barcelona takkan repot-repot berpikir melakukan
penambahan pemain di skuad," kata Lowe.
El Clasico harus diterima bukanlah rivalitas biasa. Jejak sejarah, gengsi, ambisi bahkan propaganda media massa menjadi bensin yang membakar dan menjaga nyala
perseteruan ini.
Apakah sejarah panjang El Clasico berikut segala bumbu dan nuansanya itu masih
berlanjut, lapangan hijau yang kembali akan menguji. Kesempatan itu datang
pada Sabtu (26/10/2013) pukul 22.30 WIB, tayangan RCTI. Saat jutaan mata terpaku ke
pertandingan mereka, El Clasico pun akan menguji dirinya sendiri.
Penulis: Lariza Oky Adisty
arena balap Formula 1, dunia pernah menyaksikan Niki Lauda-James Hunt,
Ayrton Senna-Alain Prost hingga Michael Schumacher-Mika Hakkinen adu salip
menjadi juara dalam tiap grand prix.
Di ring tinju pun kita mengenal persaingan Muhammad Ali dan Joe Frazier.
Sementara di lapangan hijau, rasanya persaingan Barcelona dan Real Madrid
mewakili rivalitas yang setara dengan contoh-contoh itu.
Sejak pertemuan perdana kedua klub pada 1929 hingga terakhir pada 2 Maret
2013, rivalitas Barca dan Madrid telah mengalami transformasi. El Clasico -begitu
sebutan pertandingan ini- semula adalah simbol perlawanan bangsa Catalan
terhadap sentralisasi kekuasaan Jenderal Franco di ibu kota Madrid.
Perjalanan waktu menggeser laga kedua klub sebagai pertarungan memperebutkan klaim menjadi yang paling superior di negara Semenanjung Iberia itu. Beragam bumbu pun turut mewarnai adu sikut Blaugrana dan Los Blancos. Mulai dari rebutan pemain,
transfer kontroversial, hingga persaingan manajer dan pemain terbaik.
Embrio Franco
Membahas rivalitas Barca-Madrid, sulit untuk tidak memulainya dari Francisco
Franco, eks diktator Spanyol yang berkuasa sejak 1939 hingga meninggal
pada 1975. Seusai Perang Saudara di Spanyol, Barcelona menjadi salah satu
sasaran manuver Franco dalam memulai sentralisasi kekuasaan.
Setelah mengeksekusi presiden Barcelona Josep Sunyol pada 1936, Franco
'mengacak-acak' internal klub Barcelona. Ia menempatkan salah satu tangan
kanannya sebagai presiden klub, mengganti lambang klub Barcelona, menghapus simbol senyera, serta mengganti nama Barcelona dengan Barcelona Club de Futbol yang lebih
bernuansa Spanyol. Warga Catalan menjadikan Barcelona dan Stadion Les Corts sebagai bagian dari pernyataan politik melawan Franco.
Bukunya El Clasico: Barcelona vs Real Madrid: Football's Greatest Rivalry, karya
jurnalis Richard Fitzpatrick menggambarkannya.
Fitzpatrick mengutip pernyataan Joan Maria Pou, seorang penyiar radio Catalan,
untuk menuturkan bagaimana menjadi socio (anggota) klub Barca merupakan
sikap politik bagi warga Catalan.
"Ayahku lahir pada 2 Januari 1945. Ketika ia lahir, kakekku langsung
mendaftarkannya ke Les Corts. [...]. Di balik tindakan ini ada pesan terselip.
Kakekku memang sangat menyukai Barcelona. Tapi lebih dari itu, ia adalah
orang Catalan dan ia benci Franco. Ia menentang institusi pemerintahan resmi.
Barca-lah satu-satunya institusi yang mewakili perasaannya."
[...]
"Zaman sekarang, Anda tak perlu menggunakan Barca untuk mendefinisikan diri Anda. Tapi masa itu beda."
Dalam buku tersebut, Fitzpatrick menyebut identitas penduduk Barcelona terbentuk
dari sentimen anti-Madrid. Warga Catalan kerap membanggakan identitas mereka,
terlihat dari cara mereka mempertahankan bahasa asli Catalan ketimbang bahasa
Castilla yang lebih umum digunakan di Madrid.
Warga Catalan juga berupaya keras memperoleh otonomi daerah. Meski Franco sudah lama wafat dan era pemerintahan Spanyol telah berganti, tensi politik antara Catalan dan Madrid tetap terasa hingga kini.
Dua kuda pacu kaya
Selain faktor sejarah dan muatan politisnya, El Clasico dipanaskan pula
dengan perebutan pengaruh kedua klub sebagai penguasa utama Liga Spanyol.
Indikasi soal ini dapat terlihat sejak musim 2004/05.
Menurut statistik di situs Goal.com, tim yang mampu menang setidaknya dalam satu
laga El Clasico punya kans lebih besar untuk menjuarai liga pada akhir musim.
Sebutlah musim 2005/06 sebagai contoh pertama.
Dalam El Clasico di Santiago Bernabeu, Barca pulang dengan kemenangan 3-0.
Lalu pada kunjungan balasan Madrid ke Camp Nou, kedua tim bermain imbang
1-1. Hasilnya, di akhir musim, Barca-lah yang menjuarai liga.
Sebaliknya adalah musim 2006/07. Madrid menang 2-0, lalu imbang 3-3 dalam dua
kali pertemuan kedua klub. El Real pun sukses mengudeta Barca sebagai juara.
Musim 2012/13 barangkali adalah pengecualian. Meski Madrid sempat mengalahkan Barca 2-1 di Santiago Bernabeu, namun justru Barcelona yang merajai liga di akhir musim.
Dalam sebuah pernyataannya pada Agustus, gelandang andalan Barca Xavi
Hernandez pernah menolak anggapan bahwa Liga Spanyol merupakan ajang dua kuda pacu. Ia berpendapat saat ini lebih banyak klub Spanyol yang bisa menjadi kekuatan baru. Malaga, sebut dia, adalah salah satunya.
"Aku tak percaya kompetisi Liga BBVA hanya untuk dua kuda pacu. Seluruh klub
berjuang meraih kemenangan. Malaga telah membuktikan hal tersebut," jelas Xavi
usai menaklukkan Malaga 1-0, Minggu (25/8/2013).
Namun nyatanya, sejak 2004 Barca dan Madrid praktis adalah penguasa La Liga.
Seperti yang dikemukakan Fitzpatrick, sulit bagi suporter selain kedua klub untuk
memikirkan kans juara. Klub-klub lain hanya berkonsentrasi untuk bertahan di
La Liga, atau memburu tiket kompetisi Eropa.
Mengapa Barca dan Madrid?
Tak bisa dipungkiri, ada kekuatan dana bicara. Bukan rahasia, soal besarnya
anggaran kedua klub raksasa itu. Fitzpatrick menyebut, anggaran belanja
kedua tim ini empat kali lebih besar dibanding klub-klub lain. Favoritisme
penonton televisi terhadap dua klub ini pun turut berpengaruh.
Sistem pembagian hak siar di Spanyol tidak sama dengan di Inggris, misalnya.
Klub-klub Spanyol tidak bernegosiasi secara kolektif mengenai pembagian hak
siar. Masing-masing klub bernegosiasi sendiri. Hanya sedikit klub yang bisa
menawar dengan harga tinggi, yang itu adalah Madrid dan Barca di antaranya.
Dalam satu musim, baik Madrid mau pun Barca bisa menangguk 110 juta euro dari
hak siar televisi. Jumlah ini dua kali lipat dibanding juara Premier League
Manchester United yang 'hanya' mendapat 50 juta euro.
Bandingkan dengan Valencia yang hanya menangguk 37 juta euro. Klub-klub
pesaing pun tak berdaya sehingga menyuarakan perlunya pembagian hak
siar yang lebih adil.
Keuntungan dari hak siar, ditambah penjualan tiket stadion serta merchandise
ini memungkinkan Barca mau pun Madrid membeli pemain-pemain yang dinilai layak
menjadikan skuad mereka mampu bersaing. Kehadiran bintang-bintang juga
menjadi "penghias" setiap episode El Clasico, membuat pertemuan kedua kubu
menjadi begitu memikat.
'By-product' rivalitas
Pada akhirnya, apapun sejarah dan latarnya, di lapangan hijau-lah bermuara
persaingan kedua klub ini. Karena itu, El Clasico pun kerap 'melahirkan' rivalitas baru.
Dalam tiap laga kedua tim, akan ada dua pelatih yang memutar otak demi
menemukan strategi terbaik meredam lawan. Di lapangan, akan ada dua pemain
tengah yang beradu lihai mengatur permainan, dan dua penyerang beradu
tajam untuk mencetak gol. El Clasico bukan lagi soal klub Barca atau Madrid.
Tengoklah era 2010/11 dan 2011/12. Ketika Barca masih dilatih Josep Guardiola
dan Madrid masih diarsiteki Jose Mourinho.
Setiap panggung El Clasico, menghadirkan pula sosok Pep dan Mou kerap sebagai penyita perhatian dunia, baik dari kejeniusan masing-masing beradu strategi maupun adu mulut mereka di media.
Rivalitas lain yang muncul pula dari El Clasico adalah Cristiano Ronaldo dan
Lionel Messi. Kerap digadang sebagai dua pesepak bola terbaik muka bumi saat ini,
CR7 dan Messi selalu dibandingkan, didiskusikan, hingga dijadikan perdebatan
soal siapa yang lebih baik. Setiap El Clasico datang, perhatian yang sudah
menggunung terhadap keduanya pun akan semakin bertambah.
Selain CR7 dan Messi, lampu sorot di lapangan hijau musim ini juga akan jatuh
pada dua pemain lain. Neymar, pemain berbakat Brasil yang didatangkan Barca
dari Santos, serta Gareth Bale yang kedatangannya ke Madrid memecahkan
rekor pemain termahal dengan banderol 100 juta euro. Pertanyaan untuk dua
nama ini adalah "sejauh apa kontribusi mereka di El Clasico".
Dari semua persaingan kontemporer, barangkali yang paling menarik adalah
pengaruh El Clasico terhadap media massa di Spanyol. Baik Madrid mau pun
Barca masing-masing disokong media olahraga besar di negara Semenanjung
Iberia tersebut.
Madrid didukung oleh AS dan Marca, sementara Barca didukung Sport dan
Mundo Deportivo. Keempat media ini kerap terlibat 'perang propaganda'
mengenai Madrid dan Barca demi menciptakan berita utama yang bombastis.
Contohnya saja saat Barcelona menang melawan Athletic Bilbao.
Contoh lain, tabloid AS memuat gambar yang menunjukkan seolah bek Barca Dani
Alves berada dalam posisi offside. Belakangan diketahui, foto tersebut telah
diedit sedemikian rupa dan menghilangkan bek lawan yang berada dalam posisi sejajar dengan Alves.
Mengutip Sid Lowe, kolumnis sepak bola Spanyol untuk tabloid Inggris Guardian, hal
ini berbeda dengan media massa di Inggris. Media Inggris seperti Guardian,
The Sun atau Mirror yang tak memihak klub mana pun di Premier League.
"Di Madrid, cerita yang menjual adalah Madrid menang. Editor sebuah surat kabar
mengakui, penjualan korannya meningkat setiap Madrid menang. Di Spanyol, prisma
untuk melihat ini (persaingan Madrid- Barca) sangat bias," kata Lowe, masih
dikutip dari buku Fitzpatrick.
Perkataan Lowe mendapat dukungan Santiago Segurla, penulis Marca.
"Perseteruan Madrid-Barca menciptakan jurnalisme kacangan yang menciptakan
(sikap) agresif dan mengakar pada kedua klub. Jurnalisme seputar dua klub ini
mengarahkan munculnya konfrontasi.
Pemberitaan yang ada lebih ke arah menyesatkan, ketimbang menunjukkan bahwa Barca-Madrid hanya bersaing di sepak bola," kata dia.
Saling memacu Tingginya tensi persaingan Barca dan Madrid, ditambah masifnya pemberitaan media memberi tekanan berat kepada kedua klub. Akibatnya, kekalahan menjadi sesuatu yang tak bisa ditolerir.
Tekanan ini juga yang menimbulkan sikap paranoia terhadap hal lain. Misalnya,
terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan kedua kubu. Ujungnya tetaplah ambisi kedua klub untuk makin mengalahkan.
Namun pada akhirnya, persaingan antara Barca dan Madrid pula yang memicu satu
sama lain untuk terus memperbaiki diri. Hal ini diutarakan oleh Lowe.
"Mereka saling memacu. Kalau saja Barcelona tak sebagus itu, Madrid takkan
begitu berambisi menghabiskan banyak uang. Kalau Madrid tak begitu ngotot
mengejar Barcelona, Barcelona takkan repot-repot berpikir melakukan
penambahan pemain di skuad," kata Lowe.
El Clasico harus diterima bukanlah rivalitas biasa. Jejak sejarah, gengsi, ambisi bahkan propaganda media massa menjadi bensin yang membakar dan menjaga nyala
perseteruan ini.
Apakah sejarah panjang El Clasico berikut segala bumbu dan nuansanya itu masih
berlanjut, lapangan hijau yang kembali akan menguji. Kesempatan itu datang
pada Sabtu (26/10/2013) pukul 22.30 WIB, tayangan RCTI. Saat jutaan mata terpaku ke
pertandingan mereka, El Clasico pun akan menguji dirinya sendiri.
Penulis: Lariza Oky Adisty
Selasa, 03 September 2013
Pemain bola muslim di liga-liga Eropa
Di Eropa, sepak bola merupakan salah satu olahraga yang paling di minati. Banyak
klub-klub besar yang merajai di liga nya masing-masing. Kalau kita bicara soal
keyakinan dan agama, pasti setiap pemain bola mempunyai keyakinan dan
kepercayaan atas agama yang di anut.
Beberapa pemain yang beragama muslim bermain di beberapa klub besar di eropa,
seperti Frank Ribery (Bayern Muenchen), Zlatan Ibrahimovic (PSG), Samir
Nasri (Mancity),Nicolas Anelka (Chelsea), Kolo Toure (Liverpool) dan adiknya
Yaya Toure (Mancity), serta masih banyak lagi pemain yang beragama
muslim. Di Liga-liga besar eropa pemain bola yang tercatat sebagai pemain yang
beragama muslim lebih dari 100 pemain, baik yang bermain di Liga Inggris, Spanyol,
Italia, German, Belanda, Portugal, Prancis, Yunani, Turki atau pun liga-liga besar lain nya.
Berikut daftar pemain-pemain sepakbola eropa yang beragama islam :
Ahmed Mido Hossam
Diomanssy Kamara
Djibril Cisse
El-Hadji Diouf
Eric Abidal
Frank "Bilal" Riberry
Frederic Kanoute
Halil Altintop
Hamit Altintop
Hassan "Brazzo" Salihamidzic
Hatem Ben Arfa
Hossam Ghaly
Khalid Boulahrouz
Kolo Toure
Mahamaddou Diarra
Mohammed "Momo" Sissoko
Mohammed Kallon
Armand Traore
Nicolas Anelka
Nuri Sahin
Rami Shaaban
Salomon Kalou
Samir Nasri
Stephen Appiah
Sulley Ali Muntari
Yaya Toure
Zlatan Ibrahimovic
Zinedine Yazid Zidane
David Trezeguet
Abou Diaby
Bacary Sagna
Emmanuel Eboue
Marouane Chamakh
Seydou Kieta
Ali al-habsi
Vedad Ibisevic
Lilian Thuram
Lassana Diarra
Rustu Recber
Johan Djourou
Pascal Cygan
Emre Belozoglu
Ibrahim Afellay
Marat Izmailov
Aiyegbeni Yakubu
Leon Osman
Marouane Fellaini
Youri Djorkaeff
Fred
Mesut Ozil
George Weah
Phillipe Troussier
Dari daftar di atas ada beberapa pemain yang taat dengan agama islam
diantaranya Samir Nasri, Karim Benzema, Hatem Ben Arfa, Aaron Winter, Zidane,
Nicolas Anelka, Frank Ribery, Djibril Cisse.
Hidup di tengah glamornya industri sepakbola, banyak pebola muslim di Eropa
yang tetap beribadah. Mereka juga hidup sesuai dengan ajaran Islam. Hal itu
menjadi kunci rahasia kenapa jarang pebola Muslim yang disorot kehidupan
pribadinya bermasalah. Itu juga yang membuat permainan mereka cenderung
stabil dan emosi di lapangan senantiasa terjaga. Untuk itu, kita patut memuji sikap
mereka yang tetap beribadah walaupun di eropa banyak pemain-pemain lain yang
beragama non-muslim.
klub-klub besar yang merajai di liga nya masing-masing. Kalau kita bicara soal
keyakinan dan agama, pasti setiap pemain bola mempunyai keyakinan dan
kepercayaan atas agama yang di anut.
Beberapa pemain yang beragama muslim bermain di beberapa klub besar di eropa,
seperti Frank Ribery (Bayern Muenchen), Zlatan Ibrahimovic (PSG), Samir
Nasri (Mancity),Nicolas Anelka (Chelsea), Kolo Toure (Liverpool) dan adiknya
Yaya Toure (Mancity), serta masih banyak lagi pemain yang beragama
muslim. Di Liga-liga besar eropa pemain bola yang tercatat sebagai pemain yang
beragama muslim lebih dari 100 pemain, baik yang bermain di Liga Inggris, Spanyol,
Italia, German, Belanda, Portugal, Prancis, Yunani, Turki atau pun liga-liga besar lain nya.
Berikut daftar pemain-pemain sepakbola eropa yang beragama islam :
Ahmed Mido Hossam
Diomanssy Kamara
Djibril Cisse
El-Hadji Diouf
Eric Abidal
Frank "Bilal" Riberry
Frederic Kanoute
Halil Altintop
Hamit Altintop
Hassan "Brazzo" Salihamidzic
Hatem Ben Arfa
Hossam Ghaly
Khalid Boulahrouz
Kolo Toure
Mahamaddou Diarra
Mohammed "Momo" Sissoko
Mohammed Kallon
Armand Traore
Nicolas Anelka
Nuri Sahin
Rami Shaaban
Salomon Kalou
Samir Nasri
Stephen Appiah
Sulley Ali Muntari
Yaya Toure
Zlatan Ibrahimovic
Zinedine Yazid Zidane
David Trezeguet
Abou Diaby
Bacary Sagna
Emmanuel Eboue
Marouane Chamakh
Seydou Kieta
Ali al-habsi
Vedad Ibisevic
Lilian Thuram
Lassana Diarra
Rustu Recber
Johan Djourou
Pascal Cygan
Emre Belozoglu
Ibrahim Afellay
Marat Izmailov
Aiyegbeni Yakubu
Leon Osman
Marouane Fellaini
Youri Djorkaeff
Fred
Mesut Ozil
George Weah
Phillipe Troussier
Dari daftar di atas ada beberapa pemain yang taat dengan agama islam
diantaranya Samir Nasri, Karim Benzema, Hatem Ben Arfa, Aaron Winter, Zidane,
Nicolas Anelka, Frank Ribery, Djibril Cisse.
Hidup di tengah glamornya industri sepakbola, banyak pebola muslim di Eropa
yang tetap beribadah. Mereka juga hidup sesuai dengan ajaran Islam. Hal itu
menjadi kunci rahasia kenapa jarang pebola Muslim yang disorot kehidupan
pribadinya bermasalah. Itu juga yang membuat permainan mereka cenderung
stabil dan emosi di lapangan senantiasa terjaga. Untuk itu, kita patut memuji sikap
mereka yang tetap beribadah walaupun di eropa banyak pemain-pemain lain yang
beragama non-muslim.
Langganan:
Postingan (Atom)

