Zulfi Suhendra - detikFinance
Jakarta - Presiden Komisaris PT Panasonic Gobel, Rachmat Gobel
memulai karirnya dari bawah, sebelum menjadi pengusaha sukses. Di masa
muda, Rachmat meluangkan waktunya untuk bekerja menjadi tukang sapu di
pabrik.
Meski ayahanda Rahmat, yaitu Mohammad Gobel, adalah pengusaha
sukses yang mewarisi perusahaan kelompok usaha Gobel yaitu Thayeb,
Rahmat tak ingin mencapai kesuksesan secara instan. Dia menanamkan disiplin
dan kerja keras dalam dirinya sendiri.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 September 2014
Kamis, 08 Mei 2014
7 Satrio Piningit
Kurun tahun 1135 sampai 1159 Prabu Jayabaya meramalkan; pada
zaman keemasan Nusantara akan kedatangan Ratu Adil alias Satrio Piningit.
Nubuat itu rupanya dikenang dan diyakini oleh sebagian masyarakat, bahkan
sampai zaman modern seperti saat ini.Mendiang Bung Karno pun pernah
mengutip ramalan Jayabaya saat membacakan pledoi pada persidangan di
Landraad, Bandung, Jawa Barat, pada 1930.
"Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan
menunggu-nunggu datangnya "Ratu Adil", apakah sebabnya sabda Prabu
Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain
ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-
nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana
orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu
dan mengharap-harap "Kapan,kapankah Matahari terbit?" kata Sukarno
dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu.
zaman keemasan Nusantara akan kedatangan Ratu Adil alias Satrio Piningit.
Nubuat itu rupanya dikenang dan diyakini oleh sebagian masyarakat, bahkan
sampai zaman modern seperti saat ini.Mendiang Bung Karno pun pernah
mengutip ramalan Jayabaya saat membacakan pledoi pada persidangan di
Landraad, Bandung, Jawa Barat, pada 1930.
"Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan
menunggu-nunggu datangnya "Ratu Adil", apakah sebabnya sabda Prabu
Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain
ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-
nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana
orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu
dan mengharap-harap "Kapan,kapankah Matahari terbit?" kata Sukarno
dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu.
Rabu, 11 Desember 2013
Mbah Slamet, Masinis KA Tragedi Bintaro I yang Kini Jualan Rokok
Slamet Suradio (74) hanya bisa mengelus dada
saat tahu ada tragedi Bintaro kedua yang
merenggut korban jiwa.Dia tak menyangka,kecelakaan fatal bisa
kembali terjadi setelah peristiwa memilukan yang dialaminya.
Mbah Slamet 'Bintaro', begitu dia biasa
disapa, adalah masinis KA 225, kereta api
yang berangkat dari Stasiun Sudimara
kemudian bertabrakan dengan KA 220
yang datang dari arah berlawanan.
Dua kereta itu 'adu banteng' hingga membuat
156 nyawa melayang dan ratusan lainnya
luka-luka. Kejadian berlangsung pada
Senin 19 Oktober 1987.
Meski sudah terjadi sekitar 26 tahun lalu,
peristiwa itu masih terus menempel dalam
ingatan Slamet. Dia masih hapal kronologi
kejadian menit per menit hingga akhirnya
terjadi tabrakan.
"Saya sempat ngerem luar biasa,
namanya juga pengen hidup. Tapi
karena jaraknya terlalu dekat, nggak
bisa," kata Slamet saat ditemui di
kediamannya di Dusun Krajan Kidul, Desa
Gintungan, Kecamatan Gebang,
Purworejo, Jateng, Kamis (12/12/2013).
Slamet adalah orang dibalik kemudi KA 225 jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota yang bertabrakan dengan KA cepat 220 jurusan Tanah Abang-Merak. Kejadian ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia.
saat tahu ada tragedi Bintaro kedua yang
merenggut korban jiwa.Dia tak menyangka,kecelakaan fatal bisa
kembali terjadi setelah peristiwa memilukan yang dialaminya.
Mbah Slamet 'Bintaro', begitu dia biasa
disapa, adalah masinis KA 225, kereta api
yang berangkat dari Stasiun Sudimara
kemudian bertabrakan dengan KA 220
yang datang dari arah berlawanan.
Dua kereta itu 'adu banteng' hingga membuat
156 nyawa melayang dan ratusan lainnya
luka-luka. Kejadian berlangsung pada
Senin 19 Oktober 1987.
Meski sudah terjadi sekitar 26 tahun lalu,
peristiwa itu masih terus menempel dalam
ingatan Slamet. Dia masih hapal kronologi
kejadian menit per menit hingga akhirnya
terjadi tabrakan.
"Saya sempat ngerem luar biasa,
namanya juga pengen hidup. Tapi
karena jaraknya terlalu dekat, nggak
bisa," kata Slamet saat ditemui di
kediamannya di Dusun Krajan Kidul, Desa
Gintungan, Kecamatan Gebang,
Purworejo, Jateng, Kamis (12/12/2013).
Slamet adalah orang dibalik kemudi KA 225 jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota yang bertabrakan dengan KA cepat 220 jurusan Tanah Abang-Merak. Kejadian ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia.
Jumat, 13 September 2013
Rebutan warisan Kapal Api Grup
Majelis Hakim perkara `Kopi Kapal Api` bantah terima suap
Jumat, 13 September 2013 10:17 WIB
LENSAINDONESIA.COM: Gugatan
perdata kasus sengketa saham PT Santos Jaya Abadi (PT SJA) produsen kopi merk
kapal api, ABC dan Good Day diputus Majelis hakim PN Surabaya. Dalam amar
putusannya, hakim yang diketuai Erri Mustianto memenangkan pihak penggugat dengan membatalkan wasiat dan meminta pembagian warisan saham dengan porsi sama.
Sebelumnya, dalam wasiat dijelaskan, pembagian saham tidak merata. Yakni
Soedomo Margonoto, Indra Boedijono, dan Singgih Gunawan, masing-masing 30
persen. Sedangkan penggugat, yakni Wiwik Sundari dan Lenny Setyawati
masing-masing lima persen.
Ketua Majelis Hakim Erri Mustianto menyatakan, pengadilan mengabulkan permohonan penggugat. Wasiat itudibatalkan dan pembagian selanjutnya dilakukan secara merata. “Semua, yaknilima orang putra mendapat hak yang sama 20 persen masing-masing,” tegas
Erri.
Mendengar amar putusan hakim ini,sontak disesalkan pihak tergugat. Kukuh Pramono Budi, selaku kuasa hukum tergugat satu Soedomo Margonoto,menilai banyak kejanggalan dalamputusan itu.
Dia merinci, secara aturan wasiat hanya bisa dibatalkan oleh orang yang membuat
wasiat. Sedangkan peradilan tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan. Selain
itu, PT Santos Jaya Abadi, secara hukum di depan notaris, dimiliki tiga orang. “Jadi
bukan perusahaan warisan,” katanya.
Diterangkan Kukuh, seharusnya dalam pembagian saham, hanya pendiri yang
mendapat bagian saham itu. Sedangkan pihak lain yang tidak tercantum, mustahil
mendapatkan bagian saham, terkecuali dilakukan penjualan ke publik. “Anehnya
dalam putusan hakim ini, dua nama penggugat tetap mendapat padahal tidak
tercantum sama sekali,” jelas Kukuh.
Untuk itu, pihaknya tidak tinggal diam dengan putusan ini. Langkah banding
segera dipersiapkan. Sebab, putusan yang ditetapkan Pengadilan Negeri
Surabaya, dianggap banyak kejanggalan.
Terpisah, Soedomo menyayangkan putusan itu. Dia memaparkan, usaha kopi
sudah menjadi usaha milik ayahnya Go Soe Loet sejak 1927. Usaha dagang yang
berjalan waktu itu bernama Hap Hoo Tjan.Seiring beranjak dewasa, Soedomo
mendirikan perusahaan baru bersama saudaranya, yakni PT Santos Jaya Cofee
Company tahun 1979. Setahun kemudian, nama itu berubah menjadi PT
Santos Jaya Abadi.
“Jadi murni bukan dari orang tua saya,” katanya.
Diterangkan lebih lanjut, Perusahaan Hap Hoo Tjan sendiri dinyatakan bangkrut
tahun 1981. Selanjutnya yang berkembang PT Santos Jaya Abadi. “Perusahaan yang
didirikan bersama dari awal. Bukan warisan dari orang tua,” imbuhnya.
Tahun 1994, PT Santos Jaya Abadi berkembang dan menambah modal dengan memasukkan Singgih Gunawan ke jajaran pemilik saham. Singgih adalah saudara kandung Soedomo. Sehingga kepemilikan murni dari mereka pendiri dan penanam modal. Sedangkan penggugat
yakni Lenny dan Wiwik tidak pernah ikut menanam modal di perusahaan itu.
Soedomo menyatakan, secara aturan pembagian saham dilakukan melalui rapat umum pemegang saham. Mereka yang berhak mendapatkan adalah pendiri dan penanam modal.
“Di luar itu, jelas tidak bisa mendapatkan hak,” tegasnya.
Dia kembali menegaskan, PT Santos Jaya Abadi bukan warisan. Semua berdiri di
depan notaris dan berbadan hukum. Pembagian saham juga tidak bisa dilakukan begitu saja. Apalagi, jika nama-nama tersebut tidak tercantum di akta tersebut.
Dirinya juga menilai, semua pertimbangan hakim mengabulkan gugatan tersebut,
hanya berdasar pada hal-hal fiktif. Yang dijadikan pertimbangan hanyalah rekaman talk show, ketika pemilik PT SJA Indra Boediono dan Soedomo Margonoto
pernah mengatakan bahwa Kapal Api dahulu dirintis oleh ayahnya yang
bernama Go Soe Loet.
Yang cukup aneh, adalah surat yang katanya ditulis oleh Soedomo Margonoto,
untuk membagikan saham PT SJA kepada Lenni dan Wiwik. Padahal surat
yang dijadikan bukti oleh penggugat itu,tidak ada tandatangan Soedomo, dan
tidak diketahui siapa yang menulis alias surat kaleng. “Bahkan, patut diduga kalau
surat itu adalah surat yang dikarang. Dan,seolah-olah dibuat oleh Soedomo,”
ucapnya.
Tak hanya itu, keterangan saksi yang dijadikan pertimbangan, juga patut disoal.
Sebab, saksi itu tidak pernah bekerja di PT SJA. Tetapi, dinyatakan mengetahui
pendirian PT SJA.Sementara itu, selentingan kabar menyebut bahwa ada permainan dalam
sidang bahkan masing-masing hakim diduga menerima suap dalam perkara ini.
Saat dikonfirmasi usai sidang terkait tudingan itu, hakim Erri, Bambang dan
Sigit langsung membantahnya,
“Semuanya tidak benar. Kami membuat pertimbangan dan putusan sesuai dengan
bukti yang ada,” tegas Erri dan Bambang.
Keduanya juga membantah bertemu dengan pengusaha otomotif di Surabaya
yang juga disebut-sebut sebagai orang yang mengatur perkara itu. “Kita tidak
pernah kenal dan tidak pernah bertemu dengan orang itu,” tandas Erri.
Keduanya menegaskan kalau perkara PT SJA atau Kapal Api yang mereka putus
tersebut, murni dengan pertimbangan-pertimbangan hukum. @ian_lensa
Jumat, 13 September 2013 10:17 WIB
LENSAINDONESIA.COM: Gugatan
perdata kasus sengketa saham PT Santos Jaya Abadi (PT SJA) produsen kopi merk
kapal api, ABC dan Good Day diputus Majelis hakim PN Surabaya. Dalam amar
putusannya, hakim yang diketuai Erri Mustianto memenangkan pihak penggugat dengan membatalkan wasiat dan meminta pembagian warisan saham dengan porsi sama.
Sebelumnya, dalam wasiat dijelaskan, pembagian saham tidak merata. Yakni
Soedomo Margonoto, Indra Boedijono, dan Singgih Gunawan, masing-masing 30
persen. Sedangkan penggugat, yakni Wiwik Sundari dan Lenny Setyawati
masing-masing lima persen.
Ketua Majelis Hakim Erri Mustianto menyatakan, pengadilan mengabulkan permohonan penggugat. Wasiat itudibatalkan dan pembagian selanjutnya dilakukan secara merata. “Semua, yaknilima orang putra mendapat hak yang sama 20 persen masing-masing,” tegas
Erri.
Mendengar amar putusan hakim ini,sontak disesalkan pihak tergugat. Kukuh Pramono Budi, selaku kuasa hukum tergugat satu Soedomo Margonoto,menilai banyak kejanggalan dalamputusan itu.
Dia merinci, secara aturan wasiat hanya bisa dibatalkan oleh orang yang membuat
wasiat. Sedangkan peradilan tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan. Selain
itu, PT Santos Jaya Abadi, secara hukum di depan notaris, dimiliki tiga orang. “Jadi
bukan perusahaan warisan,” katanya.
Diterangkan Kukuh, seharusnya dalam pembagian saham, hanya pendiri yang
mendapat bagian saham itu. Sedangkan pihak lain yang tidak tercantum, mustahil
mendapatkan bagian saham, terkecuali dilakukan penjualan ke publik. “Anehnya
dalam putusan hakim ini, dua nama penggugat tetap mendapat padahal tidak
tercantum sama sekali,” jelas Kukuh.
Untuk itu, pihaknya tidak tinggal diam dengan putusan ini. Langkah banding
segera dipersiapkan. Sebab, putusan yang ditetapkan Pengadilan Negeri
Surabaya, dianggap banyak kejanggalan.
Terpisah, Soedomo menyayangkan putusan itu. Dia memaparkan, usaha kopi
sudah menjadi usaha milik ayahnya Go Soe Loet sejak 1927. Usaha dagang yang
berjalan waktu itu bernama Hap Hoo Tjan.Seiring beranjak dewasa, Soedomo
mendirikan perusahaan baru bersama saudaranya, yakni PT Santos Jaya Cofee
Company tahun 1979. Setahun kemudian, nama itu berubah menjadi PT
Santos Jaya Abadi.
“Jadi murni bukan dari orang tua saya,” katanya.
Diterangkan lebih lanjut, Perusahaan Hap Hoo Tjan sendiri dinyatakan bangkrut
tahun 1981. Selanjutnya yang berkembang PT Santos Jaya Abadi. “Perusahaan yang
didirikan bersama dari awal. Bukan warisan dari orang tua,” imbuhnya.
Tahun 1994, PT Santos Jaya Abadi berkembang dan menambah modal dengan memasukkan Singgih Gunawan ke jajaran pemilik saham. Singgih adalah saudara kandung Soedomo. Sehingga kepemilikan murni dari mereka pendiri dan penanam modal. Sedangkan penggugat
yakni Lenny dan Wiwik tidak pernah ikut menanam modal di perusahaan itu.
Soedomo menyatakan, secara aturan pembagian saham dilakukan melalui rapat umum pemegang saham. Mereka yang berhak mendapatkan adalah pendiri dan penanam modal.
“Di luar itu, jelas tidak bisa mendapatkan hak,” tegasnya.
Dia kembali menegaskan, PT Santos Jaya Abadi bukan warisan. Semua berdiri di
depan notaris dan berbadan hukum. Pembagian saham juga tidak bisa dilakukan begitu saja. Apalagi, jika nama-nama tersebut tidak tercantum di akta tersebut.
Dirinya juga menilai, semua pertimbangan hakim mengabulkan gugatan tersebut,
hanya berdasar pada hal-hal fiktif. Yang dijadikan pertimbangan hanyalah rekaman talk show, ketika pemilik PT SJA Indra Boediono dan Soedomo Margonoto
pernah mengatakan bahwa Kapal Api dahulu dirintis oleh ayahnya yang
bernama Go Soe Loet.
Yang cukup aneh, adalah surat yang katanya ditulis oleh Soedomo Margonoto,
untuk membagikan saham PT SJA kepada Lenni dan Wiwik. Padahal surat
yang dijadikan bukti oleh penggugat itu,tidak ada tandatangan Soedomo, dan
tidak diketahui siapa yang menulis alias surat kaleng. “Bahkan, patut diduga kalau
surat itu adalah surat yang dikarang. Dan,seolah-olah dibuat oleh Soedomo,”
ucapnya.
Tak hanya itu, keterangan saksi yang dijadikan pertimbangan, juga patut disoal.
Sebab, saksi itu tidak pernah bekerja di PT SJA. Tetapi, dinyatakan mengetahui
pendirian PT SJA.Sementara itu, selentingan kabar menyebut bahwa ada permainan dalam
sidang bahkan masing-masing hakim diduga menerima suap dalam perkara ini.
Saat dikonfirmasi usai sidang terkait tudingan itu, hakim Erri, Bambang dan
Sigit langsung membantahnya,
“Semuanya tidak benar. Kami membuat pertimbangan dan putusan sesuai dengan
bukti yang ada,” tegas Erri dan Bambang.
Keduanya juga membantah bertemu dengan pengusaha otomotif di Surabaya
yang juga disebut-sebut sebagai orang yang mengatur perkara itu. “Kita tidak
pernah kenal dan tidak pernah bertemu dengan orang itu,” tandas Erri.
Keduanya menegaskan kalau perkara PT SJA atau Kapal Api yang mereka putus
tersebut, murni dengan pertimbangan-pertimbangan hukum. @ian_lensa
Sabtu, 07 September 2013
Hadi Kacik aktivis buruh wafat
Jombang - Sejumlah aktivis Jombang era
1980-an hingga 1998 terlihat berkumpul
dalam tahlil mengenang 7 hari wafatnya
Hadi Ciptono alias Kacik di rumah Khusnul,
istri almarhum, di Desa Sambongdukuh
Kecamatan Jombang Kota, Sabtu
(31/8/2013) malam.
Seperti yang telah
diketahui, Kacik adalah aktivis yang paling
diburu rezim Soeharto dan dia pula aktivis
yang melakukan investigasi kasus buruh
Marsinah.
Usai tahlil dan kirim doa, mereka terlibat
diskusi kecil dan merefleksikan kiprah Kacik
di dunia pergerakan, baik secara lokal
maupun kancah nasional. "Kacik adalah
guru sekaligus kawan dalam pergerakan.
Kami sangat kehilangan atas meninggalnya
Kacik," ujar Hananto Veri, mantan Sekjen
MAK (Masyarakat Anti Kekerasan)
Jombang.
Veri menceritakan perkenalannya dengan
Kacik pada tahun 1995. Saat itu mereka
bersama-sama melakukan advokasi
terhadap buruh CV Maska Perkasa. Ribuan
buruh pabrik sepatu di kawasan
Tunggorono Jombang itu di-PHK tanpa
pesangon. Nah, saat itulah Kacik juga
terlibat aktif dalam pendampingan buruh.
Hingga kemudian mahasiswa membentuk
KSBM (Komite Solidaritas Buruh Maska).
Selain Veri, beberapa eks aktivis FAMI
(Front Aksi Mahasiswa Indonesia) juga turut
hadir, diantaranya Rindra Iman Lesmana,
mantan aktivis Formajo (Forum Mahasiswa
Jombang), Wijayadi, serta sejumlah mantan
aktivis buruh yang tergabung dalam KABUT
(Komite Aksi Buruh Tertindas).
"Totalitas Kacik dalam dunia pergerakan
tidak diragukan lagi. Mulai kasus Marsinah,
kasus Maska, hingga kasus pembredelan
majalah Tempo, Editor, dan DeTIK, Kacik
selalu berada di garis depan. Dia sangat
lantang menentang kediktatoran Soeharto.
Maka tidak heran, ia menjadi buronan
aparat," kata Rindra, eks aktivis FAMI
sekaligus Formajo
Kacik juga pernah menjadi Ketua Yayasan
Arek Surabaya. Yayasan inilah yang
pertama kali melakukan advokasi terhadap
kasus Marsinah. Bahkan, bersama 10 LSM
lainnya, Kacik kemudian membentuk
Komite Solidaritas Untuk Marsinah
(KASUM). KASUM merupakan lembaga
yang ditujukan khusus untuk mengadvokasi
dan investigasi kasus pembunuhan aktivis
buruh Marsinah. Selain Kacik, di dalam
lembaga tersebut juga ada almarhum Munir
(aktivis KontraS).
Hadi Ciptono, wafat di Surabaya, Senin
(26/8/2013) lalu. Sebelumnya, alumnus
Unair Surabaya ini mengalami serangan
stroke dan harus menjalani perawatan di
RSAL. Ia meninggalkan seorang istri dan
seorang anak. Jenazah aktivis era 80-an ini
dimakamkan di TPU Tembok Surabaya.
https://www.facebook.com/hadi.kacik
1980-an hingga 1998 terlihat berkumpul
dalam tahlil mengenang 7 hari wafatnya
Hadi Ciptono alias Kacik di rumah Khusnul,
istri almarhum, di Desa Sambongdukuh
Kecamatan Jombang Kota, Sabtu
(31/8/2013) malam.
Seperti yang telah
diketahui, Kacik adalah aktivis yang paling
diburu rezim Soeharto dan dia pula aktivis
yang melakukan investigasi kasus buruh
Marsinah.
Usai tahlil dan kirim doa, mereka terlibat
diskusi kecil dan merefleksikan kiprah Kacik
di dunia pergerakan, baik secara lokal
maupun kancah nasional. "Kacik adalah
guru sekaligus kawan dalam pergerakan.
Kami sangat kehilangan atas meninggalnya
Kacik," ujar Hananto Veri, mantan Sekjen
MAK (Masyarakat Anti Kekerasan)
Jombang.
Veri menceritakan perkenalannya dengan
Kacik pada tahun 1995. Saat itu mereka
bersama-sama melakukan advokasi
terhadap buruh CV Maska Perkasa. Ribuan
buruh pabrik sepatu di kawasan
Tunggorono Jombang itu di-PHK tanpa
pesangon. Nah, saat itulah Kacik juga
terlibat aktif dalam pendampingan buruh.
Hingga kemudian mahasiswa membentuk
KSBM (Komite Solidaritas Buruh Maska).
Selain Veri, beberapa eks aktivis FAMI
(Front Aksi Mahasiswa Indonesia) juga turut
hadir, diantaranya Rindra Iman Lesmana,
mantan aktivis Formajo (Forum Mahasiswa
Jombang), Wijayadi, serta sejumlah mantan
aktivis buruh yang tergabung dalam KABUT
(Komite Aksi Buruh Tertindas).
"Totalitas Kacik dalam dunia pergerakan
tidak diragukan lagi. Mulai kasus Marsinah,
kasus Maska, hingga kasus pembredelan
majalah Tempo, Editor, dan DeTIK, Kacik
selalu berada di garis depan. Dia sangat
lantang menentang kediktatoran Soeharto.
Maka tidak heran, ia menjadi buronan
aparat," kata Rindra, eks aktivis FAMI
sekaligus Formajo
Kacik juga pernah menjadi Ketua Yayasan
Arek Surabaya. Yayasan inilah yang
pertama kali melakukan advokasi terhadap
kasus Marsinah. Bahkan, bersama 10 LSM
lainnya, Kacik kemudian membentuk
Komite Solidaritas Untuk Marsinah
(KASUM). KASUM merupakan lembaga
yang ditujukan khusus untuk mengadvokasi
dan investigasi kasus pembunuhan aktivis
buruh Marsinah. Selain Kacik, di dalam
lembaga tersebut juga ada almarhum Munir
(aktivis KontraS).
Hadi Ciptono, wafat di Surabaya, Senin
(26/8/2013) lalu. Sebelumnya, alumnus
Unair Surabaya ini mengalami serangan
stroke dan harus menjalani perawatan di
RSAL. Ia meninggalkan seorang istri dan
seorang anak. Jenazah aktivis era 80-an ini
dimakamkan di TPU Tembok Surabaya.
https://www.facebook.com/hadi.kacik
Jumat, 15 Maret 2013
Tragedi HayMarket
Peristiwa Kerusuhan Haymarket terjadi pada tanggal 4 Mei 1886 di Chicago, Illinois merupakan asal usul lahirnya perayaan Hari Buruh internasional atau biasa disebut May Day. Penyebab terjadinya insiden ini masih menyimpan kontroversi.

Aksi pemogokan menuntut 8 jam kerja dalam sehari
Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan "Delapan Jam Sehari".
Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. Sekitar 30.000 pekerja bergabung dengan mereka di kemudian hari. Para pekerja turun ke jalan bersama anak-anak serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal 'Delapan Jam Sehari.' Pemogokan ini membawa aktivitas industri di Chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.
Pada tanggal 1 Mei 1886 (Kemudian dikenal sebagai May Day), saat itu sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di Amerika Serikat.
Dua hari kemudian, 3 Mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick. Polisi dengan membabi-buta menembaki pemogok yang berhamburan, pada saat kejadian ini terdapat empat orang tewas dan jauh lebih banyak lagi luka-luka. Ini menimbulkan amarah di kalangan kaum buruh, sebagian menganjurkan supaya mereka membalas dengan mengangkat senjata.
Sejumlah kaum anarkis yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies, juga merupakan anggota aktif Knights of Labour, menyerukan kepada kelas pekerja agar mempersenjatai diri dan berpartisipasi di dalam demonstrasi keesokan hari.
Pertemuan di hari berikut, 4 Mei 1886, berlokasi di bunderan lapangan Haymarket, para buruh kembali menggelar aksi mogoknya dengan skala yang lebih besar lagi, aksi ini jaga ditujukan sebagai bentuk protes tindakan represif polisi terhadap buruh. Semula aksi ini berjalan dengan damai.
Karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, sehingga 200 orang terluka, dan banyak yang tewas.
Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan-tuduhan bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. Mereka menyerukan 'sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal.' Setiap tempat pertemuan, sekretariat serikat pekerja, tempat cetak, serta rumah pribadi para aktifis diserang polisi. Setiap tokoh sosialis dan anarkis ditangkap. Bahkan individu-individu yang sama sekali tidak memahami apa itu sosialisme dan anarkisme, ditahan dan disiksa. Julius Grinnell, Jaksa Penuntut Umum kota tersebut, menyuruh kepolisian 'melakukan penyergapan terlebih dahulu baru kemudian mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran hukumnya'. Delapan dari tokoh anarkis yang aktif di Chicago, dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Mereka adalah August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer, George Engel, Fielden, Michael Schwab, Louis Lingg dan Oscar Neebe.
Pengadilan spektakuler kedelapan anarkis tersebut adalah salah satu sejarah buram lembaga peradilan AS yang sangat dipengaruhi kelas borjuis Chicago. Pada 21 Juni 1886, tanpa ada bukti-bukti kuat yang dapat mengasosiasikan kedelapan anarkis dengan insiden tersebut (dari kedelapan orang, hanya satu yang hadir. Dan Ia berada di mimbar pembicara ketika insiden terjadi), pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada para tertuduh. Pada 11 November 1887, Albert Parsons, August Spies, Adolf Fischer, dan George Engel dihukum gantung. Louise Lingg menggantung dirinya di penjara.
Sekitar 250.000 orang berkerumun mengiringi prosesi pemakaman Albert Parsons sambil mengekspresikan kekecewaan terhadap praktik korup pengadilan AS. Kampanye-kampanye untuk membebaskan mereka yang masih berada di dalam tahanan, terus berlangsung. Pada Juni 1893, Gubernur Altgeld, yang membebaskan sisa tahanan peristiwa Haymarket, mengeluarkan pernyataan bahwa, "mereka yang telah dibebaskan, bukanlah karena mereka telah diampuni, melainkan karena mereka sama sekali tidak bersalah." Ia meneruskan klaim bahwa mereka yang telah dihukum gantung dan yang sekarang dibebaskan adalah korban dari 'hakim-hakim serta para juri yang disuap.' Tindakan ini mengakhiri karier politiknya.
Bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi Haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan 'Delapan Jam Sehari', tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada Kongres Internasional Kedua di Paris, 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Penetapan untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak-haknya.
Meskipun begitu, komitmen Internasional Kedua kepada tradisi May Day diwarisi dengan semangat berbeda. Kaum Sosial Demokrat Jerman, elemen yang cukup berpengaruh di Organisasi Internasional Kedua, mengirim jutaan pekerja untuk mati di medan perang demi 'Negara dan Bangsa.' Setelah dua Perang Dunia berlalu, May Day hanya menjadi tradisi usang, di mana serikat buruh dan partai Kiri memanfaatkan momentum tersebut demi kepentingan ideologis. Terutama di era Stalinis, di mana banyak dari organisasi anarkis dan gerakan pekerja radikal dibabat habis di bawah pemerintahan partai komunis. Hingga hari ini, tradisi May Day telah direduksi menjadi sekadar 'Hari Buruh', dan bukan lagi sebuah hari peringatan kelas pekerja atau proletar untuk menghapuskan kelas dan kapitalisme.
Monumen Haymarket
Delapan orang pemimpin buruh yang didakwa dan dijatuhi hukuman mati adalah :
* August Spies, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* Albert Parsons, warga A.S., tewas digantung
* Adolph Fischer, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* George Engel, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* Louis Lingg, imigran berkebangsaan Jerman, bunuh diri dengan menggunakan dinamit saat berada di dalam penjara
* Michael Schwab imigran berkebangsaan Jerman, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
* Samuel Fielden imigran berkebangsaan Inggris, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
* Oscar Neebe warga A.S. keturunan Jerman, dihukum 15 tahun penjara kemudian diampuni pada tahun 1893.
Antara tahun 1870-1900 di Amerika disebut sebagai era populis.
Pada tahun-tahun itu pertumbuhan serikat buruh (labour unions) pararel dengan pertumbuhan bisnis yang membesar. Saat itu buruh bekerja keras dalam jam kerja yang panjang (11-14 jam) dengan gaji rendah.
Kebanyakan buruh menerima 9-20 dollar per minggu tergantung skill mereka. Beberapa buruh wanita unskilled (kurang terampil) hanya menerima 2 dollar untuk 60 jam kerja.
Sejak tahun 1865 buruh Amerika mulai mengorganisasi diri untuk mengimprove kondisi kerja mereka dalam skala nasional. Memperkuat lokal union untuk mengadakan deal-deal dengan korporasi besar. Selama perang sipil jumlah serikat buruh lokal berkembang dari 79 menjadi 270.
Beberapa gain dibuat olah serikat buruh berupa kenaikan gaji dan jam kerja dikurangi dari 12 jam menjadi 10 jam.
Kebanyakan lokal union dibentuk oleh imigran-imigran yang hidup berkelompok dan tersebar di blok-blok kota menurut budaya etnik masing-masing,membawa isme-isme baru seperti sosialisme dan anarkisme. Mereka punya andil besar dalam pemogokan Rel Kereta Api 1877 dan pemogokan Hay Market 1886 yang menuntut 8 jam kerja per hari.
Politisi,utamanya senator Massachusetts,Henry Cabot menginginkan menyetop kedatangan imigran dari eropa selatan dan timur (Itali & Rusia). Mereka dianggap merusak nasionalisme Amerika (barat) karena mempraktekkan jalan hidup sendiri, punya gereja sendiri,klub dan koran sendiri.
Gerakan buruh terus berlanjut pada era progresif antara tahun 1890-1914. ditandai dengan tampilnya Eugene V. Debs dari Partai Sosialis sebagai kandidat presiden Amerika Serikat yang bermodal dukungan 900.000 suara. Mereka disebut faksi sosialis moderat di bawah pimpinan Debs. Program favorit sosialis moderat adalah pengenaan pajak penghasilan yang adil atau proporsional antara orang kaya dan miskin.
May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.
Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.
Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.
Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.
Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 [1], menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Sumber: Wikipedia

Aksi pemogokan menuntut 8 jam kerja dalam sehari
Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan "Delapan Jam Sehari".
Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. Sekitar 30.000 pekerja bergabung dengan mereka di kemudian hari. Para pekerja turun ke jalan bersama anak-anak serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal 'Delapan Jam Sehari.' Pemogokan ini membawa aktivitas industri di Chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.
Pada tanggal 1 Mei 1886 (Kemudian dikenal sebagai May Day), saat itu sebanyak 350.000 orang buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan pemogokan di banyak tempat di Amerika Serikat.
Dua hari kemudian, 3 Mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick. Polisi dengan membabi-buta menembaki pemogok yang berhamburan, pada saat kejadian ini terdapat empat orang tewas dan jauh lebih banyak lagi luka-luka. Ini menimbulkan amarah di kalangan kaum buruh, sebagian menganjurkan supaya mereka membalas dengan mengangkat senjata.
Sejumlah kaum anarkis yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies, juga merupakan anggota aktif Knights of Labour, menyerukan kepada kelas pekerja agar mempersenjatai diri dan berpartisipasi di dalam demonstrasi keesokan hari.
Pertemuan di hari berikut, 4 Mei 1886, berlokasi di bunderan lapangan Haymarket, para buruh kembali menggelar aksi mogoknya dengan skala yang lebih besar lagi, aksi ini jaga ditujukan sebagai bentuk protes tindakan represif polisi terhadap buruh. Semula aksi ini berjalan dengan damai.
Karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, sehingga 200 orang terluka, dan banyak yang tewas.
Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan-tuduhan bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. Mereka menyerukan 'sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal.' Setiap tempat pertemuan, sekretariat serikat pekerja, tempat cetak, serta rumah pribadi para aktifis diserang polisi. Setiap tokoh sosialis dan anarkis ditangkap. Bahkan individu-individu yang sama sekali tidak memahami apa itu sosialisme dan anarkisme, ditahan dan disiksa. Julius Grinnell, Jaksa Penuntut Umum kota tersebut, menyuruh kepolisian 'melakukan penyergapan terlebih dahulu baru kemudian mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran hukumnya'. Delapan dari tokoh anarkis yang aktif di Chicago, dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Mereka adalah August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer, George Engel, Fielden, Michael Schwab, Louis Lingg dan Oscar Neebe.
Pengadilan spektakuler kedelapan anarkis tersebut adalah salah satu sejarah buram lembaga peradilan AS yang sangat dipengaruhi kelas borjuis Chicago. Pada 21 Juni 1886, tanpa ada bukti-bukti kuat yang dapat mengasosiasikan kedelapan anarkis dengan insiden tersebut (dari kedelapan orang, hanya satu yang hadir. Dan Ia berada di mimbar pembicara ketika insiden terjadi), pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada para tertuduh. Pada 11 November 1887, Albert Parsons, August Spies, Adolf Fischer, dan George Engel dihukum gantung. Louise Lingg menggantung dirinya di penjara.
Sekitar 250.000 orang berkerumun mengiringi prosesi pemakaman Albert Parsons sambil mengekspresikan kekecewaan terhadap praktik korup pengadilan AS. Kampanye-kampanye untuk membebaskan mereka yang masih berada di dalam tahanan, terus berlangsung. Pada Juni 1893, Gubernur Altgeld, yang membebaskan sisa tahanan peristiwa Haymarket, mengeluarkan pernyataan bahwa, "mereka yang telah dibebaskan, bukanlah karena mereka telah diampuni, melainkan karena mereka sama sekali tidak bersalah." Ia meneruskan klaim bahwa mereka yang telah dihukum gantung dan yang sekarang dibebaskan adalah korban dari 'hakim-hakim serta para juri yang disuap.' Tindakan ini mengakhiri karier politiknya.
Bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi Haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan 'Delapan Jam Sehari', tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada Kongres Internasional Kedua di Paris, 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Penetapan untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak-haknya.
Meskipun begitu, komitmen Internasional Kedua kepada tradisi May Day diwarisi dengan semangat berbeda. Kaum Sosial Demokrat Jerman, elemen yang cukup berpengaruh di Organisasi Internasional Kedua, mengirim jutaan pekerja untuk mati di medan perang demi 'Negara dan Bangsa.' Setelah dua Perang Dunia berlalu, May Day hanya menjadi tradisi usang, di mana serikat buruh dan partai Kiri memanfaatkan momentum tersebut demi kepentingan ideologis. Terutama di era Stalinis, di mana banyak dari organisasi anarkis dan gerakan pekerja radikal dibabat habis di bawah pemerintahan partai komunis. Hingga hari ini, tradisi May Day telah direduksi menjadi sekadar 'Hari Buruh', dan bukan lagi sebuah hari peringatan kelas pekerja atau proletar untuk menghapuskan kelas dan kapitalisme.
Monumen Haymarket
Delapan orang pemimpin buruh yang didakwa dan dijatuhi hukuman mati adalah :
* August Spies, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* Albert Parsons, warga A.S., tewas digantung
* Adolph Fischer, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* George Engel, imigran berkebangsaan Jerman, tewas digantung
* Louis Lingg, imigran berkebangsaan Jerman, bunuh diri dengan menggunakan dinamit saat berada di dalam penjara
* Michael Schwab imigran berkebangsaan Jerman, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
* Samuel Fielden imigran berkebangsaan Inggris, diberi keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan penjara seumur hidup, kemudian diampuni pada tahun 1893
* Oscar Neebe warga A.S. keturunan Jerman, dihukum 15 tahun penjara kemudian diampuni pada tahun 1893.
Antara tahun 1870-1900 di Amerika disebut sebagai era populis.
Pada tahun-tahun itu pertumbuhan serikat buruh (labour unions) pararel dengan pertumbuhan bisnis yang membesar. Saat itu buruh bekerja keras dalam jam kerja yang panjang (11-14 jam) dengan gaji rendah.
Kebanyakan buruh menerima 9-20 dollar per minggu tergantung skill mereka. Beberapa buruh wanita unskilled (kurang terampil) hanya menerima 2 dollar untuk 60 jam kerja.
Sejak tahun 1865 buruh Amerika mulai mengorganisasi diri untuk mengimprove kondisi kerja mereka dalam skala nasional. Memperkuat lokal union untuk mengadakan deal-deal dengan korporasi besar. Selama perang sipil jumlah serikat buruh lokal berkembang dari 79 menjadi 270.
Beberapa gain dibuat olah serikat buruh berupa kenaikan gaji dan jam kerja dikurangi dari 12 jam menjadi 10 jam.
Kebanyakan lokal union dibentuk oleh imigran-imigran yang hidup berkelompok dan tersebar di blok-blok kota menurut budaya etnik masing-masing,membawa isme-isme baru seperti sosialisme dan anarkisme. Mereka punya andil besar dalam pemogokan Rel Kereta Api 1877 dan pemogokan Hay Market 1886 yang menuntut 8 jam kerja per hari.
Politisi,utamanya senator Massachusetts,Henry Cabot menginginkan menyetop kedatangan imigran dari eropa selatan dan timur (Itali & Rusia). Mereka dianggap merusak nasionalisme Amerika (barat) karena mempraktekkan jalan hidup sendiri, punya gereja sendiri,klub dan koran sendiri.
Gerakan buruh terus berlanjut pada era progresif antara tahun 1890-1914. ditandai dengan tampilnya Eugene V. Debs dari Partai Sosialis sebagai kandidat presiden Amerika Serikat yang bermodal dukungan 900.000 suara. Mereka disebut faksi sosialis moderat di bawah pimpinan Debs. Program favorit sosialis moderat adalah pengenaan pajak penghasilan yang adil atau proporsional antara orang kaya dan miskin.
May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.
Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.
Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.
Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.
Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 [1], menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Sumber: Wikipedia
Minggu, 17 Februari 2013
Penemu Kamera Adalah Ilmuwan Islam
Kamis, 14 Februari 2013
Penemu Kamera Ternyata Seorang Muslim
Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ”Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.”The Independent" 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim menyebut sekitar yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.
Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.
“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.
Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang
fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.
Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).
Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).
Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.
Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.
Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.
Editor : mufti
Penemu Kamera Ternyata Seorang Muslim
Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ”Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.”The Independent" 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim menyebut sekitar yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.
Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.
“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.
Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang
fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.
Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).
Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).
Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.
Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.
Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.
Editor : mufti
Senin, 02 Juli 2012
Islam itu Sosialis, Pancasila itu Islami (2)
Di Timur Tengah sosok sosialisme muncul dalam bentuk sosialisme arab yang merupakan buah pemikiran penting dari beberapa tokoh diantaranya Gamal Abdul Nasser, Moamar Khadafi, dan Ali Syariati.
Gamal Abdul Nasser dengan prinsip dasar sosialismenya yaitu memberi kesempatan yang sama dalam apa yang mestinya diperoleh rakyat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara demokratis dan mendapat pengayoman dari pemerintah serta mendapat keadilan demi mencapai kesejahteraan telah mampu menggerakkan revolusi di Mesir pada 23 juli 1952.
Gamal abdel Nasser presiden Mesir kedua,setelah menggulingkan Muhammad Naquib,lahir di Alexandria pada 15 januari 1918. Beristri Tahia Kazem, adalah muslim sunni yang menjadi negarawan arab terkemuka dalam sejarah.
Berpangkat mayor saat ikut perang melawan Israel pada tahun 1948. Mengalami terperangkap bersama pasukannya di kawasan 'POKET FALUJA' dan berhasil selamat. Kemudian pada 1952 memimpin tentara untuk mengkudeta Raja Farouk I.
Pada masa pemerintahannya Nasser membangkitkan Nasionalisme arab dan Pan arabisme menasionalisasi TERUSAN SUEZ yang membuat Mesir berhadapan dengan PRANCIS,INGGRIS dan israel yang berkepenting an dengan terusan itu. Krisis akhirnya dapat diselesaikan dengan keputusan dunia yang menguntungkan Mesir, terusan itu masuk kedaulatannya. Kemudian Nasser mengadakan proyek infrastruktur besarbesaran diantaranya adalah proyek bendungan ASWAN dengan bantuan pemerintah SOVYET . Setelah kalah dalam perang 6 hari dengan Israel pada tahun 1967,Nasser mengumumkan akan menarik diri dari dunia politik tapi rakyat mencegahnya. Nasser sekali lagi memimpin perang 1969-1970 (war of atrition). Nasser meninggal akibat sakit jantung,2 minggu setelah perang usai pada 28 september 1970.
Nasser melahirkan konsep imagine community ala Naser . Hal kontroversial melekat pada diri Nasser. Dialah yang menghukum mati ulama aktifis kharismatik pada jamannya,HASSAN AL BANNA dan SAYYID QUTB,ikon IKHWANUL MUSLIMIN. Karna alasan itu Nasser sering dibenci oleh aktifis islam, khususnya yang memiliki kedekatan ideologis dengan IKHWAN. Di sisi lain NASSER lah satu-satunya pemimpin arab yang mampu menakuti israel,negeri zionis yang dianggap representasi praktek kolonialisme modern. Kehadirannya membuat PALESTIN terkungkung di rumah sendiri dan dunia arab selalu dilanda ketidakstabilan sosialpolitik. Nasser yang berada di garis yang jelas untuk menentang negara bentukan BEN GURION itu. Sesuatu yang tidak dilakukan IRAN sejak rejim para mullai itu berkuasa.
Nasser kalah dalam mempersatukan ARAB. ARAB SAUDI Negara paling berpengaruh tidak pernah sungguh-sungguh membantu impiannya. Nasser ingin arab jadi milik orang arab bukan milik AMERIKA melalui israel. "mengapa seratus juta orang arab masih tercerai berai?",keluhnya saat kehilangan harapan untuk menghapus israel dari bumi arab.
Hubungan MESIR dan ARAB SAUDI Saat itu terganjal dengan adanya raja SUUD berdiam di kairo setelah melarikan diri. Ini yang membuat geram raja FAISAL yang menggantikan memimpin ARAB SAUDI.
Karena tidak mendapat dukungan dari sesama arab, Nasser terpaksa menggantungkan harapan pada uni sovyet . Ia anggap, arab akan tenggelam dalam kehinaan bila angkatan perangnya tidak direhab. Nasser pun menarik sovyet ke dalam masalah timur tengah.
Mesir terancam bahaya karena tak terlindungi persenjataan yang canggih. Terutama bendungan ASWAN yang selalu jadi incaran israel. Melihat kondisi seperti itu,bagaimana Nasser melindungi Mesir dari israel?. Pelabuhan PORT SAID hancur oleh perang sebelumnya. Tinggal ISKANDARIYAH. Bila itu juga diserbu dan dihancurkan, tak ada lagi harapan.
Usaha Nasser menarik uni sovyet masuk ke masalah timurtengah nampaknya tak tanggung tanggung. Saat sovyet merasa ragu, Nasser mengatakan dengan geram, "baiklah,jika mesir tidak memperoleh apa yang dimintanya,maka dunia akan tahu,satu satunya keputusan ada di tangan AMERIKA,saya akan menyatakan pada rakyat saya bahwa sudah tiba masanya bagi saya mundur, tempat saya akan digantikan oleh orang yang pro AMERIKA".
Presiden sovyet kala itu LEONID ILYICH BREZHNEV berkata,"kamerad Nasser, baiklah,sovyet akan membantu anda!".
Dan bantuan senjata pun mengalir deras ke kairo dan membuat israel kewalahan. Moshe Dayan panglima israel yang punya julukan SI MATA SATU dibuat malu pada perang YOM KIPPUR.
Negarawan kontemporer ini memunculkan sosialisasisme arab yang ingin dilaksanakan dalam kawasan REPUBLIK PERSATUAN ARAB untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh arab dan meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik bagi setiap penduduk. Tatanan masyarakat baru yang dikehendaki adalah yang dinamis,masyarakat yang saling membantu, memanfaat kan sebagian hak milik individu untuk kesejahteraan kelompok. Sosialisme arab Nasser menitikberatkan kepada pertumbuhan ekonomi untuk kemakmuran rakyat dan bukan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil konglomerat atau klan-klan sebagaimana yang dialami Mesir waktu itu. Nasser mengisyaratkan sosialisme arab tidak sama dengan sosialisme MARXIS &LENIN , akan tetapi sosialisme yang digali dari norma-norma islam yang dilegitimasi ulama dan cendekiawan muslim.
Kharisma Nasser mampu menarik perhatian rakyat. Itu ditunjukkan dengan antusiasme rakyat saat mendengar pidato pidatonya di radio,mirip BUNG KARNO. 26 Juli 1956 Nasser mengumumkan akan menasionalisasi Terusan suez.
"Terusan itu milik kita, yang dibayar dengan 120.000 nyawa rakyat Mesir. Mesir tak butuh bantuan barat karena memiliki sumber penghasilan yang besar".
Gebrakan itu ingin membuat Mesir keluar dari kemiskinan dan membuatnya dikukuhkan sebagai BAPAK PENDIRI MESIR MODERN. Bersama BUNG KARNO juga menjadi pencetus dan pendiri GERAKAN NON BLOK. Hal ini membuatnya semakin dikagumi rakyat Mesir dan oleh pemimpin pemimpin negara dunia ketiga.
Ide cemerlang Nasser menasionalisasi terusan suez sepanjang 163 km yang menghubungkan pelabuhan SAID di laut tengah dengan SUEZ (Al-suways) di laut Merah,bertujuan untuk penggalangan dana demi pembangunan bendungan Aswan.
Terusan yang dibuka tahun 1870 atas pendanaan dari Perancis itu sebelumnya diurusi oleh UNIVERSAL COMPANY OF SUEZ MARITIM CANAL, Sangat penting bagi Inggris dan negara eropa lainnya. Penghubung Inggris dengan koloninya India, Australia dan Selandia baru. Tahun 1875 Inggris membeli saham SUEZ CANAL Co. Hingga memperoleh kekuasaan atas pengoperasian Terusan itu dan membaginya dengan investor Perancis.
Pada tahun 1882,selama invasi atas Mesir,Inggris secara de facto menguasai terusan itu. Konvensi KONSTANTINOPEL 1888 Mendeklarasikan TS sebagai zona netral di bawah perlindungan inggris. Sultan UTSMANI setuju memberi ijin kepada kapal kapal asing lewat baik saat damai maupun perang.
Saat Inggris dan Prancis pasca perang dunia II ngotot menguasai TS mendapat tentangan dari anggota NATO seperti Portugal dan Islandia. Pakta WARSAWA pun mengancam akan membantu Mesir habis-habisan untuk menghadapi mereka jika tidak mundur dari Mesir. Amerika yang merupakan sekutu Inggris juga ikutan menekan dengan mengurangi dana bantuan untuk rehabilitasi ekonomi pasca PD II. Arab Saudi juga mulai embargo minyak.
Sir Anthony Eden,PM inggris terpaksa mundur. Akhirnya TS menjadi milik Mesir pada 1957 setelah Israel menarik pasukan dari semenanjung Sinai. Invasi Barat pun berakhir. Aktifitas ekspor- impor dikontrol oleh Mesir sendiri hingga memperoleh devisa yang besar.
Pada 9 januari 1960 dimulailah proyek pembangunan bendungan raksasa di sungai Nil dan selesai pada 21 juli 1970.Diharapkan sumber daya akan berlipat ganda dan menambah 200 juta pounds atau setara 3,56 milyar rupiah waktu itu masuk ke pos pendapatan negara.
Bendungan ASWAN memiliki tinggi 114 meter dan panjang 3600 meter. Mampu memproduksi listrik 2100 megawatt. Selain itu membantu pengairan pertanian. Tanpa dibendung, sungai Nil akan membanjiri daerah di sekitar sungai dan menyapu hasil pertanian, walaupun banjir membawa zat-zat nutrisi dan mineral bagi kesuburan tanah.
Di sepanjan kawasan TS itu dibangun berbagai pabrik, mulai dari industri tekstil, bahan kimia,besi, minyak serta olahannya untuk memacu perekonomian Mesir. Reformasi ekonomi Nasser lainnya adalah menjalankan redistribusi tanah untuk rakyat. Kebijakan sosialis lainnya adalah mengubah status AL AZHAR , Universitas tertua di dunia yang sebelumnya lembaga waqof independen menjadi lembaga pemerintah.
Revolusi rakyat pada tanggal 25 januari 2011 yang menggulingkan presiden Mubarak memberi jalan bagi para sesepuh AL AZHAR untuk mengembalikan posisi universitas yang didirikan oleh panglima BANI FATHIMIYAH, Jauhar Ash Shiqilli pada 970 masehi itu sebagai lembaga waqof pendidikan milik dunia islam.
Demikian Nasser dengan sosialismenya. Membangkitkan kepercayaan diri bangsanya dan negara negara dunia ketiga, terutama yang berpenduduk mayoritas muslim. Virus pergerakkan Nasser menular ke LIBYA,IRAK,IRAN, INDIA, dan INDONESIA. Namun yang paling kita soroti adalah apa yang terjadi di LIBYA.
Di Libya, ide sosialisme ala Khadafi muncul menggerakkan revolusi al fatih tahun 1969. Khadafi menafsirkan sosialisme (isytirakiyah) sebagai suatu sistem yang didasarkan pada ALQURAN dan kebudayaan arab ,bukan pada marxisme atau sosialisme manapun.
Ciri pembeda sosialisme berkarakter islam adalah penghargaan terhadap hak kepemilikan pribadi sebagai sesuatu yang suci. Kalau kapitalis, suatu kelas yang menguasai kelas yang lain (proletariat) . Sedangkan sistem komunis, pemerintah menguasai seluruh kelas sosial.
Khadafi meyakini istilah ini selain terdapat dalam alquran maupun hadis, juga telah dilaksanakan oleh masyarakat di jaman nabi. Di dalamnya terdapat prinsip- prinsip kepemilikan pribadi, kerja bersama/gotong royong,persamaan hukum dan keadilan sosial.
Sumber daya alam nasional tidak termasuk milik pribadi, harus bisa dinikmati oleh seluruh kalangan rakyat.
Tafsir sosialisme itu ia rumuskan dalam BUKU HIJAU (Kitab al akhdar) yang kemudian jadi basis ideologi pemerintahnya. Ia menginterpretasi konsep syura dalam alquran (QS 42:38) sebagai jawaban atas demokrasi barat. Syura ditafsirkan dalam bentuk komite/kongres rakyat yang berfungsi sebagai lembaga legislatif dan eksekutif. Sistem ala khadafi mendukung wakil rakyat dipilih langsung.
Oleh Mujtaba Hamdi
“Qaddafi memiliki kemiripan dengan Soekarno,” ujar Pramono Anung. “Sama-sama memperjuangkan sosialisme lokal. Jika Soekarno bicara sosialisme ala Indonesia, maka Qaddafi mendengungkan sosialisme Libya dengan semboyan ‘sosialisme, persatuan dan kebebasan’.”1 Ketika itu, November 2007, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) ini mendampingi Presiden Megawati Sukarnoputri dalam kunjungannya ke Libya, menemui pemimpin negeri itu, Muammar Qaddafi.
Muammar Qaddafi mencanangkan semboyan “Sosialisme, Persatuan dan Kebebasan” selepas Revolusi Al-Fateh 1969. Ketiga semboyan yang dikonsepkan Qaddafi ini memang unik. Seperti halnya Soekarno, Qaddafi mencari akar-akar pemikiran dan budaya setempat sebagai landasan dasar. Pemikiran Qaddafi banyak dipengaruhi Gamal Abdul Nasser, dan butuh perjalanan panjang hingga kemudian tiga semboyan, yang mirip konsep Trisakti Soekarno2, itu dicanangkan.
Ketiga semboyan itu lahir persis ketika kolonialisme di Afrika mulai mendapat perlawanan keras. Qaddafi, yang lahir pada 1942 itu, tertarik pada ide-ide antikolonialisme sejak usia dini. Awal 1960an, anak muda Libya sedang giat-giatnya terlibat dalam politik nasionalis ala Nasser. Perdana menteri Mesir, yang bersama-sama Soekarno menggalang Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 itu, menjadi pujaan anak-anak muda Libya.
Selain di bawah kuku kolonialisme, Libya sedang dikuasai oleh kepemimpinan monarki yang makin berjarak dari rakyatnya. Rakyat Libya miskin, meski ladang-ladang minyak bertebaran di tanah air mereka. Sejumlah anak muda terdidik membangun kekuatan di luar garis kekuasaan kesukuan yang sedang memegang kendali.
Di usia belasan tahun, Qaddafi banyak menghabiskan masa di depan radio transistor. Ia mendengarkan Voices of The Arabs3, sebuah radio berbasis di Mesir yang menyiarkan semangat nasionalisme Arab. Kesadaran politiknya tumbuh berkembang seiring dengan semakin intensifnya ia mendengarkan pidato-pidato Gamal Abdul Nasser yang membakar. Kharisma Nasser memang telah memikat Qaddafi. Pada 1952, Nasser telah berhasil melengserkan Raja Farouk I, dan membentuk sebuah republik di sana.
Qaddafi dengan cepat mengadopsi filosofi-filosofi Nasser, terpenting mengenai gagasan pemersatuan bangsa Arab dan penolakan terhadap kolonialisme Barat. Pada zaman itu, Nasser membakar semangat negeri-negeri Arab di kawasan, membangun perasaan nasionalisme, dan bersama-sama menentang penjajahan dari luar. Negeri yang menjadi audiens Nasser di antaranya Libya, Tunisia, Maroko, Syria, Lebanon, Irak, Yordania, Saudi Arabia, dan Yaman. Nasser mengajak negeri-negeri ini agar sebarisan dengan Mesir menghadapi kekuatan kolonial. Qaddafi begitu semangat menyerap pandangan-pandangan ini. Saking mendalamnya, seorang kawannya sempat bilang4 bahwa Qaddafi nyaris menjadi seorang Mesir ketimbang seorang Libya.
Ketika Libya mendapatkan kemerdekaannya, Qaddafi baru saja lulus sekolah dasar di Sirte. Ia lalu melanjutkan ke sekolah menengah di Fezzan. Dan di sinilah ia mulai membentuk kelompok—yang akan menjadi dewan revolusi ketika Qaddafi berhasil menggulingkan kekuasaan monarki Libya nantinya. Semakin lama, kelompok bentukan Qaddafi ini semakin besar, dan kerap terlibat dalam aksi-aksi anti kolonialisme. Qaddafi sempat mengorganisir demonstrasi yang mendukung gerakan Nasser di Mesir dan menentang kolonialisme yang memboncengi Israel. Entah, mungkin karena inilah, Qaddafi dikeluarkan dari sekolah dengan alasan “membangkang”.
Tapi tak lama kemudian, Qaddafi bisa melanjutkan sekolahnya kembali. Ia masuk ke Universitas Libya, tempat ia mempelajari sejarah, ilmu politik, juga ide-ide Marxisme. Qaddafi juga menjalani pelatihan militer, dan mendorong kawan-kawannya mengambil pelatihan serupa—generasi anak muda ini nantinya menjadi perwira dalam Tentara Nasional Libya (Libyan Army). Qaddafi lulus dengan nilai tinggi. Tapi kemudian dia memilih mendaftarkan diri di Akademi Militer Benghazi (Benghazi Military Academy), yang dengan mudah diterima karena nilai akademiknya yang luar biasa.
Di akademi ini pula, Qaddafi membentuk kelompok kecil. Ia mengumpulkan calon-calon perwira yang memiliki semangat dan latar belakang serupa. Selepas lulus dari akademi, Qaddafi ditugaskan di Tentara Nasional Libya dengan pangkat Letnan. Ia dikirim ke Inggris, untuk pelatihan lebih lanjut. Sekembali dari Inggris, Qaddafi meluangkan banyak kesempatan untuk melakukan rekruitmen anggota revolusi. Ia mengadakan pertemuan-pertemuan reguler yang sedemikian rupa dirahasiakan dari pengawasan rezim yang berkuasa saat itu, rezim Raja Idris.
Sekompok anak muda yang dibentuk Qaddafi sepertinya telah menjadi komunitas revolusioner yang kuat. Di dinas ketentaraan, pendukung-pendukung Qaddafi itu mengelompokkan diri dalam Gerakan Perwira Bebas (Free Officers Movement). Mereka ini berkomitmen mendukung gagasan Qaddafi untuk mempersatukan bangsa Arab (Pan-Arab) dan menentang kolonialisme Barat.
Kelompok ini terus melakukan konsolidasi-konsolidasi rahasia. Hingga, pada akhir malam 1 September 1969 itu, Qaddafi dan pasukannya menggulingkan kekuasaan King Idris I, ketika sang raja sedang berada di luar negeri. Qaddafi menduduki Tripoli, Benghazi, dan beberapa kota kecil lainnya. Orang-orang Qaddafi juga menguasai stasiun radio di Benghazi, yang merupakan nyaris satu-satunya sumber informasi bagi rakyat Libya. Dari radio inilah, seluruh rakyat Libya, baik dari kota maupun pedalaman padang pasir, mendengar berita bergantinya kekuasaan.
Lewat radio itu, Qaddafi berpidato. Seperti halnya Soekarno, Qaddafi menyerukan rakyat bangkit melawan segala bentuk penjajahan. Qaddafi memastikan bahwa Libya sekarang ini bukanlah sekadar pion-pion negara adidaya. “Sejak sekarang, Libya termasuk republik yang bebas dan berdaulat, dengan nama Republik Arab Libya.”5 Qaddafi menyeru agar seluruh rakyat Libya bersatu “menentang musuh-musuh bangsa Arab, musuh-musuh Islam, musuh-musuh kemanusiaan yang telah menghancurkan tempat-tempat suci kita dan merontokkan kehormatan kita.” Segera setelah itu, Qaddafi juga mengumpulkan diplomat-diplomat AS, Soviet dan Perancis guna mendeklarasikan keberadaan pemerintahan baru dan menjelaskan seperti apa nantinya dia akan menjalankan republik ini.
Di pemerintahan baru ini, Qaddafi menjadi perdana menteri Republik Arab Libya Sosialis. Ia juga dipilih sebagai kepala angkatan bersenjata. Qaddafi, menurut Terri Willis, penulis Libya: Enchantment of The World, mendasarkan strategi pemerintahaannya pada tiga faktor: kebebasan politik dan ekonomi bagi rakyat; persatuan rakyat Libya dan persatuan seluruh bangsa di dunia Arab; hukum Islam sebagai penuntun bagi pencapaian keadilan. Tidak diragukan, ini juga mirip dengan pemikiran Soekarno yang tertuang dalam tulisannya “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”.
Anti-Kolonialisme, Nasionalisme
Begitu revolusi berhasil diwujudkan pada 1969, Qaddafi memantapkan semangat antikolonialisme dalam arena praksis. Untuk membersihkan Libya dari pengaruh kekuasaan lama atau dalam bahasa Soekarno “antek-antek kolonialisme”, Qaddafi ingin lebih memperjelas konsep kebebasan bagi Libya.
Bagi Qaddafi, konsep kebebasan, dalam slogan revolusi “sosialisme, kebebasan, persatuan” itu, mengandung tiga hal yang saling bertautan.6 Pertama, kebebasan setiap orang dari kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Kedua, kebebasan tanah air dari penguasaan kaum imperialis. Ketiga, emansipasi ekonomi, politik dan sosial keseluruhan dunia Arab. Qaddafi memperlihatkan mutlaknya pembebasan dari kekuatan imperialis untuk mencapai kebebasan dari kemiskinan dan kebodohan.
Dalam implementasi, pasca revolusi, Qaddafi langsung memusatkan upaya pembebasan dari simbol-simbol kekuasaan luar. Misalnya, pada 19 September 1969, RCC (Dewan Revolusi) yang dikomandani Qaddafi mengeluarkan perintah bahwa seluruh tanda, kartu, tiket di Libya harus ditulis hanya dengan Bahasa Arab. Beberapa waktu kemudian, RCC membidik isu yang lebih besar, yakni memaksa kuku imperialis Amerika dan Inggris hengkang dari Libya. Pada 29 Oktober 1969, Qaddafi menutup markas militer Inggris di Libya dan mengusir tentara-tentaranya. Sehari kemudian, giliran Qaddafi melikuidasi Wheelus Air Force Base, markas militer milik AS.
Tak tanggung-tanggung, Qaddafi juga melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing. Pada 14 November 1969, Qaddafi menasionalisasi bank-bank dan rumah sakit asing. Lalu pada 1971, ia menasionalisasi perusahaan minyak Inggris, British Petroleum. Menandai ulangtahun keempat Revolusi Al-Fateh, yakni 1 September 1973, Libya mengumumkan undang-undang nasionalisasi menyeluruh. Di situ, pemerintah menguasai 51 persen seluruh aset dan bisnis perusahaan minyak dan seluruh partner operator yang ada. “Hak untuk menasionalisasi perusahaan adalah hak dasar bagi seluruh negara dengan cadangan minyak,” kata Qaddafi.7
Konsep persatuan dalam slogan revolusi itu tak bisa dilepaskan dari sikap antikolonialisme Qaddafi. Berulang-ulang, Qaddafi menegaskan, kolonialisme telah merusak kesatuan bangsa-bangsa Afrika dan bangsa-bangsa Arab. Hingga saat ini, Qaddafi tetap mempertahankan pandangan ini. “Biang masalahnya adalah kekuatan kolonial yang telah memecah-belah Afrika,” tandas Qaddafi dalam sebuah pidato di Oxford tahun 2007.
Qaddafi yakin, Afrika sesungguhnya merupakan satu kesatuan besar. Namun kolonialisme telah membuatnya menjadi 50 negara, dengan batas-batas yang kabur dan membingungkan. Batas-batas ini telah memisahkan suku-suku Afrika dalam dua atau tiga negara terpisah. Ujungnya, muncul konflik. Kolonialisme telah menyebabkan banyak konflik. Somalia misalnya. “Siapa yang memisahkannya menjadi bagian Italia dan Inggris? Kolonialisme,” ujar Qaddafi.
Untuk mengatasi problem ini, Qaddafi menandaskan perlunya integrasi yang jenuin. Persatuan menjadi mutlak. Semenjak Revolusi 1969, Qaddafi getol menggemakan pemikiran ini. Ia memprakarsai berbagai upaya pemersatuan bangsa-bangsa Arab. Pada 27 December 1969, misalnya, Qaddafi mencanangkan Piagam Tripoli (Tripoli Charter) yang mempersatukan Libya, Mesir dan Sudan. Ketiga negara ini menyatukan diri sebagai Front Revolusioner Arab. Mereka membentuk komite bersama dan sistem keamanan bersama. Antar negara melonggarkan sistem cukai, aliran tenaga kerja dan membangun kerjasama-kerjasama teknis lain.
Tak lama kemudian, persisnya 17 April 1971, Qaddafi memprakarsai pembentukan Federasi Republik-Republik Arab (Federation of Arab Republics), yang memadukan Libya, Mesir dan Syria. Federasi ini memiliki kerangka kerja bersama dalam kebijakan luar negeri mereka, meski tetap independen dalam menjalin hubungan diplomatik masing-masing dengan negara-negara luar. Melalui federasi ini, sebenarnya direncanakan adanya satu kepemimpinan bersama, penyatuan parlemen, dan sebagainya. Pendeknya, struktur politik bersama. Namun, berbagai hambatan membuat cita-cita Qaddafi tersebut tak terwujud.
Toh, Qaddafi tak surut langkah. Cita-cita pemersatuan bangsa-bangsa Arab terus menuntun langkah-langkahnya. Pada 1984, misalnya, Libya dan Maroko mengumumkan sebuah federasi yang dikenal dengan Persatuan Arab-Afrika (Arab-African Union). Lima tahun kemudian, Libya bergabung dengan Aljeria, Mauritania, Maroko, dan Tunisia dalam Persatuan Arab Maghrib (Arab Maghrib Union).
Bagi Qaddafi, bangsa-bangsa Arab memiliki modal dasar kuat untuk membangun persatuan. Ada dua, yakni nasionalisme dan agama. Dalam Teori Universal Ketiga, sebuah rumusan filsafat politik yang diluncurkan pada 1973, Qaddafi memaparkan bahwa nasionalisme dan agama merupakan kekuatan puncak pendorong sejarah dan kemanusiaan. Nasionalisme dinilai sebagai ekspresi natural dari keanekaragaman ras dan budaya, sehingga mampu menjadi kekuatan yang produktif. Nasionalisme Arab dinilai memiliki akar yang mendalam dan kejayaan masa lalu yang luar biasa. Bangsa Arab merupakan produk dari peradaban tua yang mendasarkan diri pada universalitas pesan al-Quran.
Qaddafi meletakkan Islam dan Quran sebagai sesuatu yang sentral dalam Teori Universal Ketiga ini. Tapi pemahaman Qaddafi terhadap Islam berbeda dari kaum ortodoks di zamannya. Esensi agama bagi Qaddafi adalah keesaan Tuhan. Ia tidak membedakan antara pengikut Muhammad, Isa maupun Musa. Bagi Qaddafi, hanya satu agama, yakni Islam, maka semua pengikut monoteis bisa dinilai sebagai Muslim. Qaddafi yakin, Islam diturunkan bukan hanya kepada pengikut Muhammad, namun sebagai iman kepada Tuhan, Islam telah menyatupadu dalam semua agama. Setiap individu yang percaya pada Tuhan dan utusan-utusannya oleh Qaddafi dinilai sebagai Muslim.
Mengenai al-Quran, Qaddafi menyatakan bahwa setiap Muslim punya posisi setara dalam menafsir dan memahami al-Quran. “Quran ditulis dalam Bahasa Arab dan karenanya setiap orang Arab bisa membacanya dan menerapkannya sendiri, tanpa bantuan orang lain,” tandas Qaddafi. Qaddafi juga mengkritik hadis sebagai sumber hukum Islam, dengan alasan bahwa sumber nyata satu-satunya adalah al-Quran. Begitu pula, Qaddafi mengkritik mazhab-mazhab dalam hukum Islam, dengan dasar bahwa semua itu merupakan hasil dari gesekan kekuatan-kekuatan politik yang sedang bersaing, jadi tidak berhubungan dengan Islam maupun al-Quran.
Bagaimana dengan nasionalisme? Bagi Qaddafi, kebangsaan lebih penting. Ketika diperhadapkan pada pilihan antara keagamaan dan kebangsaan dalam membangun integrasi, Qaddafi lebih mengedepankan faktor kebangsaan Arab. “Jika kita mengadopsi solusi berdasarkan Nasionalisme Arab dan Persatuan Arab, kita akan mengabaikan masalah perbedaan sekte-sekte agama,” ujar Qaddafi dalam sebuah wawancara tahun 1973.8 Kebangsaan Arab, bagi Qaddafi, akan mampu merekatkan berbagai perbedaan. Sebaliknya, ketika faktor agama muncul, masalah juga muncul. Akan mulai timbul, misalnya, apakah seorang pemimpin itu Sunni atau Syi’ah, dan seterusnya.
Nasionalisme Arab, atau Persatuan Arab, berarti integrasi keseluruhan Arab. “Kita menolak, misalnya, persatuan bangsa-bangsa Arab Afrika saja, atau Arab Asia saja,” kata Qaddafi.9 Begitu pula, Persatuan Arab ini tidak memandang apakah Arab Muslim atau Arab Kristiani. “Kita menyeru Persatuan Arab, bukan Persatuan Islam di Dunia Arab. Ketika kita mengatakan Persatuan Arab, itu berarti seluruh Muslim maupun Kristiani yang terlibat dalam memperjuangkan persatuan ini,” imbuh Qaddafi.
Menentang Kapitalisme, Melampaui Komunisme
Dalam membangun Indonesia, Soekarno tidak mau terjebak pada dominasi dua ideologi besar dunia saat itu: kapitalisme dan komunisme. Demikian pula Qaddafi. Melalui Teori Universal Ketiga, Qaddafi mengembangkan alternatif dari kapitalisme dan komunisme. Keduanya tidak sesuai dengan situasi Libya.
Baik kapitalisme maupun komunisme, bagi Qaddafi, berwatak monopolistik. Kapitalisme merupakan monopoli kepemilikan di tangan kaum kapitalis, sedangkan komunisme merupakan monopoli kepemilikan di tangan negara. Karena itu, Qaddafi memposisikan Amerika Serikat maupun Uni Soviet tak lebih sebagai negeri imperialis yang berupaya menancapkan kuku di tanah Timur Tengah.
Qaddafi menolak eksploitasi kelas dalam kapitalisme dan pertarungan kelas dalam komunisme. Keduanya tetap didasarkan pada dominasi sekelompok kecil elit. Bagi Qaddafi, kategori kelas merupakan sesuatu yang artifisial yang diimpor lewat kolonial. Melalui Teori Universal Ketiga, Qaddafi menolak sebuah bentuk hubungan kelas, dan justru hendak menghilangkan perbedaan kelas. Alternatifnya ada pada prinsip Islam yang bernama syura, musyawarah. Urusan nasional maupun urusan komunitas diputuskan lewat musyawarah bersama yang seluruh warga negara bisa bertukar pendapat secara langsung.
Qaddafi tidak saja melanjutkan gagasan nonblok, seperti yang diprakarsai Soekarno dan Nasser. Tapi juga menginginkan, negara-negara Dunia Ketiga berhubungan secara setara terhadap Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Dunia Ketiga mampu membuat perjanjian-perjanjian dengan kedua negara tersebut berdasarkan tujuan dan sasaran sendiri. Qaddafi menegaskan, Dunia Ketiga, khususnya negara-negara Arab, harus tidak lagi jatuh dalam dominasi kedua negara adidaya tersebut.
Karena itu, ideologi alternatif menjadi mutlak diperlukan. Bagi Qaddafi, Islam menjadi sumber alternatif yang jenuin. Apalagi, dalam dunia Arab, agama merupakan penggerak utama tindakan-tindakan dalam masyarakat. “Kita tidak bisa menolak bahwa agama merupakan faktor esensial dalam hidup seluruh rakyat,” kata Qaddafi.10 Sejarah, bagi Qaddafi, merupakan “hasil dari hubungan antara agama dan nasionalisme”. Kedua faktor inilah yang menjadi basis sosial Teori Universal Ketiga, ideologi alternatif yang dibangun Qaddafi itu. “Kita tidak setuju dengan penafsiran komunisme atas sejarah, yang sangat materialis, didasarkan melulu pada dialektika materialisme dan gerak ekonomi,” jelas Qaddafi.
Lebih lanjut, menurut Qaddafi, jika agama adalah basis dari individual, nasionalisme adalah basis dari masyarakat. Dalam Quran jelas disebut bahwa suku dan bangsa merupakan bagian tak terpisahkan dari tata dunia. Setiap orang merupakan bagian dari suatu bangsa sejak lahir. Baru kemudian ia secara sadar memilih sebagai salah satu anggota agama. Karena itu pula Qaddafi menilai, mereka yang menolak validitas nasionalisme, yang dalam hal ini Pan-Arabisme, adalah salah. Begitu pula yang menolak agama. “Mengapa harus menolak agama? Tahukah apa yang terjadi pada mereka yang mencoba menolak? Coba telusuri seluruh wilayah Arab dan berteriaklah ‘Tuhan’, maka setiap orang akan menyambut teriakanmu.”11
Namun demikian, Qaddafi ini tak serta merta beralih posisi ke blok kapitalisme. Monopoli kepemilikan ala kapitalisme tidak bisa ditolerir oleh Qaddafi. Mau tak mau, Qaddafi perlu membangun fondasi yang berbeda. Di sini, seperti halnya Soekarno, Qaddafi memilih sosialisme yang didasarkan pada akar-akar lokal. Qaddafi yakin, sosialisme memiliki watak-watak yang sudah ditemukan dalam negeri sendiri. “Sosialisme telah mengakar pada bangsa Libya,” demikian Qaddafi berulang menegaskan. Sosialisme Libya memang berbeda dari sosialisme yang dikenal selama ini. Sosialisme Libya memiliki basis Islam. Dalam Islam, setiap muslim berkewajiban untuk membayar zakat, membagi hartanya pada orang lain.
Pemikiran semacam ini di antaranya yang membuat Qaddafi melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan membatasi kepemilikan pribadi. Kesejahteraan sosial menjadi prioritas. Pemerintahan Qaddafi menjalankan program-program prorakyat, semisal pembangunan perumahan rakyat, perbaikan layanan kesehatan, dan peningkatan pendidikan.
Bagi Qaddafi, seperti tertuang dalam bagian kedua The Green Book, buku yang menjabarkan lebih detil Teori Universal Ketiga, kebutuhan dasar rakyat adalah rumah, penghasilan (income), dan kendaraan. Pola penyewaan rumah dan kendaraan tak lain merupakan bentuk dominasi atas kebutuhan dasar orang lain. Kepemilikan tanah terlarang. Sebab tanah sejatinya merupakan kepemilikan masyarakat, bukan kepemilikan individual. Qaddafi juga menandaskan, akumulasi kekayaan di atas kebutuhan dasar individu merupakan bentuk eksploitasi. Alasannya, masyarakat akan menderita kekurangan kebutuhan dasar, sebab akumulasi kekayaan di atas kebutuhan dasar hanya bisa dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dasar orang lain.
Melalui The Green Book bagian kedua yang diberi judul “Solusi atas Problem Ekonomi: Sosialisme” itu, Qaddafi berupaya mengembangkan teori sosialisme ‘natural’ yang berdasarkan pada kesejajaran antara apa yang ia sebut sebagai tiga faktor ekonomi produksi: bahan mentah, alat produksi dan produsen.
Bagi Qaddafi, ketiga hal ini sama-sama penting dalam proses produksi. Karenanya, setiap orang punya hak atas pembagian merata atas hasil yang diproduksi. Masalah dalam pendekatan sosialisme lama adalah, bagi Qaddafi, mereka terlalu fokus pada soal kepemilikan, upah, atau satu saja dari faktor-faktor produksi. Akibatnya, mereka gagal membidik masalah dasar ekonomi, yakni produksi itu sendiri.
Qaddafi mendukung penghapusan sistem upah maupun sistem ekonomi berorientasi profit. Buruh upahan tak ubahnya budak, dan karenanya ini harus dihilangkan, diganti dengan hubungan partner produksi. Begitu pula, pembantu rumah tangga merupakan budak zaman modern.
Prinsip-prinsip sosialisme Qaddafi tidak sekadar di atas kertas, melainkan juga tertuang dalam kebijakan dan peraturan. Sejak Maret 1978, seluruh rakyat Libya memiliki hak atas rumah sendiri, dan dibatasi hanya satu rumah. Beberapa bulan kemudian, buruh-buruh mengambil alih sekitar 200 perusahaan. Pada 1978-79 dilakukan land reform, reformasi kepemilikan tanah.
Demokrasi Langsung, Antielitisme
Seperti halnya Soekarno, Qaddafi lebih mengedepankan sistem politik yang egalitarian. Sistem politik semacam ini memposisikan elemen-elemen masyarakat dalam posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Qaddafi membangun sebuah sistem yang disebut “demokrasi langsung”. Dalam sistem ini, seperti yang dirumuskan Qaddafi dalam The Green Book-nya, warga negara mengatur diri mereka sendiri lewat aktivitas-aktivitas akar rumput tanpa mediasi lembaga negara, atau hierarki organisasi seperti militer, kesukuan, ulama, maupun akademik.
Sistem politik semacam itu disebut Qaddafi dengan istilah “jamahiriyyah”. Secara harafiah, jamahiriyyah berarti “kerakyatan”, atau “kedaulatan rakyat”. Sarjana Amerika Lisa Anderson12 menyarankan makna jamahiriyyah sebagai “kerakyatan” atau “negara massa”. Qaddafi memaksudkannya sebagai sistem politik dimana negara dijalankan langsung oleh rakyat, tanpa intervensi birokrasi pemerintahan. Pada 2 Maret 1977, Qaddafi secara resmi mengeluarkan Deklarasi Pembentukan Kedaulatan Rakyat. Libya sendiri diberi nama lengkap Rakyat Sosialis Arab Libya Jamahiriyyah.
Dalam mewujudkan politik antielitisme itu, Qaddafi menggunakan gagasan ‘komite rakyat’ dan ‘kongres rakyat’. Unit ini tidak hanya bertanggung jawab membuat legislasi, melainkan juga eksekusinya di level akar rumput. Bagi sejumlah pengamat, gagasan Qaddafi ini sangat mirip dengan teori politik Jean-Jacques Rousseau.13 Ada kesamaan bahwa keduanya yakin pada kesetaraan dan kekuasaan langsung rakyat. “Definisi demokrasi lama—bahwa demokrasi adalah supervisi terhadap pemerintahan oleh rakyat—ketinggalan zaman. Ia akan diganti dengan definisi sesungguhnya: demokrasi adalah supervisi terhadap rakyat oleh rakyat,” tandas Qaddafi.14
Konkritnya, setiap penduduk berusia 18 tahun ke atas, pada masing-masing zona, memilih—dan berhak dipilih—‘komite rakyat’ mereka sendiri, yang akan menangani urusan-urusan masyarakat di zona mereka sendiri. Proses pemilihan dipraktikkan secara terbuka. Artinya, tidak ada bilik suara maupun kotak suara tertutup. Pemilihan dilakukan dengan mengangkat tangan atau masuk ke blok ‘ya’ atau ‘tidak’.
Di tingkat kota, penduduk pun memilih Kongres Rakyat Dasar (Basic People’s Congress) di tingkat lokal. Lebih jauh, dalam mengatur wilayah kota, misalnya, Kongres akan memilih seorang ketua dan lima orang ‘komite rakyat kota’. Urusan-urusan mereka tidak diatur oleh penguasa ‘pusat’ atau pemerintahan nasional, melainkan oleh komite-komite yang dipilih penduduk sendiri. Inilah pengejawantahan konsep Qaddafi mengenai “kedaulatan rakyat”.
Sementara itu, di tingkatan nasional, kebijakan dibuat dari bawah ke atas. Kongres Rakyat Dasar dari berbagai penjuru membuat keputusan-keputusan terkait persoalan yang dihadapi rakyat. Keputusan-keputusan itu lalu diteruskan kepada Kongres Rakyat Umum (General People’s Congress) guna dipertimbangkan dan diimplementasikan sebagai kebijakan nasional.
Meski diperkokoh pada 1977, konsep ‘komite rakyat’ ini sudah diperkenalkan Qaddafi pada 1973, ketika Qaddafi melontarkan apa yang ia sebut “Revolusi Kebudayaan”. Qaddafi melakukan revolusi ini dengan tujuan memerangi birokrasi yang tidak efisien, mengedepankan partisipasi rakyat dalam sistem pemerintahan lokal maupun masalah-masalah koordinasi politik nasional. Tak sungkan-sungkan, Qaddafi menantang kaum revolusioner untuk melawan otoritas tradisional, mengambil alih kekuasaan mereka, dan menjalankan pemerintahan dengan tangan mereka sendiri. Jadilah ‘komite rakyat’ sebagai alat mencapai tujuan-tujuan ini.
Komite rakyat dibentuk secara geografis maupun fungsional. Secara geografis, komite dibentuk pada tiap-tiap zona, kota, dan propinsi. Pada tingkat zona, pemilihan langsung dilakukan guna mengisi kursi komite rakyat. Komite rakyat tingkat zona kemudian memilih orang-orang untuk duduk di komite rakyat level kota.
Selanjutnya, komite rakyat level kota memilih perwakilan-perwakilan guna membentuk sekretariat komite. Adapun secara fungsional, komite rakyat dibentuk di universitas, perusahaan swasta, birokrasi dan media penyiaran. Anggota memilih komite-komite mereka sendiri untuk mengelola urusan-urusan mereka sendiri.
Pembentukan sistem komite rakyat ini menandai perubahan signifikan dalam sejarah perpolitikan Libya. Ini pertama kali dalam sejarah Libya, sistem politik subnasional mendorong partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin lokal, dan membolehkan keterlibatan lokal yang sungguh-sungguh dalam proses pengambilan keputusan.15
Sementara itu, di level nasional, konsep demokrasi langsung menjelma dalam Kongres Rakyat Umum. “Kongres Rakyat Umum bukanlah pertemuan orang per orang atau anggota per anggota seperti dalam sebuah parlemen,” tandas Qaddafi dalam The Green Book-nya, “melainkan, ia merupakan pertemuan antara komite-komite rakyat dan kongres-kongres rakyat.” Karena itu wajar bila Kongres diisi oleh elemen-elemen Kongres Rakyat Dasar dan komite-komite rakyat kota dan cabang kota, juga komite-komite rakyat dari asosiasi-asosiasi perusahaan, serikat mahasiswa, maupun asosiasi-asosiasi profesional. Jumlah anggotanya berkisar 2.700 orang.
Kongres Rakyat Umum menggelar sidang tahunan, yang biasanya berlangsung selama dua minggu pada Januari atau Februari. Ini menjadi forum utama untuk membahas dan menetapkan perencanaan, program, dan kebijakan nasional. Rincian tanggung jawab implementasi oleh kongres-kongres rakyat, komite-komite rakyat, asosiasi-asosiasi, serikat-serikat pekerja, dan sebagainya juga ditetapkan di forum ini.
Untuk mengimplementasikan keputusan-keputusannya, Kongres memiliki unsur-unsur. Kepala pelaksananya disebut Sekretaris Jendral, yang diduduki oleh Qaddafi sendiri pada tahun-tahun awal pendeklarasian Jamahiriyya. Kongres juga membentuk Sekretariat Jendral yang terdiri atas 5 orang dengan fungsi semacam staf pelaksana dan badan penasehat. Di luar itu, dibentuk pula Komite Umum Rakyat yang terdiri atas sejumlah sekretaris dengan peran semacam menteri-menteri dalam kabinet.
Pelaksanaan keputusan-keputusan politik hingga level akar rumput tentu membutuhkan pengawas. Siapa yang mengawasi? Qaddafi menggagas Komite Revolusi pada 1977. Komite ini bertugas melakukan “supervisi revolusioner” dari kedaulatan rakyat. Ia memberi arahan pada komite-komite rakyat, membangun kesadaran politik dan menjaga komitmen paga aksi-aksi revolusioner. Komite ini dibentuk di mana-mana. Ia ada di departemen-departemen pemerintahan, di dalam Kongres Rakyat Dasar, komite-komite rakyat, serikat-serikat buruh, asosiasi-asosiasi profesional, gerakan-gerakan mahasiswa, dan seterusnya.
Singkat kata, Qaddafi menginginkan ‘demokrasi langsung’ berjalan di segala level proses politik. Sehingga, apa yang dicita-citakan sebagai kedaulatan rakyat (jamarihiyyah) dapat terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Senafas dengan Soekarno
Deskripsi di atas memperlihatkan dengan jelas, selain terinspirasi oleh Nasser, pemikiran-pemikiran Qaddafi memiliki kedekatan istimewa dengan konsep-konsep Soekarno. Soekarno menawarkan perpaduan antara sosialisme, nasionalisme dan Islam, yang pada akhirnya memberi warna sosialisme yang khas Indonesia. “Sosialisme kami adalah sosialisme yang dikurangi dengan pengertian materialistisnya yang ekstrim,” tandas Soekarno dalam biografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, “karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang terutama takut dan cinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu campuran.”
Di mata Soekarno, Indonesia memiliki jiwa, watak, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak bisa serta merta mengadopsi sosialisme Eropa. “Kami menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen,” ujar Soekarno, “Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Ke dalam campuran yang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional: Marhaenisme. Kemudian kami memercikkan ke dalamnya gotong-royong yang menjadi jiwa inti daripada bekerja bersama, hidup bersama dan saling bantu-membantu. Kalau ini dicampurkan semua, maka hasilnya adalah Sosialisme Indonesia.”
Sosialisme Indonesia yang digagas Soekarno ini, atau yang kemudian lebih dikenal dengan Marhaenisme, sudah diperkenalkan sejak 1926 melalui tulisannya “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”. Soekarno hendak memadukan ketiga ideologi yang menguat saat itu, yakni Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. “Bukannya kita mengharap yang nasionalis itu supaya berubah paham menjadi Islamis atau Marxis,” tulis Soekarno, “bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita ialah kerukunan, persatuan antara tiga golongan tersebut.”
Soekarno menegaskan agar kaum nasionalis bekerjasama dengan kaum Islam. Nasionalis sejati, di mata Soekarno, bukanlah seorang chauvinis. Kecintaan seorang nasionalis sejati pada tanah air bersendi pada pengetahuan, bersandar atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, bukan pada semata kesombongan belaka—chauvinis. Karenanya, kaum nasionalis harus mampu bekerja sama dengan sesama pejuang tanah air sejati, tak terkecuali kaum Islam. “Adakah keberatan untuk kaum nasionalis yang sejati bekerja bersama-sama dengan kaum Islam, oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas-negeri ialah super-nasional super-teritorial?” Soekarno seperti hendak menangkap perasaan kaum nasionalis yang enggan bergandeng tangan dengan Islam.
Segera Soekarno mengingatkan kaum nasionalis bahwa di berbagai negara Asia para pejuang penentang penjajahan adalah kelompok-kelompok Islam. Mereka sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme Barat. Dengan demikian, tegas Soekarno, kelompok Islam adalah kawan bagi kaum nasionalis, bukan lawan. Begitu pula sebaliknya, terhadap kelompok Islam, Soekarno juga mengajak berangkulan dengan kaum nasionalis. ”Bukankah, sebagai yang sudah kita terangkan, Islam yang sejati mewajibkan pada pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat diantara mana ia hidup, selama negeri dan rakyat itu masuk Darul-Islam?”
Seolah menangkap keraguan kelompok Islam, Soekarno kembali menandaskan bahwa di mana-mana orang Islam bertempat di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya. Kelompok Islam juga harus mampu berdampingan dengan kaum sosialis Marxis. ”Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu ialah musuh Islamisme pula!” Soekarno mengingatkan, Islam sebenarnya juga mengadung tabiat-tabiat sosialistis, meskipun pada Islam asas yang digunakan berbeda, yaitu spiritualisme, sedangkan pada sosialisme Marxis dasarnya pada perbendaan atau materialisme.
Baik sosialisme dalam Islam maupun dalam Marxisme, lanjut Soekarno, sama-sama menentang ekspolitasi kapitalisme. “Sebab meerwaarde sepanjang paham Marxisme dalam hakikatnya tidak lainlah dari pada riba sepanjang paham Islam. Meerwaarde ialah teori: memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh yang bekerja mengeluarkan untung tersebut.” Karena itu, ujar Soekarno, Islamis sejati tak layaklah memusuhi paham Marxisme yang melawan peraturan meerwaarde tersebut, sebab Islam yang sejati juga memerangi peraturan itu. “Bahwa Islam yang sejati melarang keras akan perbuatan memakan riba ... bahwa riba ini pada hakikatnya tiada lain daripada meerwaarde-nya paham Marxisme itu.”
Di sisi lain, Soekarno juga mengajak kaum Marxis untuk tidak menolak kelompok Islam. ”Disini agama Islam adalah agama kaum yang tak merdeka, disini agama Islam adalah adalah agama kaum yang ‘di bawah’,” tandas Soekarno, “Tidak boleh tidak, suatu agama yang anti kapitalis, agama kaum yang tak merdeka, agama kaum yang ‘di bawah’ ini, agama yang menyuruh mencari kebebasan, agama yang melarang menjadi kaum bawahan, dan pastilah menimbulkan suatu perjuangan yang dalam beberapa bagian sesuai dengan kaum Marxisme itu.”
Bagi Soekarno, Marxisme yang tidak mau bekerja sama dengan kaum nasionalis dan kelompok Islam adalah kuno, ketinggalan jaman. “…Marxis yang kolot teori dan kuno taktiknya,” ujarnya. Marxisme yang memusuhi pergerakan kaum nasionalis dan Islamis yang sejati dikritik keras Soekarno. “Marxis yang demikian itu janganlah merasa terlanggar kehormatannya jikalau dinamakan racun rakyat adanya!”
Kedekatan sikap dan pemikiran Qaddafi dengan Soekarno tidak saja mencakup soal warna sosialisme yang menggabungkan situasi lokal. Sikap keduanya terhadap kolonialisme juga senafas. Meski lahir dan hidup dalam dekade berbeda, sikap antikolonialisme Qaddafi maupun Soekarno serupa. Soekarno muda tumbuh dengan sikap antikolonialisme yang tegas.
Robert Dahm, dalam Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan, berpendapat bahwa kreativitas Soekarno sebagai pemikir tentang nasionalisme dan penentang kolonialisme memuncak pada 1926-1927. Menurut Dahm pula, ada dua karakter yang menonjol pada Soekarno, yakni pertama, pemersatu ulung, dan kedua, anti-imperialis yang militan.
Wajar saja, sebab Soekarno sendiri memandang, motivasi pokok dari kolonialisme adalah eksploitasi ekonomi. Kolonialis Eropa datang ke Asia dan Afrika tak lain hanya untuk, dalam bahasa Soekarno, “mengisi perutnya yang keroncong belaka”.16
Agar gagasan antikolonialismenya mudah dipahami khalayak, Soekarno menggunakan perumpamaan lokal. Kata dia, kolonialisme, atau kadang disebut imperialisme, tak ubahnya “Nyi Blorong”, atau ular naga.17 Kepala sang naga berada di Asia dan Afrika, menyerap berbagai kekayaan alam yang ada. Sedangkan tubuh dan ekor sang naga berada di Eropa, menikmati hasil serapan tersebut.
Imperialisme, bagi Soekarno, erat terkait dengan kapitalisme. Baik kaum imperialis maupun kapitalis tak segan-segan mengisap orang lain. Melalui kolonialisme, para kapitalis Eropa mengisap habis-habisan sumberdaya manusia dan kekayaan alam negeri-negeri Asia dan Afrika. Kapitalisme ini, kata Soekarno, tumbuh sedemikian rupa hingga menciptakan barang-barang berlebih. Barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Timur berbalik diekspor ke Timur. “Jadi, Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih,” tulisnya dalam Bung Karno.
Selanjutnya, liberalisme dalam ekonomi membawa liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dahulu negara itu harus ditaklukkan. “Bangsa-bangsa Asia-Afrika dijajah dan kelobaan ini membuka pintu kepada jaman Imperialisme,” tandas Soekarno.
Ia menjelaskan bagaimana Jawa diduduki pada abad ke-16, Maluku pada abad ke-17, lalu perlahan Belanda merambah seluruh kepulauan hingga Bali yang baru ditundukkan pada 1906. Imperialisme menancap lebih dalam hingga ke wilayah budaya, mengikis kepribadian bangsa. “Musnahlah putera-puteri harapan bangsa dari suaru bangsa yang besar yang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, menciptakan tari,” imbuh Soekarno.
Jelaslah bagi Soekarno, imperialisme ekonomi beriringan dengan imperialisme politik, bahkan imperialisme budaya. Imperialisme ekonomi melakukan pengisapan orang dan kekayaan alam, imperialisme politik menopang dan melanggengkannya lewat kekuasaan, dan imperialisme budaya menundukkan jiwa dan kepribadian bangsa.
Pengetahuan, bagi Soekarno, juga tak luput dari kuasa imperialisme. Soekarno mencontohkan pengetahuan tentang sistem irigasi. Di akademi waktu itu, yang dipelajari bukan tentang bagaimana cara mengairi sawah sebaik-baiknya. Tapi hanya tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. “Ini adalah irigasi untuk kepentingan imperialisme dan kapitalisme,” tandas Soekarno. Sistem pengetahuan macam ini tidak untuk memberi makan rakyat banyak yang kelaparan. Tapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan.
Begitu pula tentang pengetahuan teknik membangun jalan. “Tidak mungkin dapat menguntungkan rakyat,” ujar Soekarno. Pengetahuan diarahkan untuk merencanakan jalan-jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan. Tujuannya? Agar pabrik-pabrik dapat mengangkut hasil mereka secara maksimal.
Soekarno muda pernah memrotes rektornya di ITB. “Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi kolonial terhadap kami?” tanya Soekarno kepada Prof. Ir. G. Klopper M.E, rektor Sekolah Tinggi Teknik (kini ITB).
“Sekolah Tinggi ini,” jawab sang rektor, “didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”
“Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal politik Imperialisme Belanda di sini?”
“Ya, Tuan Soekarno. Itu benar,” sahut Klopper.18
Tanya-jawab itu rupanya kian mengukuhkan sikap antikoloniasme Soekarno. Sikapnya semacam ini tidak berubah bahkan setelah kemerdekaan republik. Pada 17 Mei 1956, yang ketika itu Qaddafi remaja dikobarkan pidato-pidato rekan Soekarno, Gamal Abdul Nasser, Soekarno berpidato di depan Kongres Amerika Serikat dalam rangka kunjungan resminya. Soekarno menyerang kolonialisme. “Perjuangan dan pengorbanan yang telah kami lakukan demi pembebasan rakyat kami dari belenggu kolonialisme,” kata Bung Karno, “telah berlangsung dari generasi ke generasi selama berabad-abad.”19
Tetapi, perjuangan belum selesai, kata Soekarno. “Bagaimana perjuangan itu bisa dikatakan selesai jika jutaan manusia di Asia maupun Afrika masih berada di bawah dominasi kolonial, masih belum bisa menikmati kemerdekaan?”20
Beberapa tahun kemudian, persisnya 30 September 1960, Soekarno berpidato di depan Sidang Umum PBB ke-15. Ia menegaskan kembali penentangannya terhadap kolonialisme. “Tengoklah sekeliling dunia kita ini,” tandas Soekarno merujuk pada negeri-negeri Asia dan Afrika. “Di banyak tempat terdapat ketegangan-keteganan dan sumber-sumber sengketa potensiil. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan jumpai, bahwa hampir tanpa perkecualian, imperialisme dan kolonialisme di dalam salah satu dari banyak manifestasinya adalah sumber ketegangan atau sengketa itu.”
Kita tahu, kata-kata serupa di kemudian hari kita dengar kembali, dan kali ini keluar dari mulut Qaddafi. “Begitu banyak konflik di benua (Afrika) ini yang kita mintakan nyaris tiga-perempat kekuatan PBB untuk menyelesaikannya. Dan dalang utamanya adalah kekuatan kolonial yang memecah-belah Afrka,” ujar Qaddafi di depan mahasiswa Universitas Oxford, Mei 2007.
Baik Soekarno maupun Qaddafi menginginkan, perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme memerlukan persatuan bangsa-bangsa dunia ketiga. Mark T Berger, pengamat politik internasional dari Australia, memaparkan kesamaan Soekarno dan Qaddafi dalam kancah ‘politik dunia ketiga’. Bagi Berger, Soekarno merupakan generasi pertama gerakan Third Worldism, sedangkan Qaddafi generasi kedua.21
Titik penting yang menjadi dasar identifikasi Berger adalah Konferensi Bandung, atau juga disebut Konferensi Asia Afrika, tahun 1955. Generasi pertama, yakni era 1950an dan 1960an, adalah penggagas dan penggerak Konferensi Bandung serta pendiri Gerakan Non Blok. Adapun generasi kedua, yakni era 1970an dan 1980an, adalah para penerus yang membawa spirit nonblok dalam melawan pola-pola baru kolonialisme dan imperialisme. Di antara yang terdepan dari generasi kedua ini, menurut Berger, selain Qaddafi adalah Fidel Castro dari Cuba, Amerika Latin.
Semangat, atau juga bisa disebut ambisi, Qaddafi untuk menyatukan bangsa-bangsa Afrika maupun Arab, boleh jadi sangat dipengaruhi Soekarno, yang berambisi menyatukan Asia-Afrika melawan kolonialisme. Peran Soekarno dalam memprakarsai Konferensi Bandung, yang menyatukan 29 negara di Asia dan Afrika itu, memang diakui dunia. “Bagi banyak pemimpin bangsa dan tokoh angkatan tua gerakan progresif berbagai negeri Asia-Afrika,” tulis A Umar Said22, “Bandung dan Soekarno adalah dua nama tetap, sampai sekarang, tertanam secara terhormat dalam ingatan mereka.”
Menurut A Umar Said, para pemimpin perjuangan rakyat senantiasa menyebut-nyebut nama Soekarno dan Bandung dalam pidato-pidato mereka. Sebut saja, di antaranya, Gamal Abdul Nasser (Mesir), Anwar Sadat (Mesir), Ahmad Ben Bella (Aljazair), L. Sedar Senghor (Senegal), Modibo Keita (Mali), Sekou Touré (Guinea), Dr. Kwame Nkrumah (Ghana), Patrice Lumumba (Conggo), Mugabe (Zambia), Julius Nyerere (Tanganyika, yang kemudian menjadi Tanzania), Salim Ahmad Salim (Zanzibar, yang kemudian menjadi Sekjen OAU – Organisasi) Persatuan Afrika), dan Nelson Mandela (Afrika Selatan).
Konferensi yang diselenggarakan pada 18-25 April 1955 itu memang membutuhkan persiapan panjang. Soekarno senantiasa mengajak rakyat Indonesia mengikuti upaya-upaya tersebut lewat media, terutama RRI waktu itu. Pada April 1954, misalnya, Soekarno mengutus Ali Sastroamidjoyo di Konferensi Kolombo, Srilanka, yang dihadiri pemimpin negara-negaea dunia ketiga antara lain Jawaharlal Nehru (India), U Nu (Birma), Mohamad Ali (Pakistan), dan John Kotewal dari Srilanka sendiri. Hasil konferensi ini kemudian dibawa ke konferensi Panca Negara di Bogor pada Desember 1954. Dari sini ditetapkanlah acara konferensi Asia-Afrika di Bandung itu, berikut rumusan tujuan dan negara-negara yang diundang.
Ketika itu, negara-negara di Afrika masih banyak yang belum merdeka, masih di bawah jajahan negara-negara Eropa. Maka, dari 29 negara yang hadir di Bandung, hanya terdapat 6 negara dari Afrika, yakni Mesir, Sudan, Libya, Liberia, Ghana, dan Ethiophia. Tapi justru dari sinilah kemudian kobaran semangat pembebasan dari kolonialisme menggelora di Afrika, terutama lewat pidato-pidato Nasser.
Tak heran jika ‘semangat Bandung’ ini kemudian menular ke Qaddafi. Filosofi Qaddafi mengenai persatuan bangsa-bangsa terjajah, atau bekas terjajah, di Arab dan Afrika, cukup jelas memperlihatkan hal tersebut. Bahkan, pola-pola mengorganisasi persatuan juga mirip. Lihatlah bagaimana Qaddafi memprakarsai Federasi Republik-Republik Arab, Persatuan Arab Maghribi, hingga Persatuan Arab-Afrika. Seolah-olah, spirit Bandung, ruh Soekarno, hadir di sini. *
Tulisan Revolusi Qaddafi,Ruh Soekarno pertama kali dipublikasikan di blog Mujtaba Hamdi . Ia dibuat pada awal 2009 sebagai calon salah satu bab dalam sebuah buku mengenai interkoneksi politik dan budaya Libya dengan Indonesia. Oleh sebab satu dan lain hal, rencana penerbitan buku tersebut ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Catatan:
1. Arfi Bambani Amri, “Lawatan ‘Non Blok’ Megawati ke 3 negara di Afrika Utara”, detik.com, Rabu 7 November 2007.
2. Tiga prinsip dalam Trisakti Soekarno adalah berdaulat dan bebas dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Seperti nanti kita lihat, prinsip Sosialisme Qaddafi setara dengan gagasan berdikari dalam ekonomi milik Soekarno, Kebebasan senada dengan berdaulat dan bebas dalam politik, dan Persatuan mirip dengan pembentukan karakter bangsa.
3. Lihat Brenda Lange, Muammar Qaddafi - Major World Leaders (Philadelphia: Chelsea House Publishers, 2005), hlm 36.
Gamal Abdul Nasser dengan prinsip dasar sosialismenya yaitu memberi kesempatan yang sama dalam apa yang mestinya diperoleh rakyat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara demokratis dan mendapat pengayoman dari pemerintah serta mendapat keadilan demi mencapai kesejahteraan telah mampu menggerakkan revolusi di Mesir pada 23 juli 1952.
Gamal abdel Nasser presiden Mesir kedua,setelah menggulingkan Muhammad Naquib,lahir di Alexandria pada 15 januari 1918. Beristri Tahia Kazem, adalah muslim sunni yang menjadi negarawan arab terkemuka dalam sejarah.
Berpangkat mayor saat ikut perang melawan Israel pada tahun 1948. Mengalami terperangkap bersama pasukannya di kawasan 'POKET FALUJA' dan berhasil selamat. Kemudian pada 1952 memimpin tentara untuk mengkudeta Raja Farouk I.
Pada masa pemerintahannya Nasser membangkitkan Nasionalisme arab dan Pan arabisme menasionalisasi TERUSAN SUEZ yang membuat Mesir berhadapan dengan PRANCIS,INGGRIS dan israel yang berkepenting an dengan terusan itu. Krisis akhirnya dapat diselesaikan dengan keputusan dunia yang menguntungkan Mesir, terusan itu masuk kedaulatannya. Kemudian Nasser mengadakan proyek infrastruktur besarbesaran diantaranya adalah proyek bendungan ASWAN dengan bantuan pemerintah SOVYET . Setelah kalah dalam perang 6 hari dengan Israel pada tahun 1967,Nasser mengumumkan akan menarik diri dari dunia politik tapi rakyat mencegahnya. Nasser sekali lagi memimpin perang 1969-1970 (war of atrition). Nasser meninggal akibat sakit jantung,2 minggu setelah perang usai pada 28 september 1970.
Nasser melahirkan konsep imagine community ala Naser . Hal kontroversial melekat pada diri Nasser. Dialah yang menghukum mati ulama aktifis kharismatik pada jamannya,HASSAN AL BANNA dan SAYYID QUTB,ikon IKHWANUL MUSLIMIN. Karna alasan itu Nasser sering dibenci oleh aktifis islam, khususnya yang memiliki kedekatan ideologis dengan IKHWAN. Di sisi lain NASSER lah satu-satunya pemimpin arab yang mampu menakuti israel,negeri zionis yang dianggap representasi praktek kolonialisme modern. Kehadirannya membuat PALESTIN terkungkung di rumah sendiri dan dunia arab selalu dilanda ketidakstabilan sosialpolitik. Nasser yang berada di garis yang jelas untuk menentang negara bentukan BEN GURION itu. Sesuatu yang tidak dilakukan IRAN sejak rejim para mullai itu berkuasa.
Nasser kalah dalam mempersatukan ARAB. ARAB SAUDI Negara paling berpengaruh tidak pernah sungguh-sungguh membantu impiannya. Nasser ingin arab jadi milik orang arab bukan milik AMERIKA melalui israel. "mengapa seratus juta orang arab masih tercerai berai?",keluhnya saat kehilangan harapan untuk menghapus israel dari bumi arab.
Hubungan MESIR dan ARAB SAUDI Saat itu terganjal dengan adanya raja SUUD berdiam di kairo setelah melarikan diri. Ini yang membuat geram raja FAISAL yang menggantikan memimpin ARAB SAUDI.
Karena tidak mendapat dukungan dari sesama arab, Nasser terpaksa menggantungkan harapan pada uni sovyet . Ia anggap, arab akan tenggelam dalam kehinaan bila angkatan perangnya tidak direhab. Nasser pun menarik sovyet ke dalam masalah timur tengah.
Mesir terancam bahaya karena tak terlindungi persenjataan yang canggih. Terutama bendungan ASWAN yang selalu jadi incaran israel. Melihat kondisi seperti itu,bagaimana Nasser melindungi Mesir dari israel?. Pelabuhan PORT SAID hancur oleh perang sebelumnya. Tinggal ISKANDARIYAH. Bila itu juga diserbu dan dihancurkan, tak ada lagi harapan.
Usaha Nasser menarik uni sovyet masuk ke masalah timurtengah nampaknya tak tanggung tanggung. Saat sovyet merasa ragu, Nasser mengatakan dengan geram, "baiklah,jika mesir tidak memperoleh apa yang dimintanya,maka dunia akan tahu,satu satunya keputusan ada di tangan AMERIKA,saya akan menyatakan pada rakyat saya bahwa sudah tiba masanya bagi saya mundur, tempat saya akan digantikan oleh orang yang pro AMERIKA".
Presiden sovyet kala itu LEONID ILYICH BREZHNEV berkata,"kamerad Nasser, baiklah,sovyet akan membantu anda!".
Dan bantuan senjata pun mengalir deras ke kairo dan membuat israel kewalahan. Moshe Dayan panglima israel yang punya julukan SI MATA SATU dibuat malu pada perang YOM KIPPUR.
Negarawan kontemporer ini memunculkan sosialisasisme arab yang ingin dilaksanakan dalam kawasan REPUBLIK PERSATUAN ARAB untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh arab dan meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik bagi setiap penduduk. Tatanan masyarakat baru yang dikehendaki adalah yang dinamis,masyarakat yang saling membantu, memanfaat kan sebagian hak milik individu untuk kesejahteraan kelompok. Sosialisme arab Nasser menitikberatkan kepada pertumbuhan ekonomi untuk kemakmuran rakyat dan bukan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil konglomerat atau klan-klan sebagaimana yang dialami Mesir waktu itu. Nasser mengisyaratkan sosialisme arab tidak sama dengan sosialisme MARXIS &LENIN , akan tetapi sosialisme yang digali dari norma-norma islam yang dilegitimasi ulama dan cendekiawan muslim.
Kharisma Nasser mampu menarik perhatian rakyat. Itu ditunjukkan dengan antusiasme rakyat saat mendengar pidato pidatonya di radio,mirip BUNG KARNO. 26 Juli 1956 Nasser mengumumkan akan menasionalisasi Terusan suez.
"Terusan itu milik kita, yang dibayar dengan 120.000 nyawa rakyat Mesir. Mesir tak butuh bantuan barat karena memiliki sumber penghasilan yang besar".
Gebrakan itu ingin membuat Mesir keluar dari kemiskinan dan membuatnya dikukuhkan sebagai BAPAK PENDIRI MESIR MODERN. Bersama BUNG KARNO juga menjadi pencetus dan pendiri GERAKAN NON BLOK. Hal ini membuatnya semakin dikagumi rakyat Mesir dan oleh pemimpin pemimpin negara dunia ketiga.
Ide cemerlang Nasser menasionalisasi terusan suez sepanjang 163 km yang menghubungkan pelabuhan SAID di laut tengah dengan SUEZ (Al-suways) di laut Merah,bertujuan untuk penggalangan dana demi pembangunan bendungan Aswan.
Terusan yang dibuka tahun 1870 atas pendanaan dari Perancis itu sebelumnya diurusi oleh UNIVERSAL COMPANY OF SUEZ MARITIM CANAL, Sangat penting bagi Inggris dan negara eropa lainnya. Penghubung Inggris dengan koloninya India, Australia dan Selandia baru. Tahun 1875 Inggris membeli saham SUEZ CANAL Co. Hingga memperoleh kekuasaan atas pengoperasian Terusan itu dan membaginya dengan investor Perancis.
Pada tahun 1882,selama invasi atas Mesir,Inggris secara de facto menguasai terusan itu. Konvensi KONSTANTINOPEL 1888 Mendeklarasikan TS sebagai zona netral di bawah perlindungan inggris. Sultan UTSMANI setuju memberi ijin kepada kapal kapal asing lewat baik saat damai maupun perang.
Saat Inggris dan Prancis pasca perang dunia II ngotot menguasai TS mendapat tentangan dari anggota NATO seperti Portugal dan Islandia. Pakta WARSAWA pun mengancam akan membantu Mesir habis-habisan untuk menghadapi mereka jika tidak mundur dari Mesir. Amerika yang merupakan sekutu Inggris juga ikutan menekan dengan mengurangi dana bantuan untuk rehabilitasi ekonomi pasca PD II. Arab Saudi juga mulai embargo minyak.
Sir Anthony Eden,PM inggris terpaksa mundur. Akhirnya TS menjadi milik Mesir pada 1957 setelah Israel menarik pasukan dari semenanjung Sinai. Invasi Barat pun berakhir. Aktifitas ekspor- impor dikontrol oleh Mesir sendiri hingga memperoleh devisa yang besar.
Pada 9 januari 1960 dimulailah proyek pembangunan bendungan raksasa di sungai Nil dan selesai pada 21 juli 1970.Diharapkan sumber daya akan berlipat ganda dan menambah 200 juta pounds atau setara 3,56 milyar rupiah waktu itu masuk ke pos pendapatan negara.
Bendungan ASWAN memiliki tinggi 114 meter dan panjang 3600 meter. Mampu memproduksi listrik 2100 megawatt. Selain itu membantu pengairan pertanian. Tanpa dibendung, sungai Nil akan membanjiri daerah di sekitar sungai dan menyapu hasil pertanian, walaupun banjir membawa zat-zat nutrisi dan mineral bagi kesuburan tanah.
Di sepanjan kawasan TS itu dibangun berbagai pabrik, mulai dari industri tekstil, bahan kimia,besi, minyak serta olahannya untuk memacu perekonomian Mesir. Reformasi ekonomi Nasser lainnya adalah menjalankan redistribusi tanah untuk rakyat. Kebijakan sosialis lainnya adalah mengubah status AL AZHAR , Universitas tertua di dunia yang sebelumnya lembaga waqof independen menjadi lembaga pemerintah.
Revolusi rakyat pada tanggal 25 januari 2011 yang menggulingkan presiden Mubarak memberi jalan bagi para sesepuh AL AZHAR untuk mengembalikan posisi universitas yang didirikan oleh panglima BANI FATHIMIYAH, Jauhar Ash Shiqilli pada 970 masehi itu sebagai lembaga waqof pendidikan milik dunia islam.
Demikian Nasser dengan sosialismenya. Membangkitkan kepercayaan diri bangsanya dan negara negara dunia ketiga, terutama yang berpenduduk mayoritas muslim. Virus pergerakkan Nasser menular ke LIBYA,IRAK,IRAN, INDIA, dan INDONESIA. Namun yang paling kita soroti adalah apa yang terjadi di LIBYA.
Di Libya, ide sosialisme ala Khadafi muncul menggerakkan revolusi al fatih tahun 1969. Khadafi menafsirkan sosialisme (isytirakiyah) sebagai suatu sistem yang didasarkan pada ALQURAN dan kebudayaan arab ,bukan pada marxisme atau sosialisme manapun.
Ciri pembeda sosialisme berkarakter islam adalah penghargaan terhadap hak kepemilikan pribadi sebagai sesuatu yang suci. Kalau kapitalis, suatu kelas yang menguasai kelas yang lain (proletariat) . Sedangkan sistem komunis, pemerintah menguasai seluruh kelas sosial.
Khadafi meyakini istilah ini selain terdapat dalam alquran maupun hadis, juga telah dilaksanakan oleh masyarakat di jaman nabi. Di dalamnya terdapat prinsip- prinsip kepemilikan pribadi, kerja bersama/gotong royong,persamaan hukum dan keadilan sosial.
Sumber daya alam nasional tidak termasuk milik pribadi, harus bisa dinikmati oleh seluruh kalangan rakyat.
Tafsir sosialisme itu ia rumuskan dalam BUKU HIJAU (Kitab al akhdar) yang kemudian jadi basis ideologi pemerintahnya. Ia menginterpretasi konsep syura dalam alquran (QS 42:38) sebagai jawaban atas demokrasi barat. Syura ditafsirkan dalam bentuk komite/kongres rakyat yang berfungsi sebagai lembaga legislatif dan eksekutif. Sistem ala khadafi mendukung wakil rakyat dipilih langsung.
Revolusi Qaddafi, Ruh Soekarno
“Qaddafi memiliki kemiripan dengan Soekarno,” ujar Pramono Anung. “Sama-sama memperjuangkan sosialisme lokal. Jika Soekarno bicara sosialisme ala Indonesia, maka Qaddafi mendengungkan sosialisme Libya dengan semboyan ‘sosialisme, persatuan dan kebebasan’.”1 Ketika itu, November 2007, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) ini mendampingi Presiden Megawati Sukarnoputri dalam kunjungannya ke Libya, menemui pemimpin negeri itu, Muammar Qaddafi.
Muammar Qaddafi mencanangkan semboyan “Sosialisme, Persatuan dan Kebebasan” selepas Revolusi Al-Fateh 1969. Ketiga semboyan yang dikonsepkan Qaddafi ini memang unik. Seperti halnya Soekarno, Qaddafi mencari akar-akar pemikiran dan budaya setempat sebagai landasan dasar. Pemikiran Qaddafi banyak dipengaruhi Gamal Abdul Nasser, dan butuh perjalanan panjang hingga kemudian tiga semboyan, yang mirip konsep Trisakti Soekarno2, itu dicanangkan.
Ketiga semboyan itu lahir persis ketika kolonialisme di Afrika mulai mendapat perlawanan keras. Qaddafi, yang lahir pada 1942 itu, tertarik pada ide-ide antikolonialisme sejak usia dini. Awal 1960an, anak muda Libya sedang giat-giatnya terlibat dalam politik nasionalis ala Nasser. Perdana menteri Mesir, yang bersama-sama Soekarno menggalang Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 itu, menjadi pujaan anak-anak muda Libya.
Selain di bawah kuku kolonialisme, Libya sedang dikuasai oleh kepemimpinan monarki yang makin berjarak dari rakyatnya. Rakyat Libya miskin, meski ladang-ladang minyak bertebaran di tanah air mereka. Sejumlah anak muda terdidik membangun kekuatan di luar garis kekuasaan kesukuan yang sedang memegang kendali.
Di usia belasan tahun, Qaddafi banyak menghabiskan masa di depan radio transistor. Ia mendengarkan Voices of The Arabs3, sebuah radio berbasis di Mesir yang menyiarkan semangat nasionalisme Arab. Kesadaran politiknya tumbuh berkembang seiring dengan semakin intensifnya ia mendengarkan pidato-pidato Gamal Abdul Nasser yang membakar. Kharisma Nasser memang telah memikat Qaddafi. Pada 1952, Nasser telah berhasil melengserkan Raja Farouk I, dan membentuk sebuah republik di sana.
Qaddafi dengan cepat mengadopsi filosofi-filosofi Nasser, terpenting mengenai gagasan pemersatuan bangsa Arab dan penolakan terhadap kolonialisme Barat. Pada zaman itu, Nasser membakar semangat negeri-negeri Arab di kawasan, membangun perasaan nasionalisme, dan bersama-sama menentang penjajahan dari luar. Negeri yang menjadi audiens Nasser di antaranya Libya, Tunisia, Maroko, Syria, Lebanon, Irak, Yordania, Saudi Arabia, dan Yaman. Nasser mengajak negeri-negeri ini agar sebarisan dengan Mesir menghadapi kekuatan kolonial. Qaddafi begitu semangat menyerap pandangan-pandangan ini. Saking mendalamnya, seorang kawannya sempat bilang4 bahwa Qaddafi nyaris menjadi seorang Mesir ketimbang seorang Libya.
Ketika Libya mendapatkan kemerdekaannya, Qaddafi baru saja lulus sekolah dasar di Sirte. Ia lalu melanjutkan ke sekolah menengah di Fezzan. Dan di sinilah ia mulai membentuk kelompok—yang akan menjadi dewan revolusi ketika Qaddafi berhasil menggulingkan kekuasaan monarki Libya nantinya. Semakin lama, kelompok bentukan Qaddafi ini semakin besar, dan kerap terlibat dalam aksi-aksi anti kolonialisme. Qaddafi sempat mengorganisir demonstrasi yang mendukung gerakan Nasser di Mesir dan menentang kolonialisme yang memboncengi Israel. Entah, mungkin karena inilah, Qaddafi dikeluarkan dari sekolah dengan alasan “membangkang”.
Tapi tak lama kemudian, Qaddafi bisa melanjutkan sekolahnya kembali. Ia masuk ke Universitas Libya, tempat ia mempelajari sejarah, ilmu politik, juga ide-ide Marxisme. Qaddafi juga menjalani pelatihan militer, dan mendorong kawan-kawannya mengambil pelatihan serupa—generasi anak muda ini nantinya menjadi perwira dalam Tentara Nasional Libya (Libyan Army). Qaddafi lulus dengan nilai tinggi. Tapi kemudian dia memilih mendaftarkan diri di Akademi Militer Benghazi (Benghazi Military Academy), yang dengan mudah diterima karena nilai akademiknya yang luar biasa.
Di akademi ini pula, Qaddafi membentuk kelompok kecil. Ia mengumpulkan calon-calon perwira yang memiliki semangat dan latar belakang serupa. Selepas lulus dari akademi, Qaddafi ditugaskan di Tentara Nasional Libya dengan pangkat Letnan. Ia dikirim ke Inggris, untuk pelatihan lebih lanjut. Sekembali dari Inggris, Qaddafi meluangkan banyak kesempatan untuk melakukan rekruitmen anggota revolusi. Ia mengadakan pertemuan-pertemuan reguler yang sedemikian rupa dirahasiakan dari pengawasan rezim yang berkuasa saat itu, rezim Raja Idris.
Sekompok anak muda yang dibentuk Qaddafi sepertinya telah menjadi komunitas revolusioner yang kuat. Di dinas ketentaraan, pendukung-pendukung Qaddafi itu mengelompokkan diri dalam Gerakan Perwira Bebas (Free Officers Movement). Mereka ini berkomitmen mendukung gagasan Qaddafi untuk mempersatukan bangsa Arab (Pan-Arab) dan menentang kolonialisme Barat.
Kelompok ini terus melakukan konsolidasi-konsolidasi rahasia. Hingga, pada akhir malam 1 September 1969 itu, Qaddafi dan pasukannya menggulingkan kekuasaan King Idris I, ketika sang raja sedang berada di luar negeri. Qaddafi menduduki Tripoli, Benghazi, dan beberapa kota kecil lainnya. Orang-orang Qaddafi juga menguasai stasiun radio di Benghazi, yang merupakan nyaris satu-satunya sumber informasi bagi rakyat Libya. Dari radio inilah, seluruh rakyat Libya, baik dari kota maupun pedalaman padang pasir, mendengar berita bergantinya kekuasaan.
Lewat radio itu, Qaddafi berpidato. Seperti halnya Soekarno, Qaddafi menyerukan rakyat bangkit melawan segala bentuk penjajahan. Qaddafi memastikan bahwa Libya sekarang ini bukanlah sekadar pion-pion negara adidaya. “Sejak sekarang, Libya termasuk republik yang bebas dan berdaulat, dengan nama Republik Arab Libya.”5 Qaddafi menyeru agar seluruh rakyat Libya bersatu “menentang musuh-musuh bangsa Arab, musuh-musuh Islam, musuh-musuh kemanusiaan yang telah menghancurkan tempat-tempat suci kita dan merontokkan kehormatan kita.” Segera setelah itu, Qaddafi juga mengumpulkan diplomat-diplomat AS, Soviet dan Perancis guna mendeklarasikan keberadaan pemerintahan baru dan menjelaskan seperti apa nantinya dia akan menjalankan republik ini.
Di pemerintahan baru ini, Qaddafi menjadi perdana menteri Republik Arab Libya Sosialis. Ia juga dipilih sebagai kepala angkatan bersenjata. Qaddafi, menurut Terri Willis, penulis Libya: Enchantment of The World, mendasarkan strategi pemerintahaannya pada tiga faktor: kebebasan politik dan ekonomi bagi rakyat; persatuan rakyat Libya dan persatuan seluruh bangsa di dunia Arab; hukum Islam sebagai penuntun bagi pencapaian keadilan. Tidak diragukan, ini juga mirip dengan pemikiran Soekarno yang tertuang dalam tulisannya “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”.
Anti-Kolonialisme, Nasionalisme
Begitu revolusi berhasil diwujudkan pada 1969, Qaddafi memantapkan semangat antikolonialisme dalam arena praksis. Untuk membersihkan Libya dari pengaruh kekuasaan lama atau dalam bahasa Soekarno “antek-antek kolonialisme”, Qaddafi ingin lebih memperjelas konsep kebebasan bagi Libya.
Bagi Qaddafi, konsep kebebasan, dalam slogan revolusi “sosialisme, kebebasan, persatuan” itu, mengandung tiga hal yang saling bertautan.6 Pertama, kebebasan setiap orang dari kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Kedua, kebebasan tanah air dari penguasaan kaum imperialis. Ketiga, emansipasi ekonomi, politik dan sosial keseluruhan dunia Arab. Qaddafi memperlihatkan mutlaknya pembebasan dari kekuatan imperialis untuk mencapai kebebasan dari kemiskinan dan kebodohan.
Dalam implementasi, pasca revolusi, Qaddafi langsung memusatkan upaya pembebasan dari simbol-simbol kekuasaan luar. Misalnya, pada 19 September 1969, RCC (Dewan Revolusi) yang dikomandani Qaddafi mengeluarkan perintah bahwa seluruh tanda, kartu, tiket di Libya harus ditulis hanya dengan Bahasa Arab. Beberapa waktu kemudian, RCC membidik isu yang lebih besar, yakni memaksa kuku imperialis Amerika dan Inggris hengkang dari Libya. Pada 29 Oktober 1969, Qaddafi menutup markas militer Inggris di Libya dan mengusir tentara-tentaranya. Sehari kemudian, giliran Qaddafi melikuidasi Wheelus Air Force Base, markas militer milik AS.
Tak tanggung-tanggung, Qaddafi juga melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing. Pada 14 November 1969, Qaddafi menasionalisasi bank-bank dan rumah sakit asing. Lalu pada 1971, ia menasionalisasi perusahaan minyak Inggris, British Petroleum. Menandai ulangtahun keempat Revolusi Al-Fateh, yakni 1 September 1973, Libya mengumumkan undang-undang nasionalisasi menyeluruh. Di situ, pemerintah menguasai 51 persen seluruh aset dan bisnis perusahaan minyak dan seluruh partner operator yang ada. “Hak untuk menasionalisasi perusahaan adalah hak dasar bagi seluruh negara dengan cadangan minyak,” kata Qaddafi.7
Konsep persatuan dalam slogan revolusi itu tak bisa dilepaskan dari sikap antikolonialisme Qaddafi. Berulang-ulang, Qaddafi menegaskan, kolonialisme telah merusak kesatuan bangsa-bangsa Afrika dan bangsa-bangsa Arab. Hingga saat ini, Qaddafi tetap mempertahankan pandangan ini. “Biang masalahnya adalah kekuatan kolonial yang telah memecah-belah Afrika,” tandas Qaddafi dalam sebuah pidato di Oxford tahun 2007.
Qaddafi yakin, Afrika sesungguhnya merupakan satu kesatuan besar. Namun kolonialisme telah membuatnya menjadi 50 negara, dengan batas-batas yang kabur dan membingungkan. Batas-batas ini telah memisahkan suku-suku Afrika dalam dua atau tiga negara terpisah. Ujungnya, muncul konflik. Kolonialisme telah menyebabkan banyak konflik. Somalia misalnya. “Siapa yang memisahkannya menjadi bagian Italia dan Inggris? Kolonialisme,” ujar Qaddafi.
Untuk mengatasi problem ini, Qaddafi menandaskan perlunya integrasi yang jenuin. Persatuan menjadi mutlak. Semenjak Revolusi 1969, Qaddafi getol menggemakan pemikiran ini. Ia memprakarsai berbagai upaya pemersatuan bangsa-bangsa Arab. Pada 27 December 1969, misalnya, Qaddafi mencanangkan Piagam Tripoli (Tripoli Charter) yang mempersatukan Libya, Mesir dan Sudan. Ketiga negara ini menyatukan diri sebagai Front Revolusioner Arab. Mereka membentuk komite bersama dan sistem keamanan bersama. Antar negara melonggarkan sistem cukai, aliran tenaga kerja dan membangun kerjasama-kerjasama teknis lain.
Tak lama kemudian, persisnya 17 April 1971, Qaddafi memprakarsai pembentukan Federasi Republik-Republik Arab (Federation of Arab Republics), yang memadukan Libya, Mesir dan Syria. Federasi ini memiliki kerangka kerja bersama dalam kebijakan luar negeri mereka, meski tetap independen dalam menjalin hubungan diplomatik masing-masing dengan negara-negara luar. Melalui federasi ini, sebenarnya direncanakan adanya satu kepemimpinan bersama, penyatuan parlemen, dan sebagainya. Pendeknya, struktur politik bersama. Namun, berbagai hambatan membuat cita-cita Qaddafi tersebut tak terwujud.
Toh, Qaddafi tak surut langkah. Cita-cita pemersatuan bangsa-bangsa Arab terus menuntun langkah-langkahnya. Pada 1984, misalnya, Libya dan Maroko mengumumkan sebuah federasi yang dikenal dengan Persatuan Arab-Afrika (Arab-African Union). Lima tahun kemudian, Libya bergabung dengan Aljeria, Mauritania, Maroko, dan Tunisia dalam Persatuan Arab Maghrib (Arab Maghrib Union).
Bagi Qaddafi, bangsa-bangsa Arab memiliki modal dasar kuat untuk membangun persatuan. Ada dua, yakni nasionalisme dan agama. Dalam Teori Universal Ketiga, sebuah rumusan filsafat politik yang diluncurkan pada 1973, Qaddafi memaparkan bahwa nasionalisme dan agama merupakan kekuatan puncak pendorong sejarah dan kemanusiaan. Nasionalisme dinilai sebagai ekspresi natural dari keanekaragaman ras dan budaya, sehingga mampu menjadi kekuatan yang produktif. Nasionalisme Arab dinilai memiliki akar yang mendalam dan kejayaan masa lalu yang luar biasa. Bangsa Arab merupakan produk dari peradaban tua yang mendasarkan diri pada universalitas pesan al-Quran.
Qaddafi meletakkan Islam dan Quran sebagai sesuatu yang sentral dalam Teori Universal Ketiga ini. Tapi pemahaman Qaddafi terhadap Islam berbeda dari kaum ortodoks di zamannya. Esensi agama bagi Qaddafi adalah keesaan Tuhan. Ia tidak membedakan antara pengikut Muhammad, Isa maupun Musa. Bagi Qaddafi, hanya satu agama, yakni Islam, maka semua pengikut monoteis bisa dinilai sebagai Muslim. Qaddafi yakin, Islam diturunkan bukan hanya kepada pengikut Muhammad, namun sebagai iman kepada Tuhan, Islam telah menyatupadu dalam semua agama. Setiap individu yang percaya pada Tuhan dan utusan-utusannya oleh Qaddafi dinilai sebagai Muslim.
Mengenai al-Quran, Qaddafi menyatakan bahwa setiap Muslim punya posisi setara dalam menafsir dan memahami al-Quran. “Quran ditulis dalam Bahasa Arab dan karenanya setiap orang Arab bisa membacanya dan menerapkannya sendiri, tanpa bantuan orang lain,” tandas Qaddafi. Qaddafi juga mengkritik hadis sebagai sumber hukum Islam, dengan alasan bahwa sumber nyata satu-satunya adalah al-Quran. Begitu pula, Qaddafi mengkritik mazhab-mazhab dalam hukum Islam, dengan dasar bahwa semua itu merupakan hasil dari gesekan kekuatan-kekuatan politik yang sedang bersaing, jadi tidak berhubungan dengan Islam maupun al-Quran.
Bagaimana dengan nasionalisme? Bagi Qaddafi, kebangsaan lebih penting. Ketika diperhadapkan pada pilihan antara keagamaan dan kebangsaan dalam membangun integrasi, Qaddafi lebih mengedepankan faktor kebangsaan Arab. “Jika kita mengadopsi solusi berdasarkan Nasionalisme Arab dan Persatuan Arab, kita akan mengabaikan masalah perbedaan sekte-sekte agama,” ujar Qaddafi dalam sebuah wawancara tahun 1973.8 Kebangsaan Arab, bagi Qaddafi, akan mampu merekatkan berbagai perbedaan. Sebaliknya, ketika faktor agama muncul, masalah juga muncul. Akan mulai timbul, misalnya, apakah seorang pemimpin itu Sunni atau Syi’ah, dan seterusnya.
Nasionalisme Arab, atau Persatuan Arab, berarti integrasi keseluruhan Arab. “Kita menolak, misalnya, persatuan bangsa-bangsa Arab Afrika saja, atau Arab Asia saja,” kata Qaddafi.9 Begitu pula, Persatuan Arab ini tidak memandang apakah Arab Muslim atau Arab Kristiani. “Kita menyeru Persatuan Arab, bukan Persatuan Islam di Dunia Arab. Ketika kita mengatakan Persatuan Arab, itu berarti seluruh Muslim maupun Kristiani yang terlibat dalam memperjuangkan persatuan ini,” imbuh Qaddafi.
Menentang Kapitalisme, Melampaui Komunisme
Dalam membangun Indonesia, Soekarno tidak mau terjebak pada dominasi dua ideologi besar dunia saat itu: kapitalisme dan komunisme. Demikian pula Qaddafi. Melalui Teori Universal Ketiga, Qaddafi mengembangkan alternatif dari kapitalisme dan komunisme. Keduanya tidak sesuai dengan situasi Libya.
Baik kapitalisme maupun komunisme, bagi Qaddafi, berwatak monopolistik. Kapitalisme merupakan monopoli kepemilikan di tangan kaum kapitalis, sedangkan komunisme merupakan monopoli kepemilikan di tangan negara. Karena itu, Qaddafi memposisikan Amerika Serikat maupun Uni Soviet tak lebih sebagai negeri imperialis yang berupaya menancapkan kuku di tanah Timur Tengah.
Qaddafi menolak eksploitasi kelas dalam kapitalisme dan pertarungan kelas dalam komunisme. Keduanya tetap didasarkan pada dominasi sekelompok kecil elit. Bagi Qaddafi, kategori kelas merupakan sesuatu yang artifisial yang diimpor lewat kolonial. Melalui Teori Universal Ketiga, Qaddafi menolak sebuah bentuk hubungan kelas, dan justru hendak menghilangkan perbedaan kelas. Alternatifnya ada pada prinsip Islam yang bernama syura, musyawarah. Urusan nasional maupun urusan komunitas diputuskan lewat musyawarah bersama yang seluruh warga negara bisa bertukar pendapat secara langsung.
Qaddafi tidak saja melanjutkan gagasan nonblok, seperti yang diprakarsai Soekarno dan Nasser. Tapi juga menginginkan, negara-negara Dunia Ketiga berhubungan secara setara terhadap Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Dunia Ketiga mampu membuat perjanjian-perjanjian dengan kedua negara tersebut berdasarkan tujuan dan sasaran sendiri. Qaddafi menegaskan, Dunia Ketiga, khususnya negara-negara Arab, harus tidak lagi jatuh dalam dominasi kedua negara adidaya tersebut.
Karena itu, ideologi alternatif menjadi mutlak diperlukan. Bagi Qaddafi, Islam menjadi sumber alternatif yang jenuin. Apalagi, dalam dunia Arab, agama merupakan penggerak utama tindakan-tindakan dalam masyarakat. “Kita tidak bisa menolak bahwa agama merupakan faktor esensial dalam hidup seluruh rakyat,” kata Qaddafi.10 Sejarah, bagi Qaddafi, merupakan “hasil dari hubungan antara agama dan nasionalisme”. Kedua faktor inilah yang menjadi basis sosial Teori Universal Ketiga, ideologi alternatif yang dibangun Qaddafi itu. “Kita tidak setuju dengan penafsiran komunisme atas sejarah, yang sangat materialis, didasarkan melulu pada dialektika materialisme dan gerak ekonomi,” jelas Qaddafi.
Lebih lanjut, menurut Qaddafi, jika agama adalah basis dari individual, nasionalisme adalah basis dari masyarakat. Dalam Quran jelas disebut bahwa suku dan bangsa merupakan bagian tak terpisahkan dari tata dunia. Setiap orang merupakan bagian dari suatu bangsa sejak lahir. Baru kemudian ia secara sadar memilih sebagai salah satu anggota agama. Karena itu pula Qaddafi menilai, mereka yang menolak validitas nasionalisme, yang dalam hal ini Pan-Arabisme, adalah salah. Begitu pula yang menolak agama. “Mengapa harus menolak agama? Tahukah apa yang terjadi pada mereka yang mencoba menolak? Coba telusuri seluruh wilayah Arab dan berteriaklah ‘Tuhan’, maka setiap orang akan menyambut teriakanmu.”11
Namun demikian, Qaddafi ini tak serta merta beralih posisi ke blok kapitalisme. Monopoli kepemilikan ala kapitalisme tidak bisa ditolerir oleh Qaddafi. Mau tak mau, Qaddafi perlu membangun fondasi yang berbeda. Di sini, seperti halnya Soekarno, Qaddafi memilih sosialisme yang didasarkan pada akar-akar lokal. Qaddafi yakin, sosialisme memiliki watak-watak yang sudah ditemukan dalam negeri sendiri. “Sosialisme telah mengakar pada bangsa Libya,” demikian Qaddafi berulang menegaskan. Sosialisme Libya memang berbeda dari sosialisme yang dikenal selama ini. Sosialisme Libya memiliki basis Islam. Dalam Islam, setiap muslim berkewajiban untuk membayar zakat, membagi hartanya pada orang lain.
Pemikiran semacam ini di antaranya yang membuat Qaddafi melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan membatasi kepemilikan pribadi. Kesejahteraan sosial menjadi prioritas. Pemerintahan Qaddafi menjalankan program-program prorakyat, semisal pembangunan perumahan rakyat, perbaikan layanan kesehatan, dan peningkatan pendidikan.
Bagi Qaddafi, seperti tertuang dalam bagian kedua The Green Book, buku yang menjabarkan lebih detil Teori Universal Ketiga, kebutuhan dasar rakyat adalah rumah, penghasilan (income), dan kendaraan. Pola penyewaan rumah dan kendaraan tak lain merupakan bentuk dominasi atas kebutuhan dasar orang lain. Kepemilikan tanah terlarang. Sebab tanah sejatinya merupakan kepemilikan masyarakat, bukan kepemilikan individual. Qaddafi juga menandaskan, akumulasi kekayaan di atas kebutuhan dasar individu merupakan bentuk eksploitasi. Alasannya, masyarakat akan menderita kekurangan kebutuhan dasar, sebab akumulasi kekayaan di atas kebutuhan dasar hanya bisa dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dasar orang lain.
Melalui The Green Book bagian kedua yang diberi judul “Solusi atas Problem Ekonomi: Sosialisme” itu, Qaddafi berupaya mengembangkan teori sosialisme ‘natural’ yang berdasarkan pada kesejajaran antara apa yang ia sebut sebagai tiga faktor ekonomi produksi: bahan mentah, alat produksi dan produsen.
Bagi Qaddafi, ketiga hal ini sama-sama penting dalam proses produksi. Karenanya, setiap orang punya hak atas pembagian merata atas hasil yang diproduksi. Masalah dalam pendekatan sosialisme lama adalah, bagi Qaddafi, mereka terlalu fokus pada soal kepemilikan, upah, atau satu saja dari faktor-faktor produksi. Akibatnya, mereka gagal membidik masalah dasar ekonomi, yakni produksi itu sendiri.
Qaddafi mendukung penghapusan sistem upah maupun sistem ekonomi berorientasi profit. Buruh upahan tak ubahnya budak, dan karenanya ini harus dihilangkan, diganti dengan hubungan partner produksi. Begitu pula, pembantu rumah tangga merupakan budak zaman modern.
Prinsip-prinsip sosialisme Qaddafi tidak sekadar di atas kertas, melainkan juga tertuang dalam kebijakan dan peraturan. Sejak Maret 1978, seluruh rakyat Libya memiliki hak atas rumah sendiri, dan dibatasi hanya satu rumah. Beberapa bulan kemudian, buruh-buruh mengambil alih sekitar 200 perusahaan. Pada 1978-79 dilakukan land reform, reformasi kepemilikan tanah.
Demokrasi Langsung, Antielitisme
Seperti halnya Soekarno, Qaddafi lebih mengedepankan sistem politik yang egalitarian. Sistem politik semacam ini memposisikan elemen-elemen masyarakat dalam posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Qaddafi membangun sebuah sistem yang disebut “demokrasi langsung”. Dalam sistem ini, seperti yang dirumuskan Qaddafi dalam The Green Book-nya, warga negara mengatur diri mereka sendiri lewat aktivitas-aktivitas akar rumput tanpa mediasi lembaga negara, atau hierarki organisasi seperti militer, kesukuan, ulama, maupun akademik.
Sistem politik semacam itu disebut Qaddafi dengan istilah “jamahiriyyah”. Secara harafiah, jamahiriyyah berarti “kerakyatan”, atau “kedaulatan rakyat”. Sarjana Amerika Lisa Anderson12 menyarankan makna jamahiriyyah sebagai “kerakyatan” atau “negara massa”. Qaddafi memaksudkannya sebagai sistem politik dimana negara dijalankan langsung oleh rakyat, tanpa intervensi birokrasi pemerintahan. Pada 2 Maret 1977, Qaddafi secara resmi mengeluarkan Deklarasi Pembentukan Kedaulatan Rakyat. Libya sendiri diberi nama lengkap Rakyat Sosialis Arab Libya Jamahiriyyah.
Dalam mewujudkan politik antielitisme itu, Qaddafi menggunakan gagasan ‘komite rakyat’ dan ‘kongres rakyat’. Unit ini tidak hanya bertanggung jawab membuat legislasi, melainkan juga eksekusinya di level akar rumput. Bagi sejumlah pengamat, gagasan Qaddafi ini sangat mirip dengan teori politik Jean-Jacques Rousseau.13 Ada kesamaan bahwa keduanya yakin pada kesetaraan dan kekuasaan langsung rakyat. “Definisi demokrasi lama—bahwa demokrasi adalah supervisi terhadap pemerintahan oleh rakyat—ketinggalan zaman. Ia akan diganti dengan definisi sesungguhnya: demokrasi adalah supervisi terhadap rakyat oleh rakyat,” tandas Qaddafi.14
Konkritnya, setiap penduduk berusia 18 tahun ke atas, pada masing-masing zona, memilih—dan berhak dipilih—‘komite rakyat’ mereka sendiri, yang akan menangani urusan-urusan masyarakat di zona mereka sendiri. Proses pemilihan dipraktikkan secara terbuka. Artinya, tidak ada bilik suara maupun kotak suara tertutup. Pemilihan dilakukan dengan mengangkat tangan atau masuk ke blok ‘ya’ atau ‘tidak’.
Di tingkat kota, penduduk pun memilih Kongres Rakyat Dasar (Basic People’s Congress) di tingkat lokal. Lebih jauh, dalam mengatur wilayah kota, misalnya, Kongres akan memilih seorang ketua dan lima orang ‘komite rakyat kota’. Urusan-urusan mereka tidak diatur oleh penguasa ‘pusat’ atau pemerintahan nasional, melainkan oleh komite-komite yang dipilih penduduk sendiri. Inilah pengejawantahan konsep Qaddafi mengenai “kedaulatan rakyat”.
Sementara itu, di tingkatan nasional, kebijakan dibuat dari bawah ke atas. Kongres Rakyat Dasar dari berbagai penjuru membuat keputusan-keputusan terkait persoalan yang dihadapi rakyat. Keputusan-keputusan itu lalu diteruskan kepada Kongres Rakyat Umum (General People’s Congress) guna dipertimbangkan dan diimplementasikan sebagai kebijakan nasional.
Meski diperkokoh pada 1977, konsep ‘komite rakyat’ ini sudah diperkenalkan Qaddafi pada 1973, ketika Qaddafi melontarkan apa yang ia sebut “Revolusi Kebudayaan”. Qaddafi melakukan revolusi ini dengan tujuan memerangi birokrasi yang tidak efisien, mengedepankan partisipasi rakyat dalam sistem pemerintahan lokal maupun masalah-masalah koordinasi politik nasional. Tak sungkan-sungkan, Qaddafi menantang kaum revolusioner untuk melawan otoritas tradisional, mengambil alih kekuasaan mereka, dan menjalankan pemerintahan dengan tangan mereka sendiri. Jadilah ‘komite rakyat’ sebagai alat mencapai tujuan-tujuan ini.
Komite rakyat dibentuk secara geografis maupun fungsional. Secara geografis, komite dibentuk pada tiap-tiap zona, kota, dan propinsi. Pada tingkat zona, pemilihan langsung dilakukan guna mengisi kursi komite rakyat. Komite rakyat tingkat zona kemudian memilih orang-orang untuk duduk di komite rakyat level kota.
Selanjutnya, komite rakyat level kota memilih perwakilan-perwakilan guna membentuk sekretariat komite. Adapun secara fungsional, komite rakyat dibentuk di universitas, perusahaan swasta, birokrasi dan media penyiaran. Anggota memilih komite-komite mereka sendiri untuk mengelola urusan-urusan mereka sendiri.
Pembentukan sistem komite rakyat ini menandai perubahan signifikan dalam sejarah perpolitikan Libya. Ini pertama kali dalam sejarah Libya, sistem politik subnasional mendorong partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin lokal, dan membolehkan keterlibatan lokal yang sungguh-sungguh dalam proses pengambilan keputusan.15
Sementara itu, di level nasional, konsep demokrasi langsung menjelma dalam Kongres Rakyat Umum. “Kongres Rakyat Umum bukanlah pertemuan orang per orang atau anggota per anggota seperti dalam sebuah parlemen,” tandas Qaddafi dalam The Green Book-nya, “melainkan, ia merupakan pertemuan antara komite-komite rakyat dan kongres-kongres rakyat.” Karena itu wajar bila Kongres diisi oleh elemen-elemen Kongres Rakyat Dasar dan komite-komite rakyat kota dan cabang kota, juga komite-komite rakyat dari asosiasi-asosiasi perusahaan, serikat mahasiswa, maupun asosiasi-asosiasi profesional. Jumlah anggotanya berkisar 2.700 orang.
Kongres Rakyat Umum menggelar sidang tahunan, yang biasanya berlangsung selama dua minggu pada Januari atau Februari. Ini menjadi forum utama untuk membahas dan menetapkan perencanaan, program, dan kebijakan nasional. Rincian tanggung jawab implementasi oleh kongres-kongres rakyat, komite-komite rakyat, asosiasi-asosiasi, serikat-serikat pekerja, dan sebagainya juga ditetapkan di forum ini.
Untuk mengimplementasikan keputusan-keputusannya, Kongres memiliki unsur-unsur. Kepala pelaksananya disebut Sekretaris Jendral, yang diduduki oleh Qaddafi sendiri pada tahun-tahun awal pendeklarasian Jamahiriyya. Kongres juga membentuk Sekretariat Jendral yang terdiri atas 5 orang dengan fungsi semacam staf pelaksana dan badan penasehat. Di luar itu, dibentuk pula Komite Umum Rakyat yang terdiri atas sejumlah sekretaris dengan peran semacam menteri-menteri dalam kabinet.
Pelaksanaan keputusan-keputusan politik hingga level akar rumput tentu membutuhkan pengawas. Siapa yang mengawasi? Qaddafi menggagas Komite Revolusi pada 1977. Komite ini bertugas melakukan “supervisi revolusioner” dari kedaulatan rakyat. Ia memberi arahan pada komite-komite rakyat, membangun kesadaran politik dan menjaga komitmen paga aksi-aksi revolusioner. Komite ini dibentuk di mana-mana. Ia ada di departemen-departemen pemerintahan, di dalam Kongres Rakyat Dasar, komite-komite rakyat, serikat-serikat buruh, asosiasi-asosiasi profesional, gerakan-gerakan mahasiswa, dan seterusnya.
Singkat kata, Qaddafi menginginkan ‘demokrasi langsung’ berjalan di segala level proses politik. Sehingga, apa yang dicita-citakan sebagai kedaulatan rakyat (jamarihiyyah) dapat terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Senafas dengan Soekarno
Deskripsi di atas memperlihatkan dengan jelas, selain terinspirasi oleh Nasser, pemikiran-pemikiran Qaddafi memiliki kedekatan istimewa dengan konsep-konsep Soekarno. Soekarno menawarkan perpaduan antara sosialisme, nasionalisme dan Islam, yang pada akhirnya memberi warna sosialisme yang khas Indonesia. “Sosialisme kami adalah sosialisme yang dikurangi dengan pengertian materialistisnya yang ekstrim,” tandas Soekarno dalam biografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, “karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang terutama takut dan cinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu campuran.”
Di mata Soekarno, Indonesia memiliki jiwa, watak, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak bisa serta merta mengadopsi sosialisme Eropa. “Kami menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen,” ujar Soekarno, “Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Ke dalam campuran yang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional: Marhaenisme. Kemudian kami memercikkan ke dalamnya gotong-royong yang menjadi jiwa inti daripada bekerja bersama, hidup bersama dan saling bantu-membantu. Kalau ini dicampurkan semua, maka hasilnya adalah Sosialisme Indonesia.”
Sosialisme Indonesia yang digagas Soekarno ini, atau yang kemudian lebih dikenal dengan Marhaenisme, sudah diperkenalkan sejak 1926 melalui tulisannya “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”. Soekarno hendak memadukan ketiga ideologi yang menguat saat itu, yakni Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. “Bukannya kita mengharap yang nasionalis itu supaya berubah paham menjadi Islamis atau Marxis,” tulis Soekarno, “bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita ialah kerukunan, persatuan antara tiga golongan tersebut.”
Soekarno menegaskan agar kaum nasionalis bekerjasama dengan kaum Islam. Nasionalis sejati, di mata Soekarno, bukanlah seorang chauvinis. Kecintaan seorang nasionalis sejati pada tanah air bersendi pada pengetahuan, bersandar atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, bukan pada semata kesombongan belaka—chauvinis. Karenanya, kaum nasionalis harus mampu bekerja sama dengan sesama pejuang tanah air sejati, tak terkecuali kaum Islam. “Adakah keberatan untuk kaum nasionalis yang sejati bekerja bersama-sama dengan kaum Islam, oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas-negeri ialah super-nasional super-teritorial?” Soekarno seperti hendak menangkap perasaan kaum nasionalis yang enggan bergandeng tangan dengan Islam.
Segera Soekarno mengingatkan kaum nasionalis bahwa di berbagai negara Asia para pejuang penentang penjajahan adalah kelompok-kelompok Islam. Mereka sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme Barat. Dengan demikian, tegas Soekarno, kelompok Islam adalah kawan bagi kaum nasionalis, bukan lawan. Begitu pula sebaliknya, terhadap kelompok Islam, Soekarno juga mengajak berangkulan dengan kaum nasionalis. ”Bukankah, sebagai yang sudah kita terangkan, Islam yang sejati mewajibkan pada pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat diantara mana ia hidup, selama negeri dan rakyat itu masuk Darul-Islam?”
Seolah menangkap keraguan kelompok Islam, Soekarno kembali menandaskan bahwa di mana-mana orang Islam bertempat di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya. Kelompok Islam juga harus mampu berdampingan dengan kaum sosialis Marxis. ”Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu ialah musuh Islamisme pula!” Soekarno mengingatkan, Islam sebenarnya juga mengadung tabiat-tabiat sosialistis, meskipun pada Islam asas yang digunakan berbeda, yaitu spiritualisme, sedangkan pada sosialisme Marxis dasarnya pada perbendaan atau materialisme.
Baik sosialisme dalam Islam maupun dalam Marxisme, lanjut Soekarno, sama-sama menentang ekspolitasi kapitalisme. “Sebab meerwaarde sepanjang paham Marxisme dalam hakikatnya tidak lainlah dari pada riba sepanjang paham Islam. Meerwaarde ialah teori: memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh yang bekerja mengeluarkan untung tersebut.” Karena itu, ujar Soekarno, Islamis sejati tak layaklah memusuhi paham Marxisme yang melawan peraturan meerwaarde tersebut, sebab Islam yang sejati juga memerangi peraturan itu. “Bahwa Islam yang sejati melarang keras akan perbuatan memakan riba ... bahwa riba ini pada hakikatnya tiada lain daripada meerwaarde-nya paham Marxisme itu.”
Di sisi lain, Soekarno juga mengajak kaum Marxis untuk tidak menolak kelompok Islam. ”Disini agama Islam adalah agama kaum yang tak merdeka, disini agama Islam adalah adalah agama kaum yang ‘di bawah’,” tandas Soekarno, “Tidak boleh tidak, suatu agama yang anti kapitalis, agama kaum yang tak merdeka, agama kaum yang ‘di bawah’ ini, agama yang menyuruh mencari kebebasan, agama yang melarang menjadi kaum bawahan, dan pastilah menimbulkan suatu perjuangan yang dalam beberapa bagian sesuai dengan kaum Marxisme itu.”
Bagi Soekarno, Marxisme yang tidak mau bekerja sama dengan kaum nasionalis dan kelompok Islam adalah kuno, ketinggalan jaman. “…Marxis yang kolot teori dan kuno taktiknya,” ujarnya. Marxisme yang memusuhi pergerakan kaum nasionalis dan Islamis yang sejati dikritik keras Soekarno. “Marxis yang demikian itu janganlah merasa terlanggar kehormatannya jikalau dinamakan racun rakyat adanya!”
Kedekatan sikap dan pemikiran Qaddafi dengan Soekarno tidak saja mencakup soal warna sosialisme yang menggabungkan situasi lokal. Sikap keduanya terhadap kolonialisme juga senafas. Meski lahir dan hidup dalam dekade berbeda, sikap antikolonialisme Qaddafi maupun Soekarno serupa. Soekarno muda tumbuh dengan sikap antikolonialisme yang tegas.
Robert Dahm, dalam Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan, berpendapat bahwa kreativitas Soekarno sebagai pemikir tentang nasionalisme dan penentang kolonialisme memuncak pada 1926-1927. Menurut Dahm pula, ada dua karakter yang menonjol pada Soekarno, yakni pertama, pemersatu ulung, dan kedua, anti-imperialis yang militan.
Wajar saja, sebab Soekarno sendiri memandang, motivasi pokok dari kolonialisme adalah eksploitasi ekonomi. Kolonialis Eropa datang ke Asia dan Afrika tak lain hanya untuk, dalam bahasa Soekarno, “mengisi perutnya yang keroncong belaka”.16
Agar gagasan antikolonialismenya mudah dipahami khalayak, Soekarno menggunakan perumpamaan lokal. Kata dia, kolonialisme, atau kadang disebut imperialisme, tak ubahnya “Nyi Blorong”, atau ular naga.17 Kepala sang naga berada di Asia dan Afrika, menyerap berbagai kekayaan alam yang ada. Sedangkan tubuh dan ekor sang naga berada di Eropa, menikmati hasil serapan tersebut.
Imperialisme, bagi Soekarno, erat terkait dengan kapitalisme. Baik kaum imperialis maupun kapitalis tak segan-segan mengisap orang lain. Melalui kolonialisme, para kapitalis Eropa mengisap habis-habisan sumberdaya manusia dan kekayaan alam negeri-negeri Asia dan Afrika. Kapitalisme ini, kata Soekarno, tumbuh sedemikian rupa hingga menciptakan barang-barang berlebih. Barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Timur berbalik diekspor ke Timur. “Jadi, Timur menjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih,” tulisnya dalam Bung Karno.
Selanjutnya, liberalisme dalam ekonomi membawa liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dahulu negara itu harus ditaklukkan. “Bangsa-bangsa Asia-Afrika dijajah dan kelobaan ini membuka pintu kepada jaman Imperialisme,” tandas Soekarno.
Ia menjelaskan bagaimana Jawa diduduki pada abad ke-16, Maluku pada abad ke-17, lalu perlahan Belanda merambah seluruh kepulauan hingga Bali yang baru ditundukkan pada 1906. Imperialisme menancap lebih dalam hingga ke wilayah budaya, mengikis kepribadian bangsa. “Musnahlah putera-puteri harapan bangsa dari suaru bangsa yang besar yang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, menciptakan tari,” imbuh Soekarno.
Jelaslah bagi Soekarno, imperialisme ekonomi beriringan dengan imperialisme politik, bahkan imperialisme budaya. Imperialisme ekonomi melakukan pengisapan orang dan kekayaan alam, imperialisme politik menopang dan melanggengkannya lewat kekuasaan, dan imperialisme budaya menundukkan jiwa dan kepribadian bangsa.
Pengetahuan, bagi Soekarno, juga tak luput dari kuasa imperialisme. Soekarno mencontohkan pengetahuan tentang sistem irigasi. Di akademi waktu itu, yang dipelajari bukan tentang bagaimana cara mengairi sawah sebaik-baiknya. Tapi hanya tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. “Ini adalah irigasi untuk kepentingan imperialisme dan kapitalisme,” tandas Soekarno. Sistem pengetahuan macam ini tidak untuk memberi makan rakyat banyak yang kelaparan. Tapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan.
Begitu pula tentang pengetahuan teknik membangun jalan. “Tidak mungkin dapat menguntungkan rakyat,” ujar Soekarno. Pengetahuan diarahkan untuk merencanakan jalan-jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan. Tujuannya? Agar pabrik-pabrik dapat mengangkut hasil mereka secara maksimal.
Soekarno muda pernah memrotes rektornya di ITB. “Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi kolonial terhadap kami?” tanya Soekarno kepada Prof. Ir. G. Klopper M.E, rektor Sekolah Tinggi Teknik (kini ITB).
“Sekolah Tinggi ini,” jawab sang rektor, “didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”
“Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal politik Imperialisme Belanda di sini?”
“Ya, Tuan Soekarno. Itu benar,” sahut Klopper.18
Tanya-jawab itu rupanya kian mengukuhkan sikap antikoloniasme Soekarno. Sikapnya semacam ini tidak berubah bahkan setelah kemerdekaan republik. Pada 17 Mei 1956, yang ketika itu Qaddafi remaja dikobarkan pidato-pidato rekan Soekarno, Gamal Abdul Nasser, Soekarno berpidato di depan Kongres Amerika Serikat dalam rangka kunjungan resminya. Soekarno menyerang kolonialisme. “Perjuangan dan pengorbanan yang telah kami lakukan demi pembebasan rakyat kami dari belenggu kolonialisme,” kata Bung Karno, “telah berlangsung dari generasi ke generasi selama berabad-abad.”19
Tetapi, perjuangan belum selesai, kata Soekarno. “Bagaimana perjuangan itu bisa dikatakan selesai jika jutaan manusia di Asia maupun Afrika masih berada di bawah dominasi kolonial, masih belum bisa menikmati kemerdekaan?”20
Beberapa tahun kemudian, persisnya 30 September 1960, Soekarno berpidato di depan Sidang Umum PBB ke-15. Ia menegaskan kembali penentangannya terhadap kolonialisme. “Tengoklah sekeliling dunia kita ini,” tandas Soekarno merujuk pada negeri-negeri Asia dan Afrika. “Di banyak tempat terdapat ketegangan-keteganan dan sumber-sumber sengketa potensiil. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan jumpai, bahwa hampir tanpa perkecualian, imperialisme dan kolonialisme di dalam salah satu dari banyak manifestasinya adalah sumber ketegangan atau sengketa itu.”
Kita tahu, kata-kata serupa di kemudian hari kita dengar kembali, dan kali ini keluar dari mulut Qaddafi. “Begitu banyak konflik di benua (Afrika) ini yang kita mintakan nyaris tiga-perempat kekuatan PBB untuk menyelesaikannya. Dan dalang utamanya adalah kekuatan kolonial yang memecah-belah Afrka,” ujar Qaddafi di depan mahasiswa Universitas Oxford, Mei 2007.
Baik Soekarno maupun Qaddafi menginginkan, perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme memerlukan persatuan bangsa-bangsa dunia ketiga. Mark T Berger, pengamat politik internasional dari Australia, memaparkan kesamaan Soekarno dan Qaddafi dalam kancah ‘politik dunia ketiga’. Bagi Berger, Soekarno merupakan generasi pertama gerakan Third Worldism, sedangkan Qaddafi generasi kedua.21
Titik penting yang menjadi dasar identifikasi Berger adalah Konferensi Bandung, atau juga disebut Konferensi Asia Afrika, tahun 1955. Generasi pertama, yakni era 1950an dan 1960an, adalah penggagas dan penggerak Konferensi Bandung serta pendiri Gerakan Non Blok. Adapun generasi kedua, yakni era 1970an dan 1980an, adalah para penerus yang membawa spirit nonblok dalam melawan pola-pola baru kolonialisme dan imperialisme. Di antara yang terdepan dari generasi kedua ini, menurut Berger, selain Qaddafi adalah Fidel Castro dari Cuba, Amerika Latin.
Semangat, atau juga bisa disebut ambisi, Qaddafi untuk menyatukan bangsa-bangsa Afrika maupun Arab, boleh jadi sangat dipengaruhi Soekarno, yang berambisi menyatukan Asia-Afrika melawan kolonialisme. Peran Soekarno dalam memprakarsai Konferensi Bandung, yang menyatukan 29 negara di Asia dan Afrika itu, memang diakui dunia. “Bagi banyak pemimpin bangsa dan tokoh angkatan tua gerakan progresif berbagai negeri Asia-Afrika,” tulis A Umar Said22, “Bandung dan Soekarno adalah dua nama tetap, sampai sekarang, tertanam secara terhormat dalam ingatan mereka.”
Menurut A Umar Said, para pemimpin perjuangan rakyat senantiasa menyebut-nyebut nama Soekarno dan Bandung dalam pidato-pidato mereka. Sebut saja, di antaranya, Gamal Abdul Nasser (Mesir), Anwar Sadat (Mesir), Ahmad Ben Bella (Aljazair), L. Sedar Senghor (Senegal), Modibo Keita (Mali), Sekou Touré (Guinea), Dr. Kwame Nkrumah (Ghana), Patrice Lumumba (Conggo), Mugabe (Zambia), Julius Nyerere (Tanganyika, yang kemudian menjadi Tanzania), Salim Ahmad Salim (Zanzibar, yang kemudian menjadi Sekjen OAU – Organisasi) Persatuan Afrika), dan Nelson Mandela (Afrika Selatan).
Konferensi yang diselenggarakan pada 18-25 April 1955 itu memang membutuhkan persiapan panjang. Soekarno senantiasa mengajak rakyat Indonesia mengikuti upaya-upaya tersebut lewat media, terutama RRI waktu itu. Pada April 1954, misalnya, Soekarno mengutus Ali Sastroamidjoyo di Konferensi Kolombo, Srilanka, yang dihadiri pemimpin negara-negaea dunia ketiga antara lain Jawaharlal Nehru (India), U Nu (Birma), Mohamad Ali (Pakistan), dan John Kotewal dari Srilanka sendiri. Hasil konferensi ini kemudian dibawa ke konferensi Panca Negara di Bogor pada Desember 1954. Dari sini ditetapkanlah acara konferensi Asia-Afrika di Bandung itu, berikut rumusan tujuan dan negara-negara yang diundang.
Ketika itu, negara-negara di Afrika masih banyak yang belum merdeka, masih di bawah jajahan negara-negara Eropa. Maka, dari 29 negara yang hadir di Bandung, hanya terdapat 6 negara dari Afrika, yakni Mesir, Sudan, Libya, Liberia, Ghana, dan Ethiophia. Tapi justru dari sinilah kemudian kobaran semangat pembebasan dari kolonialisme menggelora di Afrika, terutama lewat pidato-pidato Nasser.
Tak heran jika ‘semangat Bandung’ ini kemudian menular ke Qaddafi. Filosofi Qaddafi mengenai persatuan bangsa-bangsa terjajah, atau bekas terjajah, di Arab dan Afrika, cukup jelas memperlihatkan hal tersebut. Bahkan, pola-pola mengorganisasi persatuan juga mirip. Lihatlah bagaimana Qaddafi memprakarsai Federasi Republik-Republik Arab, Persatuan Arab Maghribi, hingga Persatuan Arab-Afrika. Seolah-olah, spirit Bandung, ruh Soekarno, hadir di sini. *
Tulisan Revolusi Qaddafi,Ruh Soekarno pertama kali dipublikasikan di blog Mujtaba Hamdi . Ia dibuat pada awal 2009 sebagai calon salah satu bab dalam sebuah buku mengenai interkoneksi politik dan budaya Libya dengan Indonesia. Oleh sebab satu dan lain hal, rencana penerbitan buku tersebut ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Catatan:
1. Arfi Bambani Amri, “Lawatan ‘Non Blok’ Megawati ke 3 negara di Afrika Utara”, detik.com, Rabu 7 November 2007.
2. Tiga prinsip dalam Trisakti Soekarno adalah berdaulat dan bebas dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Seperti nanti kita lihat, prinsip Sosialisme Qaddafi setara dengan gagasan berdikari dalam ekonomi milik Soekarno, Kebebasan senada dengan berdaulat dan bebas dalam politik, dan Persatuan mirip dengan pembentukan karakter bangsa.
3. Lihat Brenda Lange, Muammar Qaddafi - Major World Leaders (Philadelphia: Chelsea House Publishers, 2005), hlm 36.
Jumat, 30 Maret 2012
Islam itu sosialis,Pancasila itu Islami...(1)
Bicara soal sosialisme, perlu diketahui bahwa ideologi itu sudah ada
di kepala manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak jaman Yunani
kuno, sejak jaman rahib-rahib Nasrani getol meneruskan perjuangan Nabi
Isa menyebarkan iman tauhid, sejak kenabian Muhammad, hingga
diteruskan oleh para filsuf-filsuf barat & Asia.
Dan ideologi itupun mendarat di bumi Nusantara oleh para wali &
diwujudkan oleh para pendiri Republik Indonesia dalam bingkai Panca
sila.
Ada hubungan kekerabatan antara sosialisme,agama dan Pancasila.
Hubungan kekerabatan itu melahirkan apa yang disebut SOSIALISME ISLAM.
Sebagaimana proses alam, sosialisme ibarat mendung di langit lalu
agama ibarat angin yang membuat air mendung jatuh ke bumi, meresap ke
tanah jadi sumber air,itulah Pancasila,dan produk airnya yang kita
timba untuk kita manfaatkan sebagai air minum,untuk memasak,untuk
mencuci dan mandi, itulah SOSIALISME ISLAM.
Istilah tersebut dipopulerkan oleh ALI SYARIATI,filsuf revolusioner
Iran. Dengan hasil pemikirannya mampu menggerakkan rakyat
menumbangkan rezim totaliter Syah Iran. Di Indonesia,ideologi tersebut
sebenarnya sudah terakomodasi dalam ideologi Pancasila,namun sebagai
bangsa plural ,para pendiri negara,emoh dengan embel- embel ISLAM.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menegaskan jatidiri kita sebagai
muslim yang memiliki rasa egaliter,solidaritas, empati,dan demokratis
dengan mengenakan jubah kebesaran SOSIALISME ISLAM.
Wacana sosialisme islam pernah di tulis oleh HOS Tjokroaminoto.
di kepala manusia sejak ribuan tahun yang lalu, sejak jaman Yunani
kuno, sejak jaman rahib-rahib Nasrani getol meneruskan perjuangan Nabi
Isa menyebarkan iman tauhid, sejak kenabian Muhammad, hingga
diteruskan oleh para filsuf-filsuf barat & Asia.
Dan ideologi itupun mendarat di bumi Nusantara oleh para wali &
diwujudkan oleh para pendiri Republik Indonesia dalam bingkai Panca
sila.
Ada hubungan kekerabatan antara sosialisme,agama dan Pancasila.
Hubungan kekerabatan itu melahirkan apa yang disebut SOSIALISME ISLAM.
Sebagaimana proses alam, sosialisme ibarat mendung di langit lalu
agama ibarat angin yang membuat air mendung jatuh ke bumi, meresap ke
tanah jadi sumber air,itulah Pancasila,dan produk airnya yang kita
timba untuk kita manfaatkan sebagai air minum,untuk memasak,untuk
mencuci dan mandi, itulah SOSIALISME ISLAM.
Istilah tersebut dipopulerkan oleh ALI SYARIATI,filsuf revolusioner
Iran. Dengan hasil pemikirannya mampu menggerakkan rakyat
menumbangkan rezim totaliter Syah Iran. Di Indonesia,ideologi tersebut
sebenarnya sudah terakomodasi dalam ideologi Pancasila,namun sebagai
bangsa plural ,para pendiri negara,emoh dengan embel- embel ISLAM.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menegaskan jatidiri kita sebagai
muslim yang memiliki rasa egaliter,solidaritas, empati,dan demokratis
dengan mengenakan jubah kebesaran SOSIALISME ISLAM.
Wacana sosialisme islam pernah di tulis oleh HOS Tjokroaminoto.
Tahun 1924 di Mataram, HOS Tjokroaminoto yang kemudian kita kenal sebagai salah seorang pendiri dan sekaligus ketua Sarekat Islam (SI) menulis buku “Islam dan Sosialisme”. Buku tersebut ditulis oleh Tjokro, di samping karena pada waktu itu tengah terjadi pemilihan-pemilihan ideologi bangsa, juga lantaran pada waktu itu paham ideologi yang digagas para tokoh dunia sedang digandrungi oleh kalangan pelajar Indonesia, di antaranya sosialisme, Islamisme, kapitalisme dan liberalisme.
HOS Tjokroaminoto sebagai intelektual dengan ghirah ke-Islaman yang tinggi ingin menjawab salah satu ide dari paham-paham tersebut terutama sosialisme yang lebih mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. Mereka menganggap sosialisme punya misi kuat untuk kepentingan rakyat, terutama kaum buruh, petani dan kelas pekerja lainnya.
Karena itu, ia menawarkan sebuah gagasan sosialisme Islam. Tapi Tjokro sadar bahwa realisasi dari gagasan ini di tingkat praksis akan menemui kesulitan, mengingat rakyat dihadapkan pada pemilihan ideologi yang ideal. Apalagi pada saat itu sudah berkembang ideologi sosialisme dan komunisme yang dianggap lebih cocern terhadap kaum mustadh’afin.
“Islam dan Sosialisme” sendiri memuat beberapa pembahasan. Pembahasan menyangkut kaitan sosialisme dengan Islam, kehidupan bangsa Arab pra Islam (sebelum Nabi), misi Nabi Muhammad yang bersifat sosialis, sikap sosialis sahabat-sahabat Muhammad. Prototipe sosialisme ala Islam, imperialisme muslim, agama dan sosialisme, pengelolaan pemerintahan secara sosialis juga menjadi pembahasan dari buku tersebut.
Dalam buku tersebut HOS Tjokroaminoto memulai tulisannya dengan sebuah pertanyaan apakah sosialisme Islam itu. Menurutnya, sosialisme Islam adalah “sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada azas-azas Islam belaka.” Lebih jauh dia menjelaskan, “Cita-cita sosialisme di dalam Islam tidak kurang dari 13 abad umurnya dan tidak boleh dikatakan terbit daripada pengaruhnya bangsa Eropah. ..azas-azas sosialisme itu telah dikenal di dalam pergaulan hidup Islam pada zamannya Nabi kita, Muhammad SAW.”
Menurut Tjokro, Islam secara tegas melarang (mengharamkan) riba (woeker) dan dengan begitu Islam menentang keras kapitalisme. “Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaannya lain orang, tidak memberikan bahagian keuntungan yang mestinya (dengan seharusnya) kebahagiannya lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu, –semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan “meerwaarde” (nilai lebih) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan memakan “riba” belaka,” tulisnya.
Penolakan Islam terhadap kapitalisme jelas terlihat dalam konsep dasar muamalah Islam, di mana Islam mengingatkan akan celaka orang yang mengumpulkan harta untuk kesia-siaan. Jadi dalam sistem muamalah Islam, praktek yang mengarah pada penimbunan atau penumpukan modal dan barang adalah dilarang. Demikian juga Islam melarang praktek riba karena dianggap benih kapitalisme atau meer warde dalam konsep Marx
Menurut HOS Tjokroaminoto, dasar sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad adalah kemajuan budi pekerti rakyat. Hal ini tampak dalam pernyataannya, “Menurut pendapat saya dalam faham sosialisme ada 3 anasir, yaitu “kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-heid-equality), dan persaudaraan (broederschap-fraternity).
Nilai sosialisme dalam Islam, lanjutnya, terlihat dari misi yang disandang Muhammad bahwa ia datang untuk rahmat bagi seluruh alam. Jadi sejatinya orang Islam dimanapun berada selalu menebarkan cinta kasih dalam niat dan perbuatan, menyebarkan rasa kemanusiaan yang tinggi, menjunjung nilai-nilai luhur, bukan hanya pada ideologi atau agamanya saja tapi pada kemanusiaannya juga, bukan hanya pada manusia saja tapi pada makhluk lainnya juga. Dengan demikian tidak ada lagi perusakan baik di daratan maupun lautan, tidak ada lagi eksploitasi terhadap binatang, tumbuhan dan alam lainnya.
Dalam pandangan Tjokro, keunggulan (sosialisme) Nabi bukan hanya karena ia selalu di bimbing wahyu dalam kehidupannya, tetapi juga karena dalam setiap tindakannya ia selalu menjadi orang pertama yang memperjuangkan liberalisasi dan menegakkan keadilan. Dalam hal ini, ia bukan hanya seorang pemikir saja akan tetapi ia ikut terjun di tengah umat.
Sikap inilah sebetulnya yang harus dijadikan acuan. Umat Islam harus mengambil pelajaran dari tindakan Nabi yang sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan menentang perbudakan. Nabi mengatakan, “Tentang budak-budakmu berilah makan padanya saperti yang kamu makan sendiri, dan berilah pakaian padanya seperti pakaian yang kamu pakai sendiri. Apabila kamu tidak dapat memelihara mereka, atau mereka melakukan kesalahan, lepaskan mereka. Mereka itu hamba Allah seperti kamu juga, dan kamu harus berlaku baik-baik kepada mereka.”
Lalu azas apakah sebetulnya yang menuntun Muhammad hingga gigih memperjuangkan nilai-nilai sosialis-humanis? Dalam bukunya, Tjokro mengemukakan, azas itu tidak lain adalah “sebesar-besarnya keselamatan hendaknya menjadi bahagiannya sebanyak-banyaknya manusia, dan keperluannya seseorang hendaknya bertakluk kepada keperluannya orang banyak”
Melalui buku “Islam dan Sosialisme” itu pulalah, Ketua SI ini menuturkan sebuah tamsil tentang sosialisme Islami. Ia kemudian mengisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai satu kebun bernama Fidak. Setelah Nabi wafat, Fatimah, puterinya, menuntut pengembalian kebun itu kepadanya atas dasar hak-turunan.
Tetapi Khalifah Abu Bakar menolak tuntutan Fatimah, dengan alasan bahwa Nabi Muhammad tidak mempunyai kekayaan dengan hak bagi dirinya sendiri. Karena itu, segala sesuatu yang ditinggalkan Nabi harus menjadi kepunyaan orang banyak. Akhirnya kebun itu menjadi milik orang banyak.
Kritik atas Sosialisme Islam ala Tjokro
“Sosialisme Islam” HOS Tjokroaminoto belum menyentuh essensi al-Quran tentang kaum mustadhafin, hanya kulit luarnya saja, dan seringkali dianggap parsial sehingga tidak tuntas. Lebih dari itu, beberapa fakta yang diketengahkan dalam buku tersebut kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini bisa jadi disebabakan oleh terlalu kerasnya Tjokro dalam memperjuangkan gagasan sosialisme Islam. sementara realitas sosial waktu itu mungkin tidak memberi tempat kepadanya untuk lebih menelaah lebih jauh konsep Quran dan pengalaman sejarah Islam tentang pemberdayan mustadlafin.
Kelemahan lain bisa dilacak dari gagasan sosialisme Islam-nya yang tidak dihubungkan dengan surat al-Humazah: (l) “Celakalah (azablah) untuk tiap-tiap pengumpat dan pencela (2) Yang menumpuk harta benda dan menghitung-hitungnya”. Demikian juga sosialisme Islam ala Tjokro tidak dihubungkan dengan surat al-Qashash: 5: “Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhu’afa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi”.
Intelektual Dawan Rahardjo bisa memaklumi kelemahan-kelemahan gagasan Tjokro, mengingat tokoh utama SI yang dikenal berperilaku shaleh ini belum mempelajari Islam secara mendalam. Menurut Dawam, buku “Islam dan Sosialisme” hanyalah merupakan kajian awal. Tujuan Tjokro sendiri ketika menggagas sosialisme Islam di samping untuk menguak sosialisme Islam juga untuk menandingi ideologi sosialisme yang terlanjur mendapat tempat di hati rakyat.
Secara umum, Dawam menganggap gagasan sosialisme Islam memang sulit dikembangkan termasuk gagasan Tjokroaminoto sendiri. “Kesulitan untuk berbicara apalagi mengembangkan teori sosialis, sekalipun berdasarkan Islam, adalah kenyataan bahwa gerakan politik, organisasi sosial dan kegiatan dakwah Islam di Indonesia, dari segi finansial, didukung oleh pengusaha dan pedagang yang beraspirasi ingin bisa meningkatkan skala ekonomi mereka. Dalam proses peningkatan itu mereka mengharapkan perangsang-perangsang moneter, fiskal dan institusional dalam kerangka sistem kapitalis yang berlaku,” demikian tulis Dawam.
Upaya merealisasikan gagasan sosialisme Islam ala Tjokro semakin sulit mengingat kondisi politik yang berkembang pada dekade tahun 1930-an mengalami perubahan. “Dalam dasawarsa 1930-an,” kata Dawam Rahardjo, “pergerakan tidak berbicara lagi mengenai sosialisme. Buku Tjokro gagal mengajak golongan terpelajar muslim, baik yang bergabung dalam Jong Islamisten Bond, maupun Studenten Islam Studieclub yang berdiri pada tahun 1936 untuk menggali ajaran sosial Islam dalam kerangka sosialisme.”
Kalau di tingkat realisasi gagasan, Tjokro kurang berhasil maka begitu pula dalam menjalankan kepemimpinan dalam tubuh SI. Menurut Dawam, Tjokro terlalu menekankan persatuan dan ingin menjadi pemimpin yang bisa berdiri di atas semua golongan. Tapi akibat sikapnya ini, Tjokro tidak berani menyingkirkan kubu komunis dalam SI.
Baru ketika Tjokro berada dalam tahanan, karena peristiwa Garut, duet kepimpinan Agus Salim – Abdul Muis, yang menguasai persidangan Kongres Nasional VI SI di Surabaya, berhasil melaksanakan tindakan disiplin partai kepada golongan komunis. Kubu komunis (dikenal dengan sebutan kubu merah) berhasil disingkirkan sekalipun mereka telah mendapat dukungan kuat dari cabang-cabang Semarang, Solo, Salatiga, Sukabumi dan Bandung. (Dawan Rahardjo: Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa, Mizan, Bandung, 1993).
Terlambatkah gagasan sosialisme Islam ini? Pengamat sosial keagamaan, Kuntowijoyo, melalui tulisannya “SI dan Pembaruan Pemikiran Islam” (Kompas, 7/6/95) mengatakan, kalau SI telah mengadakan pembaruan pemikiran dengan menawarkan ideologi sosialisme Islam, lalu dengan konsep apakah umat Islam di abad ke-21 ketika dihadapkan pada dunia industrialisasi?
Problem itu dimunculkan oleh Kuntowijoyo, karena pada awal Abad XX, ketika menghadapi kebangkitan kaum buruh, SI telah menghasilkan pembaruan pemikiran dengan ideologi sosialisme Islam. Waktu itu Islam keluar dari sejarah “alamiah” dan mencoba “merekayasa” sejarah, tetapi rupanya kurang berhasil. Dengan misi sosialisme-nya, SI memang punya komitmen kuat untuk memperjuangkan kepentingan “wong cilik” dan kaum buruh.
Tapi peran SI dalam memperjuangkan misinya dianggap too late and too little. SI kalah duluan dari marxisme dan kurang memuaskan kaum buruh yang sudah kehilangan kepercayaan pada kebaikan hati perseorangan. Yang mereka kehendaki adalah “kebaikan hati kolektif.”
Terlepas dari keterlambatan SI dalam mengambil peran itu, yang jelas dalam pandangan Kuntowijoyo, problem yang dihadapi umat Islam dewasa ini berbeda dengan yang dihadapi SI. Karena itu, pembaharuan pemikiran tidak lagi berkutat pada kerangka ideologis. Menghadapai abad XXI, pola berpikir ideologis harus diganti dengan pola berpikir ilmu. Solusi ini masih mengundang tanda tanya; benarkah akan demikian?
Kesimpulan
Berpijak pada analisa Dawam Rahardjo bahwa kesulitan dalam mengembangkan teori sosialis, karena yang mendukung gerakan politik, organisasi sosial dan kegiatan dakwah adalah pengusaha dan pedagang yang kapitalis, maka bisa dipahami jika hingga kini belum ada tokoh yang memunculkan partai sosialis yang berdasarkan Islam.
Jadi, sekali lagi, belum adanya tokoh Islam yang memunculkan partai sosialis berdasarkan Islam adalah karena ideologi yang akan memberikan dukungan finansial padanya nanti, bukan dari yang berideologi sosialis Islam, melainkan dari yang berideologi kapitalis. Disinilah tidak tepatnya Kuntowijoyo yang menyimpulkan perjuangan ideologi, dianggapnya sudah berakhir memasuki abad ke-21. buktinya pertarungan atas nama ideologi masih kental dalam kehidupan politik dan ekonomi.
Sosialisme islam menjadi jiwa perjuangan politik di kawasan timur tengah ...Bersambung.
Sumber: Muslim Net
Sosialisme islam menjadi jiwa perjuangan politik di kawasan timur tengah ...Bersambung.
Sumber: Muslim Net
Langganan:
Postingan (Atom)

