Minggu, 13 Juli 2014

Membangun sepakbola Jerman

Deutchland, Deutschland uber alles, uber
alles in der welt
Jerman di atas segalanya, segala yang
ada di dunia.

Demikian baris pertama dan kedua dalam bait pembuka lagu kebangsaan Jerman,
"Das Lied der Deutschen".
Dahulu, syair tersebut digubah untuk menggugah nasionalisme guna
menyatukan suku-suku yang ada di Jerman. Tapi, syair tersebut sempat juga
disalahartikan oleh Hitler untuk menghalalkan ekspansi-ekspansi yang
dipimpinnya. Maka setelah Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, bait pertama
dan kedua pada lagu tersebut memang tak lagi dicantumkan dalam national
anthem Jerman.
Tapi makna bait itu tak mudah dihilangkan. Bahkan, masih saja terpancang dalam-
dalam di benak insan sepakbola Jerman. Tak heran jika mereka lalu terbiasa untuk
selalu di atas segalanya, dan risih jika prestasi timnas terpuruk. Maka
terjerembab dalam kemerotosan pun tak boleh dilakukan terlalu lama. Mesti
bergerak cepat untuk melakukan perubahan besar-besaran pada
timnasnya.


Harapannya jelas, ingin mengembalikan kegemilangan Jerman dalam urusan
sepakbola dunia. Uber alles mesti nyata dengan cara yang lebih anggun.
Belajar dari Bencana Euro 2000 Pada dua edisi sebelumnya, saya telah
membahas tentang pola-pola pengembangan usia dini di Inggris. Akan
tetapi, tak bijak rasanya jika tak membahas pola pembinaan di Jerman,
patron pola pembinaan usia dini Inggris.
Pada awal 2000-an, Jerman jelas jauh tertinggal dengan Belanda dan Prancis
dalam hal pembinaan. Mereka yang selalu mengandalkan pemain berumur, harus
rela berada di dasar klasemen grup A pada Euro 2000. Saat itu, Jerman hanya
meraih satu poin, dan mengantongi satu gol saat pulang dari Belgia-Belanda.
Sungguh bencana besar untuk ukuran timnas yang sudah tiga kali juara dunia.
Di lain pihak, Inggris, musuh bebuyutan Jerman juga tak lolos dari fase grup.
Namun Inggris jelas tampil lebih baik. The Three Lion mengantongi tiga angka saat
pulang ke London. Hasil dari mengalahkan Jerman di fase grup.
Peristiwa itu tentunya membuat Jerman malu bukan kepalang. Tak hanya para
punggawa Der Panser, tapi juga rakyat Jerman.
Lantaran bencana tersebut, Jerman lalu bergegas. Mereka merespon kejadian itu
dengan mendata dan mengumpulkan talenta muda mereka, yang belum
tercemar oleh kegagalan. Hasilnya, 14.000 pemuda berusia 11-14 berhasil
mereka kumpulkan. Nantinya mereka yang terpilih akan mendapatkan pelatihan
dari DFB (PSSI-nya Jerman).
Langkah tersebut dilakukan sebagai sebuah aksi preventif. Mereka
beranggapan bahwa bencana yang terjadi pada Euro 2000 adalah dampak
dari minimnya stok pemain berkualitas yang ada di Jerman.
Apa yang terjadi di Euro Belgia-Belanda merupakan sebuah efek domino dari tim-
tim Bundesliga yang biasanya berperilaku pragmatis. Kala itu mereka asik mengimpor
pemain asing yang sudah matang, dan enggan menggunakan talenta muda lokal.
Para pelatih enggan berjudi untuk memainkan pemain muda hasil binaan
DFB.
Untuk meminimalisir hal tersebut, DFB lalu merombak pola pembinaan mereka. Dana
20 juta Euro dianggarkan untuk menuntaskan program tersebut dengan
total 366 pusat latihan di bangun untuk para pemain muda.
Jerman memang sangat serius kala itu. Semua yang dibutuhkan para penerus
timnas mereka akan disiapkan. Namun uang 20 juta Euro jelas bukan uang yang
sedikit. Tak mungkin juga dapat dipenuhi pemerintah Jerman dalam sekejap.
Akan tetapi masalah tersebut dapat diakali DFB. Fasilitas tim-tim Bundesliga, yang
terkenal canggih, bisa maksimalkan.
Caranya? Tim-tim Bundesliga diwajibkan berperan aktif dalam program ini. Alhasil,
DFB tak perlu menghutang kanan-kiri untuk menuntaskan program tersebut.
Stabilitas ekonomi Jerman aman. Program pembinaan tetap bisa jalan.
Jika pada awal-awal program Jerman hanya mengalokasikan dana sebesar 20
juta Euro, pada tahun berikutnya Jerman langsung menaikkan anggaran tersebut
menjadi 47,85 juta Euro. Dan terus naik
setiap tahunnya.
Besarnya anggaran tersebut mencerminkan bahwa tiap tahun
Jerman selalu melakukan perbaikan dalam pembinaan usia muda mereka.
Semua urusan pembinaan pun selalu mendapat perhatian lebih dan semua
fasilitas penunjang latihan selalu mendapat pembaharuan.
Ya, Jerman sadar benar bahwa pembinaan usia dini adalah sebuah
investasi jangka panjang. Karenanya, mereka tak pernah ragu untuk
menggelontorkan dana besar untuk memupuk talenta muda. Hal ini bisa kita
lihat dari besarnya biaya yang dikeluarkan tiap klub untuk membangun akademi
sepakbolanya.
Bukankah, besarnya anggaran itupun mencerminkan betapa seriusnya Jerman
dalam membina pemain muda? Benar, Jerman ingin sesegara mungkin
mengembalikan predikat uber alles pada tim sepakbola mereka.

Pembinaan Adalah Investasi

Dulu, permasalahan Jerman terletak pada stok pemain berkualitas dan juga minimnya
minutesplay para pemain muda. Kebanyakan klub Bundesliga memilih
untuk mengimport pemain asing yang sudah matang dan berpengalaman.
Pelatih mengangap para pemain muda belum siap betul untuk mengarungi
ketatnya Bundesliga. Itulah asal muasal lahirnya bencana bagi Jerman di Belgia-
Belanda.
Namun, hal itu tak mungkin terjadi lagi kini. Jerman, yang sudah jor-joran dalam
menggelontorkan uang guna pembinaan usia dini, kini disesaki talenta muda. Tak
hanya berkiprah di negaranya, banyak dari mereka juga telah melanglang buana
di berbagai negara Eropa. Pemain Jerman yang dahulu tak bisa mentas di
pentas tertinggi, kini mereka banjir akan puja-puji.
Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Franz Beckenbaeur, pesepakbola Jerman
memang tak mampu menjadi pemain yang brilian macam pemain Brazil ataupun
Prancis. Tapi, para pesepakbola Jerman bisa menjadi pemain yang sesuai dengan
karakteristik orang Jerman: orang yang gemar bekerja dengan keras. Dan seperti
itu pulalah program pembinaan usia dini di Jerman. Disusun atas karakter bangsa
mereka.
Namun, tak sekedar menggelontorkan uang, Jerman melakukan hal yang lebih.
Mereka sadar bahwa membangun sarana dan prasarana tanpa adanya pelatih tentu
akan menjadi omong kosong. Maka dari itu, untuk menanamkan filosofi
sepakbola yang sesuai karakter Jerman, DFB menugaskan pelatih-pelatih
profesional untuk menjadi "dosen terbang".
Mereka yang ditunjuk oleh DFB, diwajibkan untuk memberikan materi
tambahan bagi para pemain muda, minimal 2 jam dalam setiap minggunya.
Hasilnya? Lihat saja Mesut Ozil, Thomas Muller, Marco Reus ataupun Sami Kheidira
yang tetap padu saat membela Nationalmannschaft, walaupun bermain di
klub-klub yang berbeda. Mereka sudah saling tahu sama tahu. Sebab, mereka
juga dididik oleh guru yang sama kendati berlatih di klub yang berbeda-beda.
Di sisi lain, untuk menjaga dan meningkatkan peforma para pemian muda, Jerman juga
 menempatkan dokter,fisioterapis, dan pelatih fisik kelas wahid di
akademi yang mereka miliki. Selain itu, data para pemain –baik data medis,
karakteristik personal, analisa peforma,atau hasil tes medis– semua disimpan
dalam suatu server tersendiri. Dan hanya staf pelatih saja yang dapat mengakses
data terebut.
Artinya, jika semua data terkumpul dalam satu server, dan para pelatih dapat
menggunakan data tersebut, tentu hal tersebut akan menciptakan ruang diskusi
tersendiri bagi para pelatih. Mereka akan saling memberi masukan untuk
menentukan masa depan anak didiknya.
Yang tak berkembang saat masa karantina, jelas langsung dicoret. Tingginya standar
pembinaan usia dini di Jerman ini dilakukan untuk memastikan
bahwa jebolan akademi mereka benar- benar berkualitas dan siap untuk
berkompetisi di level selanjutnya. Pun tingginya standar quality control tersebut
sekaligus menjadi tolak ukur bahwa pembinaan usia dini di Jerman
memberikan hasil positif dan tidak berjalan stagnan.

Karenanya, jangan heran jika setiap tahun selalu ada peningkatan standar
kompetensi pembinaan di Jerman.
"Saya optimis akan ada peningkatan kualitas yang signifikan pada akademi.
Yang terpenting dalam hal ini adalah kerjasama dari komite, wakil-wakil
akademi, dan juga DFB. Mereka semua harus mempunyai komitmen untuk
mengembangkan pembinaan usia muda," ujar Andreas Rettig, Chairman of the
Academies Committee.
Penyataan tersebut memang bukan bualan belaka. Laksana mata air, pemain
muda Jerman terus lahir tak henti- hentinya. Kritik atas becana Euro 2000
perlahan menemukan jawaban.
Bundesliga yang dulunya disesaki oleh pemain asing, perlahan mulai dipenuhi
oleh banyak pemain muda. Pada tahun 2011 saja, 275 dari 525
pemain yang bermain di Bundesliga 1 ataupun 2, adalah jebolan akademi. Ini
berarti 52,4% pemain Bundesliga adalah hasil didikan 36 akademi klub yang ada.
Dan hari ini, jumlahnya sudah pasti terus bertambah.
Tren menggunakan pemain tua sarat pengalaman pun lambat laun mulai luntur
di Jerman. Klub-klub yang berlaga di Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 lebih
memilih untuk menggunakan pemain binaan mereka sendiri. Hal inilah yang
menjadikan rataan usia pemain di Bundesliga tiap tahun mengalami
penurunan.
Tak heran rasanya, mengapa dalam dua edisi Piala Dunia Joachim Low lebih
memilih untuk menggunakan banyak pemain muda hasil binaan. Tentu pemain
tua juga masih sangat dibutuhkan oleh Nationalelf, terutama sebagai panutan
untuk mereka yang masih muda. Namun perannya sedikit banyak mulai digantikan
oleh mereka yang muda.
Pada Piala Dunia 2006 dan 2010 Jerman memang hanya sampai pada fase
semifinal. Namun, pada Piala Dunia Brasil,mereka yang berlaga pada edisi
sebelumnya sudah mencapai usia matang. Menambahkan emblem bintang satu lagi
di dada dan merayakan pesta di Brazilia bukanlah hal yang mustahil bagi Jerman.

Ya, inilah sepakbolanya orang Jerman.Sepakbola orang yang selalu ingin
menempatlan Jerman jadi negara di atas segalanya. mereka jadi kampiun di Brazil
setelah mengalahkan Argentina


Sumber : www.panditfootball.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar