Senin, 19 November 2012

Tuntutan UMK 2013 : 2 juta, apakah ngawur?



suarasurabaya.net - Nilai Upah Minimum (UMK) yang ideal untuk lima Kabupaten/Kota industri utama di Jawa Timur (Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan) adalah sekitar Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta.
     Ini analisis Kresnayana Yahya pakar statistik dan ekonomi dari ITS. Saat dihubungi suarasurabaya.net tadi, Kresnayana Yahya mengatakan angka ideal itu berdasarkan parameter UMP DKI Jakarta yang sudah ditetapkan Rp2,2 juta, indeks kesenjangan ekonomi Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, dan inflasi.

     Dari indeks Gini yang mengukur kesenjangan pendapatan penduduk, Indonesia saat ini sudah masuk kategori mengkhawatirkan, yakni 0,41. Padahal di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, indeks ini mencatat angka 0,33. Artinya, ada 41% populasi penduduk yang pendapatannya sangat jauh tertinggal dibandingkan 69% populasi penduduk sisanya.

     Kesenjangan yang besar itu, kata Kresnayana, tidak menguntungkan siapapun, termasuk juga pengusaha. Dengan daya beli yang rendah, produk-produk dalam negeri akan sulit diserap pasar domestik. Penjualan pun bisa stagnan dan mengancam pendapatan perusahaan. Jika ini terjadi, tentunya bakal mengganggu proses produksi.
     Kenyataannya sekarang, lanjut Kresnayana, industri di Jawa Timur sedang menikmati pertumbuhan yang cukup signifikan. Margin yang diterima pengusaha pun otomatis jadi makin lebar, dengan labour cost yang makin kecil. "Rata-rata labour cost di industri Jawa Timur sekitar 10%. Semakin besar pertumbuhan produksinya, tentu labour cost makin kecil," kata dia.

     Jadi, imbuh Kresnayana, tidak logis jika pengusaha berdalih usaha mereka bisa collapse jika UMK dinaikkan. "Pengusaha harus lebih kreatif agar bisa lebih efisien dengan kenaikan UMK. Tapi secara makro, dengan peningkatan UMK yang meningkatkan pertumbuhan industri karena naiknya daya beli, maka peningkatan sales secara moderat saya prediksi bisa mencapai sekitar 25% hingga 35%. Jadi artinya, pengusaha tetap bisa untung," ujarnya.

     Juga dengan ancaman capital flight. Kresnayana Yahya menilai upah di Jawa Timur masih sangat kompetitif dibandingkan dengan di China dan Malaysia. "Upah minimum di China 3 kali lipat lebih tinggi daripada di Jawa Timur, di Singapura sudah 6 kali lipat. Jadi kalau mau pindahkan industri, ya tidak semudah itu," kata dia.

Apalagi sektor makanan dan minuman di Jawa Timur yang menurut Kresnayana sekarang sedang menikmati margin keuntungan sangat besar, masih sangat mampu membayar UMK dengan nilai bahkan sampai Rp1,8 juta.

"UMK ini kan berlaku pada pekerja dengan masa kerja o tahun dan lajang dan kebijakan ini hanya dirasakan oleh 13% hingga 14% saja dari angkatan kerja di Jawa Timur yang jumlah keseluruhan sekitar 14 juta orang," jelasnya.

Tuntutan UMK Rp2,2 juta untuk daerah industri utama di Jawa Timur menurut Kresnayana Yahya masih terlalu tinggi. "Ya tidak bisa disamakan UMK di DKI Jakarta dengan di Jawa Timur. Biaya hidup di Jakarta tentu lebih tinggi," katanya. Namun dengan besaran UMK 1,8-1,9 juta plus tunjangan-tunjangan maka UMK di Jatim bisa mencapai nilai 2 juta. Apakah ini tuntutan ngawur ? tentu tidak. coba tengok aliran uang yang dinikmati para pengusaha dari bank-bank di Jatim TRILYUNAN !. Pertanyaannya ada tidak PENGUSAHA yang tidak berhutang? Semua Pengusaha hidupnya ditunjang oleh BANK
     Mereka bisa pinjam duit dan memutarnya sekehendak mereka. Dan seharusnya mereka tidak terlalu serakah menikmati berkah pertumbuhan EKONOMI tahun ini. Sebagian laba yang dinikmati pengusaha atau pemodal janganlah terlalu dipelitkan untuk kemakmuran pekerjanya.
     coba cermati tulisan di bawah ini.

REALISASI KREDIT Bank Umum Jatim Tumbuh 24,49%

Oleh: Achmad Aris - 31 October 2012 | 4:28 pm
SURABAYA–Penyaluran kredit bank umum di wilayah Jawa Timur per kuartal III/2012 tercatat mencapai Rp223,51 triliun, tumbuh 24,49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp179,54 triliun.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim per September 2012, porsi penyaluran kredit terbesar masih didominasi oleh bank pemerintah yang mencapai Rp116,17 triliun atau 52% dari total penyaluran kredit.
Sementara itu, porsi penyaluran kredit bank swasta mencapai Rp94,18 triliun dan bank asing sebesar Rp13,16 triliun.
Namun demikian dari sisi pertumbuhan, bank asing membukukan pertumbuhan penyaluran kredit terbesar yang mencapai 38,44% dibandingkan dengan pertumbuhan bank pemerintah dan bank swasta yang masing-masing hanya 19,04% dan 29,44%.
Adapun angka non performing loan (NPL) yang dicatatkan pada periode tersebut adalah 2,64% atau turun dari periode yang sama 2011 sebesar 3,47%. NPL tertinggi dicatatkan oleh bank pemerintah yaitu 3,37%, lalu bank asing sebesar 3,05%, dan NPL bank swasta sebesar 1,69%.
Deputi Pemimpin Bank Indonesia Surabaya Bidang Pengawasan Perbankan Sarwanto mengatakan pertumbuhan penyaluran kredit pada kisaran 20% tersebut masih sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia. “Apalagi penyaluran kreditnya masih didominasi untuk modal kerja sehingga bagus untuk perekonomian karena digunakan untuk kegiatan produktif,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (31/10).
Hingga akhir tahun ini, dia memerkirakan pertumbuhan kredit di Jawa Timur akan terjaga dalam kisaran 20%-26%. “Pertumbuhan kredit kan harus sesuai dengan pertumbuhan ekonomi, jangan sampai pertumbuhan kredit yang terlalu tinggi bikin ekonomi panas,” jelasnya.
Pada periode sembilan bulan pertama tersebut, kredit modal kerja di Jawa Timur tercatat mencapai Rp129,66 triliun atau tumbuh 21,79% dibandingkan dengan periode yang sama 2011 sebesar Rp106,46 triliun. Sementara itu kredit investasi tercatat sebesar Rp31,21 triliun atau tumbuh 35,59% sedangkan kredit konsumsi tercatat sebesar Rp62,64 triliun atau 25,12%.
     Secara sektoral, penyaluran kredit di Jatim masih didominasi oleh sektor unggulan seperti industri pengolahan sebesar Rp62,68 triliun, perdagangan besar dan eceran sebesar Rp51,57 triliun, konstruksi sebesar Rp8,1 triliun, dan transportasi, pergudangan, dan komunikasi sebesar Rp8 triliun.
Dari sisi aset, total aset bank umum pada periode tersebut mencapai Rp342,66 triliun atau tumbuh 22,05% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp280,75 triliun. Jumlah aset terbesar diduduki oleh bank swasta sebesar Rp165,5 triliun, disusul oleh bank pemerintah dengan total aset Rp157,43 triliun, dan bank swasta dengan total asing Rp19,74 triliun.
     Sementara itu total penghimpunan dana bank umum per September 2012 mencapai Rp273,66 triliun, naik 17,94% dibandingkan dengan periode yang sama 2011 sebesar Rp232,03 triliun. Bank swasta membukukan perolehan dana terbesar yaitu Rp143,03 triliun, disusul bank pemerintah Rp115,06 triliun, dan bank asing Rp15,58 triliun.
Lebih rendahnya pertumbuhan penghimpunan dibandingkan dengan pertumbuhan kredit tersebut menyebabkan loan to deposit ratio (LDR) bank umum di Jatim tercatat sebesar 81,67% yang mana LDR tertinggi dicatatkan oleh bank pemerintah yang mencapai 100,96%, lalu bank asing sebesar 84,49%, dan bank swasta sebesar Rp65,85%.
     Beberapa Perusahaan tercatat mengalami keuntungan usaha yang signifikan seperti yang dilaporkan oleh bursa efek. Emiten barang konsumsi mencetak pertumbuhan laba bersih dengan rerata mencapai 14,6% menjadi Rp48,13 triliun per September 2012, dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp41,99 triliun.
     Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 11 dari 16 produsen makanan dan minuman yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengantongi pendapatan mencapai Rp60,94 triliun, melonjak 12,9% dari pendapatan Januari-September 2011 sebesar Rp53,97 triliun.
Meski secara nominal terhitung rendah, PT Tri Banyan Tirta Tbk menduduki peringkat pertama pertumbuhan laba bersih tertinggi mencapai 17 kali lipat yakni dari Rp588,75 juta menjadi Rp11,08 miliar.
     Dengan pendapatan sebesar Rp175,91 miliar atau naik hampir dua kali lipat dari Rp89,73 miliar, emiten berkode saham ALTO ini juga mengalami peningkatan beban pokok penjualan sebanyak 83,7% dari Rp77,37 miliar menjadi Rp142,19 miliar.

Produsen air mineral PT Akasha Wira International  (Ades) menempati urutan kedua dengan perolehan laba bersih Rp64,48 miliar, naik 508% dari laba periode yang sama tahun sebelumnya Rp10,6 miliar.

Kenaikan laba bersih terjadi seiring pertumbuhan penjualan dari Rp230,96 miliar menjadi Rp354,75 miliar per September 2012. Adapun, beban pokok penjualan tercatat naik menjadi Rp152,83 miliar dari nominal sebelumnya Rp145,78 miliar.

Perusahaan makanan ringan asal Sidoarjo, Jawa Timur, PT Siantar Top Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp59,52 miliar atau melonjak 107% dari raihan periode yang sama 2011 yang hanya Rp28,63 miliar.
     Adapun, pendapatan perusahaan yang berekspansi ke Medan ini mencapai Rp916,16 miliar, tumbuh 20,5% dari perolehan sembilan bulan pertama 2011 senilai Rp760,13 miliar. secara rinci, terdiri dari penjualan lokal Rp906,79 miliar dan ekspor Rp24,90 miliar.

“Masing-masing penjualan naik, pada periode yang sama 2011 penjualan lokal Rp762,03 miliar dan ekspor hanya Rp12,93 miliar. Beban pokok penjualan Rp733,87 miliar, naik dari Rp637,79 miliar,” ungkap manajemen Siantar Top dalam laporan keuangannya.

     Dengan kondisi perkreditan yang liquid dan performa laba perusahaan yang bagus untuk saat ini semestinya kenaikan UMK 30 % hingga 44% menjadi keniscayaan. Coba kita tengok pada era Presiden Gus Dur UMK naik hingga 30%, padahal saat itu negara ini lagi krisis-krisisnya. Beberapa Perusahaan melakukan off produksi seminggu bisa tiga kali bahkan sampai berminggu-minggu. Beberapa sempat kolaps tapi bisa bangkit lagi.
     Alhamdulillah berkat rahmat Alloh SWT, ekonomi Indonesia dapat melewati krisis dan bisa tumbuh lagi menjadi Macan Asia.

Sumber: SuaraSurabaya.Net, BisnisIndonesia.com, BisnisJatim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar