Minggu, 27 September 2015

Pengusaha Makanan dan Minuman Anggap Kondisi Ekonomi Sudah "Lampu Kuning"

Pengusaha industri makanan dan minuman yang tergabung dalam
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi)
menganggap, situasi ekonomi saat ini sudah "lampu kuning".
"Berdasarkan survei, ketergantungan kita terhadap dollar ini sangat berat
sekali. Kita tahu secara praktis (rupiah) sudah mencapai Rp 15.000.
Ini sudah 'lampu kuning' untuk kita," ujar Ketua Umum Gapmmi
Adhi Lukman di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM), Jakarta, Jumat (25/9/2015).


Dia meminta agar pemerintah bisa melakukan terobosan sehingga nilai
tukar rupiah tidak terus melemah. Meski mata uang negara lain juga
ikut melemah terhadap dollar,kondisi rupiah saat ini sudah sangat
memberatkan pengusaha.
"Bahan baku kita masih banyak yang impor, ini jadi masalah. Bukan kita
senang impor, tetapi karena keterpaksaan karena enggak ada di
dalam negeri, dari mutu dan ketersediaan jumlahnya," kata dia.
Di tengah kondisi itu, pengusaha bimbang mengambil keputusan
menaikkan harga produk. Pasalnya, daya beli masyakarat saat ini begitu
lemah sehingga produk tersebut dikhawatirkan tak laku.
"Jadi, perusahaan mengefisienkan diri, juga menjaga margin. Kita
melihat beberapa perusahaan sudah teriak karena bottom line sudah
mulai tergerus. Ini yang harus hati- hati," ucap dia.
Sebelumnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri
makanan dan minuman sudah mulai terjadi karena pelemahan rupiah.
Namun, skalanya belum besar seperti yang dikabarkan.

Penulis: Yoga Sukmana

sumber : www.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar